Pemerintah Terus Pantau Fluktuasi Harga Minyak

NERACA

Jakarta - Harga minyak mentah dunia pada tahun depan diperkirakan pada level US$100 per barel. Pemerintah terus meningkatkan kewaspadaan seiring dengan perkembangan harga minyak mentah di pasar internasional. Karena perlu diantisipasi terkait asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), maka akan disesuaikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2012. “Jika nanti terlalu jauh dengan asumsi APBN, kita akan sesuaikan,” kata Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo kepada wartawan di Jakarta,4/12

Saat ini, asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) dalam APBN-P 2011 sebesar US$95 per barel dan dalam APBN 2012 sebesar US$90 per barel. Sementara itu, Tim Harga Minyak Indonesia mengumumkan harga rata-rata ICP selama November 2011 mencapai US$112,94 per barel, atau naik US$3,69 per barel dari posisi Oktober 2011 sebesar US$109,25 per barel. Sementara itu harga rata-rata ICP selama Januari hingga November 2011 sudah mencapai US$111 per barel.

Sementara itu, Energy Information Agency (EIA) dalam situs resminya melaporkan pada bulan November 2011 diperkirakan konsumsi minyak mentah dunia tahun ini mengalami peningkatan sebesar 1,1 juta barel per hari akibat peningkatan konsumsi minyak China dan negara-negara berkembang lainnya.

Selain itu, suplai minyak mentah global yang menurun karena tidak optimalnya produksi non-OPEC serta kekhawatiran pelaku pasar akan turunnya pasokan dari kawasan Timur Tengah akibat isu nuklir Iran dan pergolakan politik di Mesir dan Syria.

Faktor lainnya adalah semakin membaiknya ekonomi AS, diindikasikan dari menurunnya pengangguran dan meningkatnya konsumsi serta meredanya kekhawatiran pasar atas krisis finansial Zona Eropa setelah upaya penurunan suku bunga oleh bank sentral Eropa.

Penyediaan Energi Dunia

Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Maria Van der Hoeven pada kunjungannya ke King Abdullah Petroleum Studies and Research Center (KAPSARC) 2011 Energy Dialogue di Riyadh beberapa waktu lalu, menyatakan penyediaan energi dunia harus dilakukan secara berkelanjutan, guna mengantisipasi bertambahnya permintaan global. "Untuk mengantisipasi naiknya permintaan energi di tahun mendatang, terutama dari Cina, India dan Timur Tengah, penting untuk memastikan bahwa bertambahnya permintaan tidak beresiko pada keamanan energi global," ujar Van der Hoeven.

Van der Hoeven menekankan perlunya lebih banyak penyediaan energi secara berkelanjutan guna mengantisipasi bertambahnya permintaan global. “Hal ini memiliki implikasi penting bagi evolusi tata kelola energi internasional. IEA bertekad untuk beradaptasi terhadap perubahan ini dan memperluas kolaborasi internasional sehingga bersama-sama dapat mengatasi tantangan energi global yang kita hadapi,” katanya. **Novi

Related posts