Momentum Penurunan Suku Bunga

Oleh : Prof. Firmanzah Ph.D

Guru Besar Fakultas Ekonomi UI

Beberapa waktu lalu, Bank Indonesia (BI) menurunkan bunga acuan BI Rate sebesar 50 basis poin dari 6,5% menjadi 6%. Kebijakan ini didasarkan antara lain pada tren inflasi yang terkendali dan sekaligus juga mendorong sektor riil bergerak lebih cepat. Kebijakan BI ini hanya bisa efektif apabila industri perbankan nasional juga mengikuti penurunan bunga kredit. Mengaitkan dan mengarahkan antara sektor moneter dengan sektor riil merupakan tantangan yang harus segera dilakukan agar kebijakan penurunan suku bunga acuan itu menjadi lebih optimal bagi perekonomian nasional di masa mendatang.

Pada September 2011, BI mengumumkan terjadi peningkatan pertumbuhan kredit melampui target yang ditetapkan semula. Penyaluran kredit perbankan untuk membiayai kegitan perekonomian tumbuh sebesar 25,3% (yoy) hingga akhir September 2011. Pertumbuhan kredit perbankan nasional dikontribusikan oleh pertumbuhan kredit investasi sebesar 31,1% (yoy), kredit modal kerja sebesar 24% (yoy) dan kredit konsumsi 23,8% (yoy). Kisaran pertumbuhan ini membuat pertumbuhan kredit di Indonesia di kawasan ASEAN meski proporsi antara rasio kredit/PDP masih tergolong rendah.

Di tengah ketidakpastian akan penyelesaian krisis ekonomi dan finansial di Eropa dan Amerika Serikat, penurunan suku bunga diharapkan mampu memberikan angin segar bagi sektor riil di Indonesia. Terlebih lagi rencana MP3EI yang telah dicanangkan membutuhkan pembiayaan yang tidak kecil.

Selain itu juga, agar sejumlah proyek infrastruktur dalam MP3EI memiliki efek-pengganda (multiplier-effect) untuk menggerakkan ekonomi maka hal tersebut perlu didukung rendahnya biaya modal dan kredit usaha. Menurunnya suku bunga kredit tidak hanya mendukung MP3EI secara langsung tetapi juga membantu menumbuhkembangkan “ekosistem-usaha” pasca pembangunan selesai.

Kita mengharapkan turunnya suku bunga kredit tidak hanya memperbesar dan memperluas kredit konsumsi dalam negeri saja, tetapi yang lebih penting lagi adalah kredit investasi dan kredit modal kerja dapat tumbuh lebih cepat di tahun 2012. Meski dalam jangka-pendek (short-term), perekonomian Indonesia diuntungkan dengan besarnya konsumsi domestik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi ketika hal tersebut tidak diiringi dengan investasi maka yang terjadi adalah menggelembungnya impor nasional. Laju kenaikan konsumsi tidak diimbangi dengan laju produksi nasional.

Kebijakan pemberian kredit sektoral juga perlu mendapatkan perhatian oleh otoritas bank sentral. Dihadapkan pada potensi kerawanan produksi dan pasokan pangan dunia serta laju pertumbuhan penduduk nasional membuat isu ketahanan pangan nasional menjadi prioritas. Momentum penurunan suku bunga ini juga perlu diarahkan pada penciptaan skema khusus untuk kredit di sektor pertanian. Para petani dan semua aktor yang terlibat proses produksi pangan perlu didukung oleh skema pembiayaan dan permodalan agar produksi pangan nasional dapat diperbesar.

Related posts