Tahun Depan Utang Lagi Rp 296 Triliun

NERACA

Jakarta----Ketergantungan akan utang memang belum bisa “diputus” APBN 2012. Bahkan pemerintah menargetkan utang bruto sebesar 296 triliun. Dana itu akan digunakan untuk menutupi defisit sekitar Rp 125,6 triliun dan memenuhi kewajiban utang. “Tapi kita melihat bahwa tahun depan situasi pasar akan lebih sulit dibandingkan tahun ini. Sehingga kebijakan penerbitan SBN (surat berharga negara) itu kita perhatikan," kata Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Walujanto kepada wartawan di Jakarta,1/12.

Berdasarkan catatan, total utang pada 2012 nanti itu terdiri dari SBN sekitar Rp 240 triliun, juga loan program sebesar Rp 16,857 triliun, project loanRp 39,127 triliun serta pinjaman dalam negeri Rp 134 miliar.

Namun kata Rahmat, pemerintah menekanka penerbitan surat utang di pasar domestik dalam nominasi rupiah tanpa melupakan penerbitan di pasar internasional dengan global sukuk, global bond konvensional dan samurai bond. "Jadi akan lebih banyak instrumen pembiayaan yang akan kita terbitkan baik itu dalam atau luar negeri," terangnya

Rahmat mengaku pemerintah berhati-hati dalam mengambil utang tahun depan, karena diprediksi situasi pasar akan semakin sulit daripada tahun ini. Pemerintah pun sudah menyiapkan protokol manajemen krisis juga Bond Stabilization Framework. "Inti dari kedua kebijakan ini adalah bagaimana kita merespon situasi pasar yang kemungkinan akan lebih volatile dengan beberapa langkah kebijakan dan tindakan untuk stabilisasi pasar untuk menjaga kepercayaan pasar dan mencegah terjadinya sudden reversal jika investor asing pull out dari Indonesia," jelasnya

Berdasarkan pengumuman situs Kementerian Keuangan, rencana lelang Surat Utang Negara (SUN) senilai Rp 6,5 triliun yang seharusnya digelar pada 6 Desember 2011 mendatang bakal dibatalkan. Pembatalan lelang SUN ini dilakukan karena realisasi penerbitan SBN sampai saat ini sudah cukup tinggi dan sudah sejalan dengan proyeksi kas pemerintah sampai dengan akhir tahun 2011.

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2011, pemerintah berniat menerbitkan (SBN) bruto Rp 211 triliun, sementara neto sebesar Rp 126,65 triliun. Sampai dengan 24 November lalu, total yang telah diterbitkan mencapai Rp 171,3 trilun atau sebesar 81%.

Ditempat terpisah, Deputi Gubernur BI Muliaman D Hadad mengungkapkan perjanjian Currency Swap Agreement (CSA) yang telah disepakati Indonesia dan China nampaknya akan kembali diperpanjang. Alasanya, hal ini dilakukan guna memitigasi resiko-resiko yang terjadi akibat adanya krisis yang melanda Eropa. “Opsi-opsi itu (seperti) sedia payung sebelum hujan," ungkapnya

Menurut Muliaman, apapun yang dipersiapkan untuk menjaga agar tidak ada downsite risk yang mungkin terjadi layak untuk dilakukan. "Pemerintah bukan hanya BI tentu akan melihat pintu-pintu apa saja yang bisa dilalui," tambahnya.

Karenannya, guna menjaga kemungkinan tersebut, pihaknya tetap akan membuka pintu kerja sama. "Jadi itu bisa saya jawab secara umum saja, artinya kita tidak menutup kemungkinan (memperpanjang CSA)," tukas dia.

Seperti diketahui CSA telah ditandatangani Bank Indonesia dan The Peoples Bank of China pada 23 Maret 2009 dan berakhir pada Maret 2012. Kerja sama yang ditandatangani merupakan kerja sama rupiah/renminbi swap line yang setara dengan Rp175 triliun/RMB100 miliar dan berlaku efektif selama tiga tahun dengan kemungkinan perpanjangan atas persetujuan kedua belah pihak. **cahyo

Related posts