Target Pertumbuhan Berkualitas Belum Nyata - Kehilangan momentum

NERACA

Jakarta---Kebijakan alokasi anggaran akan diprioritaskan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat harus terus di tingkatkan. Namun saat ini pencapaian target makro ekonomi dengan pertumbuhan rata-ratanya 6,5% tersebut masih sebatas angka-angka. “Dalam kondisi riil, visi Pemerintah untuk mencapai pertumbuhan yang inklusif dan berkualitas hanya masih dalam batas slogan belaka,” kata peneliti Indef, Enny Sri Hartati di Jakarta,1/12.

Menurut Enny, masih terlalu banyak pekerjaan rumah dan permasalahan krusial yang belum diselesaikan pemerintah. Misalnya saja soal pertumbuhan yang tidak berkualitas, termasuk peran negara dan swasta. “Kita belum melihat peran swasta dan pemerintah dalam memacu pertumbuhan berkualitas,”jelasnya.

Disisi lain, kata Enny, tingkat daya saing yang rendah sebagai akibat high cost economy juga menjadi penyebab Indonesia terlibas liberalisasi Finansial dan perdagangan. “Indonesia gagal dalam memanfaatkan peluang liberalisasi, jumlah bank asing dan bank campuran terus meningkat,” tambahnya.

Aplagi, kata Enny, keuntungan Indonesia dalam ASEAN-China Free Agreement (CAFTA) lebih sedikit daripada keuntungan yang diperoleh oleh negara pesaing. Selama 2006-2010, surplus neraca perdagangan Indonesia justru turun sekitar -17,07%. “Industri domestik banyak yang gulung tikar karena masifnya serbuan produk-produk Impor,” tuturnya.

Demikian, kata Enny lagi, produk-produk hasil pertanian juga kalah dengan produk asing yang makin menggila. “Hasil-hasil produk pertanian juga tersingkir oleh membanjirnya produk pangan impor,”tandasnya

Enny Sri Hartati mengatakan pada 2012 di Jakarta(30/11). INDEF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran 6,1-6,3 persen, "Angka ini menurun jika dibandingkan dengan perkiraan pertumbuhan hingga akhir tahun ini yang kemungkinan mencapai 6,5%,"paparnya

Dilihat dari distribusi PDB, lanjut Enny, penggunaan pada tahun depan relatif akan sama seperti beberapa tahun sebelumnya dengan perekonomian akan ditopang oleh besarnya porsi sektor konsumsi rumah tangga. Sementara itu, jika dilihat dari struktur lapangan usahanya, pada 2012 pertumbuhan tetap akan ditopang oleh sektor non-tradeable, dengan pertumbuhan tertinggi kemungkinan besar tetap pada sektor pengangkutan dan komunikasi.

Inflasi sempat meningkat seiring tingginya harga komoditas pada pasar internasional, seperti komoditas pangan dan emas. Namun pada akhir kuartal III 2011, harga komoditas turun karena bertambahnya pasokan komoditas dan kondisi perlambatan ekonomi dunia. “Tidak hanya harga emas, harga minyak di pasar internasional juga terlihat turun jika dibandingkan pada triwulan sebelumnya kondisi ini diperkirakan akan terus berlanjut pada 2012”, tegas Enny.

Untuk tingkat suku bunga Indef memproyeksi akan terjaga di level 6 persen seiring terkendalinya inflasi. Sementara rupiah diperkirakan sekitar Rp 8.900-Rp9.100. Capital inflow diperkirakan terus berlanjut, cadangan devisa juga masih kuat di atas US$ 100 miliar dan neraca pembayaran masih cukup baik. **prima

Related posts