Ada Sinyal Bank Mulai Turunkan Suku Bunga

NERACA

Jakarta---Kementerian Badan Usaha Milik Negara menilai kondisi makroekonomi Indonesia sedang bagus-bagusnya. Terlihat dari cadangan devisa dan keberanian menurunkan tingkat suku bunga rendah. "Suku bunga Bank Indonesia (BI) tidak pernah serendah ini. Indonesia merupakan satu-satunya negara yang berani menurunkan suku bunga bank di kondisi saat ini," kata Menteri BUMN, Dahlan Iskan kepada wartawan di Jakarta.

Penurunan BI rate sebesar 50 bps ini sejalan dengan inflasi serta untuk mencegah memburuknya ekonomi global. Bank Sentral pun akan terus memitigasi perlambatan ekonomi yang terjadi di Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution mengatakan penurunan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) oleh bank besar, diharapkan dapat memicu perbankan untuk turut serta menurunkan SBDK-nya. Dengan adanya penurunan BI rate ini, diharapkan SBDK perbankan juga dapat diturunkan.

Diakui Darmin, pasca-diturunkannya BI Rate, pihaknya telah melakukan rapat dengan bank-bank lainnya untuk membahas penurunan SBDK.Malah selang beberapa hari, telah datang salah satu bank besar yang datang dan mengatakan akan menurunkan SBDK-nya.

"Ada yang datang dan mengatakan, Pak Darmin, kita mau menurunkan SBDK sebesar 50 bps. Itu bank besar (yang bilang)," ungkapnya.

Namun Mantan Dirjen Pajak ini tak mengungkapkan secara eksplisit bank besar tersebut, namun beberapa hari berselang, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menurunkan tingkat SBDK-nya. Ketika dikonfirmasi, Darmin pun tidak membantahnya.

Lebih jauh, dia mengatakan, meskipun saat ini baru satu bank yang menurunkan tingkat SBDK-nya, namun Darmin yakin perbankan lainnya juga akan ambil bagian dalam penurunan tingkat SBDK. "Kemungkinan nantinya ada yang mengikuti," tukas dia.

Sementara itu, pengamat ekonomi Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan jika BI menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) perbankan, hal ini akan dapat meningkatkan likuiditas bank yang di tahun depan akan lebih ketat. "Tekanan likuiditas (valas) bisa dikendalikan dari dalam negeri dengan BI terus campur tangan di pasar valas dan sekunder sesuai fundamental. Selain itu, BI juga bisa menurunkan setoran giro wajib minimum (GWM) dari bank-bank dan outstanding SBI diturunkan," ujarnya

Bank sentral China, sudah menurunkan GWM bank sebesar 50 bps di level 12 persen. Dengan menurunkan GWM bank, diharapkan perbankan akan lebih memiliki kelonggaran likuiditas. Bank-bank di Indonesia sendiri, kini diwajibkan menyetor GWM ke BI sebesar delapan persen dari dana pihak ketiganya (DPK).

Selain menurunkan GWM, Purbaya menilai, langkah Bank Indonesia untuk terus intervensi di pasar valas adalah langkah yang tepat. Selain itu, policy moneter BI yang memangkas BI rate di level enam persen juga turut mendukung langkah ini. "BI Rate diturunkan di 6% juga salah satu kebijakan moneter BI," lanjutnya.

Karenanya, lanjut Purbaya, proyeksi pertumbuhan Indonesia tahun depan di angka 6,3 persen adalah angka yang paling realistis. "Saya pikir 6,3% (angka pertumbuhan ekonomi) itu realistis, kemarin kalau BI bilang 6,7% itu overestimate," pungkasnya. **cahyo

Related posts