Pemanggilan Bankir Perlu Disertai Sanksi Tegas - UPAYA TURUNKAN SUKU BUNGA PERBANKAN

Jakarta – Rencana Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution memanggil para bankir demi menurunkan sukubunga dinilai hanya sekadar basa-basi, jika tidak disertai dengan sanksi tegas terhadap bankir yang tidak taat kepada bank sentral.

NERACA

Menurut wakil ketua umum Kadin bidang perdagangan, distribusi, dan logistik Natsir Mansyur, pemanggilan bankir oleh Gubernur BI tidak akan berpengaruh banyak. Pasalnya, situasinya tidak memungkinkan. “Perbankan nasional kan mengambil dana dari pihak ketiga, ya kalau beli mahal jual juga mahal, tidak ada yang ingin rugi,” ujarnya kepada Neraca, Kamis (1/12).

Meski demikian, dia tidak setuju jika BI dikatakan tidak serius untuk mengusahakan agar bunga kredit ini turun. Pasalnya, di satu sisi cadangan devisa yang dimiliki BI sangat terbatas sementara penurunan suku bunga dinilai mendesak.

“Bukan tidak serius, BI serius ingin menurunkan suku bunga, tetapi kan ada hal-hal yang perlu dipertimbangkan,” sebutnya.

Saat disinggung soal peran bank-bank BUMN menjadi pionir penurunan suku bunga, Natsir menilai hal itu tidak memungkinkan. Karena tidak semua bank BUMN itu mempunyai cost of fund tinggi. “Bank BUMN juga ada yang mempunyai cost of fund rendah, makanya saya katakan hal tersebut tidak mungkin,” tegasnya.

Salah satunya jalan adalah, dana-dana yang dimiliki BUMN yang diparkir di bank pelaksana itu agar bunganya diturunkan. Dalam hal ini, tentu membutuhkan keberanian menteri BUMN itu sendiri untuk melaksanakannya. “Saat ini ada dana BUMN yang diparkir di bank swasta, dan ini jumlahnya triliunan rupiah,” ujarnya.

Bank Indonesia (BI) akan memanggil para bankir, dan meminta mereka menurunkan suku bunga dasar kredit (SBDK). BI akan meminta bank-bank lebih efisien tanpa menggerus perolehan labanya.

Rencana BI memanggil para bankir terungkap ketika Gubernur BI Darmin Nasution di tengah seminar dengan World Bank (Bank Dunia) yang mengangkat tema Dealing with the Challenges of Macro Financial Linkage in Emerging Market di Bali, Kamis.

"Sebelumnya memang bank itu (Bank Mandiri) akan menurunkan SBDK-nya dalam waktu 2 sampai 3 hari ini sebesar 50 bps. Dalam rangka pengesahan rencana bisnis bank (RBB) 2012 memang kita akan berbicara dengan semua bank. Kami akan panggil dan nanti akan dianalisis memang kami harapkan SBDK bisa dilakukan penyesuaian," ujar Darmin.

BI akan melihat alasan perbankan yang belum menurunkan bunga kreditnya, terutama dari sisi asset liability dan struktur efisiensinya. "Itu kita pelajari dan ingin tunjukkan ke masing-masing bank bahwa harus ada perbaikan. Sebenarnya bukan memaksa tapi kita akan ajak mereka bicara agar efisiensi bisa ditempuh tanpa harus menurunkan profit-nya," jelasnya.

Darmin memberikan apresiasi kepada bank yang sudah berinisiatif menurunkan SBDK-nya. Lebih baik lagi jika nantinya diikuti oleh bank-bank lain.

"Jika ada bank yang berinisatif sendiri sangat baik. Itu akan lebih bagus lagi bank-bank lain juga bisa mengikutinya," pungkasnya.

Per 31 Maret 2011, bank sentral telah memberlakukan kebijakan prime lending rate atau SBDK, perbankan dengan aset Rp 10 triliun ke atas wajib mengumumkan SBDK sehingga bisa dilihat secara bebas oleh masyarakat.

Sebelumnya pada akhir tahun lalu, 14 bank besar termasuk bank BUMN menyatakan kesepakatan untuk menurunkan suku bunga di hadapan pejabat Bank Indonesia. Namun yang terjadi, ke-14 bank besar hanya sepakat menurunkan suku bunga deposito (simpanan), sedangkan suku bunga pinjaman tidak mengalami penurunan yang signifikan hingga saat ini. Suku bunga kredit sekarang umumnya bertengger antara 13% hingga 16% per tahun, sementara suku bunga acuan BI Rate kini tercatat cukup rendah 6%.

Turunkan BOPO

Menurut dosen FEUI Aris Yunanto, rencana Gubernur BI memanggil para bankir, dan meminta mereka menurunkan suku bunga dasar kredit (SBDK) memerlukan suatu kerja keras. BI akan meminta bank-bank lebih efisien tanpa menggerus perolehan labanya.

Menurut Aris, hal ini tidak akan berpengaruh banyak dalam menurunkan suku bunga.

Lebih jauh lagi Aris memaparkan,”saya rasa belum akan berhasil selama kinerja perbankan belum diperbaiki dengan baik dan yang terpenting lagi adalah masalah dari efisensi bank, menurunkan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang kini masih di atas 80%, sehingga sulit sekali suku bunga akan turun. Karena suku bunga akan turun dengan sendirinya bila efisensi bank naik,”ujarnya.

Aris menyarankan BI sebaiknya melakukan terobosan dalam peningkatan kinerja perbankan, sehingga otomatis semakin efisien dan bisa semakin menjalankan fungsi intermediasinya.

Pengamat ekonomi FEUI lainnya, Lana Soelistianingsih, menilai pemanggilan ini sebagai langkah berani BI. Ini langkah positif BI yang harus didukung. Bagaimanapun rencana ini menjadi rangkaian kebijakan penurunan BI Rate sebesar 75 bps. Kalau BI tidak melakukan intervensi, perbankan sulit menurunkan suku bunga dasar kredit karena takut labanya menyusut.

“Bisa jadi pemanggilan ini juga terkait dengan tindakan BI untuk menjelaskan pengaruh dari keadaan krisis global,” katanya. Di saat krisis seperti sekarang, BI memang perlu memberi penjelasan kepada bank-bank untuk mengantisipasi dan mewaspadai pengaruh krisis dunia terhadap sektor keuangan.

Bagaimanapun, menurut dia, penurunan BI Rate bisa berpengaruh positif terhadap NIM (net interest margin) perbankan. “Perbankan kita NIM-nya sangat tinggi bila dibandingkan dengan negara lain. Sementara bunga kredit yang mahal karena empat faktor pembentuk bunga bank tinggi. Di sinilah BI ingin memeriksa faktor-faktor yang memicu bunga bank menjadi tinggi,” katanya. ahmad/ardi/iwan/munib/agus

Related posts