Pemerintah Didesak Audit Semua Infrastruktur

NERACA

Jakarta---Kalangan Insinyur Indonesia meminta agar pemerintah melakukan audit semua infrastruktur jembatan untuk menghindari musibah seperti yang terjadi pada jembatan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. "Selain memeriksa langsung ke lapangan, jembatan-jembatan sebaiknya ditempatkan monitor berteknologi tinggi yang dapat memberikan informasi secara dini kekuatan dan daya tahannya," kata Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Said Didu kepada wartawan Jakarta,Kamis,1/12

Mantan Sesmen BUMN ini menambahkan audit secara berkala maka jembatan yang merupakan infrastruktur vital dapat diketahui apakah sudah mengalami kerusakan, masih layak atau tidak untuk digunakan.

Said menjelaskan dengan pemeriksaan tersebut maka musibah seperti ambruknya jembatan Kutai Kartanegara tidak terjadi lagi atau minimal dapat diantisipasi. "Kita sangat prihatin jembatan yang sangat penting dalam mendukung perekonomian masyarakat di Kalimantan Timur runtuh," tambahnya

Lebih jauh kata Said, ada tiga kemungkinan penyebab runtuhnya jembatan Kutai Kartanegara, yaitu kesalahan desain, pembangunan yang tidak mengikuti desain, atau operasional jembatan yang tidak mengikuti prosedur. "Saat ini semua pihak terkait seakan tidak ada yang bertanggung jawab. Bahkan cenderung saling lempar tanggung jawab," terangnya

Menurut Said, sejak Zaman Orde Baru hingga tahun 1995 audit terhadap jembatan dan gedung-gedung yang menggunakan biaya APBN selalu dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). "Namun di atas tahun 1995 BBPT sudah lagi digunakan untuk mengaudit kondisi infrastruktur," ujarnya.

Padahal diutarakan Said, kalangan BPPT merupakan tenaga-tenaga profesional di bidangnya dan tidak memiliki tendensi apa pun terhadap proyek-proyek infrastruktur. Pada prinsipnya fasilitas infrastruktur yang digunakan publik harus lebih mengutamakan keselamatan.

Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto menduga ada dua penyebab runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara. Penyebab pertama kemungkinan terletak pada titik buhul atau penyambung antara kabel vertikal dan kabel utama. "Ini yang perlu dicari tahu kenapa bisa lepas," katanya

Djoko menduga ada gaya tiba-tiba yang memberikan muatan kabel melebihi kapasitasnya yang mampu menahan 200 ton. Daya muatan jalan untuk satu kali lintasan sebenarnya bisa menampung beban hingga 40 ton. “Dalam kehidupan sehari-hari beban tidak akan mungkin melebihi kapasitas itu. Kalau ternyata terputus berarti ada kemungkinan lain, yaitu penyambung tidak mampu menahan 200 ton itu atau ada gaya mendadak yang menimbulkan gaya besar dari yang diijinkan,” tegasnya

Saat ini, kata tim teknis gabungan masih berada di lapangan untuk melihat titik lemah jembatan dan memastikan tidak akan runtuh selama proses evakuasi korban dilakukan. Selain itu, tim telah membawa bagian-bagian baja jembatan ke laboratorium di Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk diteliti dan diuji kualitas materialnya. **cahyo

Related posts