Tantangan Indonesia di Mata ASEAN

Maraknya demo buruh di sejumlah kota di Indonesia setidaknya menjadi pertimbangan investor asing menanamkan modalnya di negeri ini. Padahal, menurut Bank Dunia 2010 produksi domestik bruto (PDB) kawasan ASEAN diperkirakan US$1,8 triliun dengan jumlah penduduk sekitar 543 juta atau pendapatan per kapita US$3.300 lebih. Indonesia yang termasuk di dalam kawasan ini tentu berpeluang menarik di mata investor dari mancanegara.

Kawasan ini termasuk kawasan yang tumbuh pesat di Asia dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 5,23% per tahun. Memang tidak tumbuh secepat China yang rata-rata tumbuh 11,2% atau India yang tumbuh sekitar 8,6%, tetapi pertumbuhan kawasan ini cukup mengesankan dan bersifat jangka panjang. Krisis di Barat yang bersumber pada investasi pasar uang dapat dialirkan kekuatannya di kawasan ini karena modal masih bisa tumbuh dengan meningkatkan produksi di sektor riil. Indonesia juga menjadi incaran investasi portofolio, bukan investasi langsung di sektor riil.

Namun salah satu faktor adalah masalah upah tenaga kerja. Di kawasan ini tentu saja beragam dari yang rendah seperti Vietnam, Indonesia, dan Filipina sampai yang agak tinggi dan cukup tinggi di Thailand, Malaysia, dan Singapura. Struktur upah ini memberi peluang kepada industri yang mungkin berkembang di wilayah ini sesuai dengan produktivitasnya. ASEAN dengan variasinya merupakan wilayah yang secara politis cukup stabil, terutama perlindungan dan pengakuan terhadap modal asing yang secara hukum dilindungi dan secara kontraktual banyak dimanjakan.

Bagaimanapun kawasan ini lebih tepat disebut sebagai kawasan investasi dan diseminasi teknologi asing daripada pengembangan internalnya yang bagaimanapun masih berada di belakang. Hal ini tergambar dari posisi universitas dan lembaga riset di dalamnya dalam percaturan global, demikian pula riset dan pengembangan produk di sektor industri.

Hanya sayangnya, buruh di Indonesia yang memangnya upahnya tergolong rendah ketimbang negara lainnya, seringkali dinilai merepotkan para investor asing. Misalnya tuntutan kenaikan upah yang sering dibarengi demo, tidak diiringi dengan upaya peningkatan kompetensi buruh itu sendiri. Ini akhirnya menimbulkan kesan buruh menuntut upah tinggi, tapi produktivitas dan kompetensinya masih rendah.

Di sisi lain, dengan menjadi anggota G-20, peran Indonesia di kawasan ini cukup menonjol. Ekonomi Indonesia merupakan yang terbesar di kawasan ini dengan PDB US$706,5 miliar dan tenaga kerja yang melimpah. Integrasi kawasan ini menjadi satu teritori ekonomi tentu membawa perubahan dengan lalu lintas modal dan sumber daya manusia. Potensi aliran modal internal ASEAN mengalir dari Singapura, Brunei, dan Malaysia serta aliran tenaga kerja bersumber dari Indonesia, Vietnam, dan Filipina.

Integrasi ekonomi kawasan ini akan mendorong investasi dari kawasan lain seperti Jepang dan Korea serta Amerika Serikat dan Eropa. Daya tarik tersebut memungkinkan limpahan modal dan teknologi dari kawasan lain serta sumber daya manusia yang berlebih membentuk pasarnya sendiri.

Upah dan perolehan atas tanah dan bahan baku dapat dipadukan dengan aliran modal dan teknologi yang mandek di Barat yang akan membentuk pasar baru di kawasan ini. Pasar ini merupakan sumber return atas modal yang kini memutar di sektor nonriil dan yang menyebabkan krisis di negara maju.

Menjadi pasar bukanlah hal yang salah karena pasar juga akan menarik bagi sumber pertumbuhan baru.Tapi menjadi pasar adalah salah jika dibarengi dengan pengangguran tinggi dan terkurasnya sumber daya alam saja. Hal itu benar-benar bermakna mengonsumsi tanpa berpartisipasi atau bermakna mengonsumsi hanya dengan jalan menukar sumber daya alamnya. Jangan negara hanya mengandalkan kesuksesan elit politik dan bisnis tinggi, bukan kesuksesan ketenagakerjaan yang meluas dan merata.

Related posts