Sinyal Positif IHSG Tembus Level 4.000?

NERACA

Jakarta - Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) melaporkan total dana yang terhimpun (kapitalisasi) dari pasar modal hingga kuartal III-2011 mencapai Rp 172,58 triliun. Secara makro, kondisi pasar dalam negeri pun terbilang bagus. Beberapa faktor yang mendukungnya antara lain politik dan keamanan stabil serta peringkat investasi Indonesia membaik oleh penilaian tiga lembaga pemeringkat internasional.

Menurut Moody’s Investor Rating, peringkat Indonesia meningkat dari Ba2 menjadi Ba1, sedangkan Standard & Poor’s (S&P) telah menaikkan rating dari BB menjadi BB+. Sementara Fitch Ratings tidak mau kalah turut menaikkan peringkat Indonesia dari BB+/stabil menjadi BBB-/positif.

Melihat kondisi ini, para pengamat menyakini hal ini bisa membawa Indonesia ke dalam investment grade paling lambat pada 2012 mendatang. Tetapi sisi lain, mengapa investor asing belum banyak melirik Indonesia, utamanya pasar modal? Padahal, kondisi perekonomian Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS) belum pulih dari krisis keuangan.

Menanggapi permasalahan ini, pengamat pasar modal Budi Frensidy menilai, persoalan pasar Indonesia yang masih belum dilirik investor asing dinilainya tidak bisa dibenarkan begitu saja, justeru sebaliknya. “Jumlahnya memang tak signifikan. Itu kan karena terkendala pada investment grade. Indonesia belum masuk ke situ, jadi bukan karena kurang kampanye,” papar Budi pada Neraca, Kamis (1/12).

Mengenai sinyal positif yang sedang menghinggapi IHSG, Budi menjelaskan, indeks yang beberapa waktu lalu sempat terkoreksi sekarang mulai menemui titik cerah di awal Desember. Oleh sebab itu, tidak ada yang mustahil jika di awal 2012 IHSG berada di kisaran 3.900-4.000. “Tidak ada yang mustahil dan saya optimis target tercapai,” ujarnya.

Keyakinan dosen FEUI ini bukan tanpa sebab, dalam sepuluh tahun terakhir, pada setiap Desember IHSG mempunyai tren positif. “Kita sudah lihat secara empiris. Sudah sepuluh tahun setiap Desember trennya selalu naik,” tambahnya. Dia kemudian memprediksi pergerakan IHSG hari ini akan terus naik ke level 3.800 dan terus merangkak hingga akhir 2011.

Senada dengan Budi. Managing Research Indosurya, Reza Priyambada menuturkan, meski belum bisa parkir di level 3.800, tetapi ini pertanda yang baik bagi pasar modal kita. Pasalnya, dirinya optimis kalau IHSG bisa mencapai posisi 4.000 hingga akhir tahun ini.

Setelah IHSG sempat menyentuh level 3.800 di sesi I, namun kemudian turun kembali di posisi 3.781,10 atau naik 66,02 poin (1,78%) saat penutupan perdagangan kemarin. “Sebenarnya, tahun ini jangan terlalu berharap akan windows dressing (penutupan bursa akhir tahun), karena para analis banyak yang memproyeksikan hal-hal biasa saja dan tidak memasukkan prediksi seperti krisis Uni Eropa dan Amerika,” ujarnya.

Lebih lanjut dia mengungkapkan rasa optimisnya terhadap IHSG ini, salah satunya, karena sektor perbankan sudah menurunkan suku bunga. Namun harus diingat, tambahnya, faktor sentimen global pasti ikut mempengaruhi IHSG. “Rata-rata pemain IHSG kan orang asing. Kalau mereka panik dan menarik dananya di pasar modal, jelas mempengaruhi keadaan,” ungkap Reza.

Dangkal dan Rentan

Sebelumnya, komentar pedas terlontar dari mulut Gubernur Bank Indonesia (BI), Darmin Nasution, yang mengatakan pasar modal di negara berkembang termasuk Indonesia, umumnya dangkal dan rentan terhadap pergerakan harga yang tiba-tiba. Imbasnya, dapat merusak integritas sistem keuangan bank sentral.

Dia melanjutkan, ketika dihadapkan dengan sentimen investor negatif, likuiditas di pasar modal dapat kering secara cepat. Ini menyebabkan penjualan panik (panic selling) dan efeknya menular pada kekacauan dan ketidakstabilan pasar keuangan.

"Seperti terlihat dalam sejumlah krisis yang mempengaruhi ekonomi yang terjadi dalam dua dekade terakhir," tutur Darmin, kala memberikan sambutan di acara ‘BI-World Bank Joint International Conference Dealing With the Challenges of Macro Financial Linkages in Emerging Markets’, di Nusa Dua, Bali, kemarin.

Dengan kata lain, lanjutnya, sistem keuangan negara-negara berkembang cenderung terlalu lemah untuk menyerap arus masuk modal yang signifikan, sehingga kualitas aset menurun dan sektor keuangan pun menjadi rapuh.

Di tempat terpisah, Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar menambahkan jumlah perusahaan publik (emiten) memang perlu ditambah. Terutama emiten yang merupakan badan usaha milik negara (BUMN). Dia melihat jumlah perusahaan terbuka masih memprihatinkan.

Padahal penambahan emiten diperlukan agar mampu menampung derasnya likuiditas dengan tempat yang memadai. "Saat negara-negara maju mengalami perlambatan ekonomi, Indonesia harus berupaya menarik lebih banyak investor, baik di sektor riil maupun pasar modal," kata Mahendra kepada wartawan, beberapa waktu lalu.

Dia berharap aliran dana asing yang masuk (capital inflow) dapat diserap sesuai dengan jumlah dana yang masuk. Dengan target penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) yang hanya 25 emiten pada 2012 mendatang, Mahendra melihat jumlah tersebut masih harus ditingkatkan lagi.

"Arus modal yang masuk bisa diarahkan kepada sektor usaha. IPO atau obligasi untuk menstimulus market, selain juga percepatan pembangunan di sektor infrastruktur hingga ada penciptaan lapangan kerja, perbaikan iklim investasi, dan perbankan," ungkap dia. iwan/ahmad/ardi

Related posts