Dana Nganggur Belum Mampu Diserap Indonesia - Diperkirakan ada US$100O miliar

NERACA

Jakarta—Bank Indonesia memperkirakan masih ada sekitar US$1000 miliar dana menganggur dari luar negeri. Namun sayangnya Indonesia belum bisa menyerap banyak dana nganggur tersebut. “Padahal dana-dana itu nganggur itu nencari tempat yang aman dan menguntungkan. Padahal ekonomi Indonesia sedang bagus-bagusnya,” kata i Ekonomi Utama Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Darsono kepada wartawan dalam acara seminar “Transmisi Dampak Krisis Ekonomi Global, Terhadap Pertumbuhan Sektor Riil di Indonesia” di DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (1/12)

Menurut Darsono, dana over likuid ini sudah diserap China sekitar 65% dan dana itu mampu digunakan untuk menggenot sector riil. “China mampu menyerap dana nganggur itu sekitar 65%,” tegasnya.

Lebih jauh kata Darsono, kondisi fiskal negara-negara di Eropa saat ini bisa dikatakan buruk, alias tidak karuan. Namun demikian industri olahraganya, khususnya sepak bola di Eropa berkembang sangat pesat. Artinya ini berbanding terbalik dengan kondisi Indonesia. Di mana fiskal dan ekonomi Indonesia yang cukup bagus. Namun industri olahraga sepak bola tidak karuan di Indonesia. "Fiskalnya negara bergejolak tidak sehat, rasio utang terhadap PDB besar, spanyol, Itali meskipun bolanya bagus, ekonominya tidak karuan. Indonesia ekonomi dan fiskal kita bagus, tapi bolanya?" terangnya

Darsono menambahkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pernah mencapai angka 6,8% yaitu pada kuartal II-2008 namun karena ada krisis di Amerika pertumbuhan ini ikut terseret. "Tapi “gempa lagi”, pusatnya di Eropa dan Amerika Serikat. Lembaga pembiayaan memberikan iming-iming semenariknya, mudahnya khususnya kredit perumahan yang jor-joran,”paparnya.

Sayangnya, kata Darsono, lembaga keuangan di AS itu memberikan kemudahan dana bukan kepada pengusaha. Namun kepada Ninja (no income), (no job) dan (no asset). “Makanya begitu mereka bangkrut, Lechman Brother kena dampaknya. Termasuk dampaknya ke Indonesia, karena mereka bangkrut butuh uang segar, butuh dana dan ditarik dana investasinya. Padahal kita tidak terjadi apa-apa," jelasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, dalam masa krisis 2008 ini, ekonomi dunia mengalami penurunan atau negatif, hanya ada tiga negara yang masih menunjukkan pertumbuhan positif. "China, India, dan Indonesia yang positif," pungkasnya.

Menyinggung soal investasi, kata Darsono, krisis global yang masih terus terjadi saat ini ternyata tak menyurutkan niat investor. Bahkan kepercayaan investor ke Indonesia saat ini hanya berada di bawah China. "Kita diurutan kalau beberapa negara di dunia, mungkin hanya kalah dengan China, masuk top level. Masih banyak outlet untuk investasi di Indonesia," tuturnya

Diakui Darsono, kondisi Indonesia sekarang lebih nyaman karena adanya keterbukaan publik serta berkurangnya demonstrasi. Dan juga dengan semakin terjaganya stabilitas makro ekonomi Indonesia, dia yakin angka pertumbuhan tujuh persen akan dicapai pada 2014."Indonesia itu sekarang surga bagi investor lah ya, mereka nyaman," jelasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indef Ahmad Erani memperkirakan suku bunga acuan alias BI rate diyakini akan bertahan di angka 6% hingga Maret 2012 nanti. Bahkan pada Maret 2012 nanti, BI rate kemungkinan akan kembali dipangkas oleh BI. Jadi kemungkinan turunnya BI Rate ini masih harus memperhatikan krisis global yang terjadi. "Kalau krisis membaik, atau inflasi menurun, mungkin akan diturunkan lagi," ungkapnya

Untuk inflasi sendiri, pada 2011 dia memprediksi masih akan tetap di bawah lima persen. Kondisi ini, sambungnya, lebih mirip saat kejadian pada 2009. "Walaupun itu bukan keberhasilan mereka sepenuhnya, dibantu krisis karena tekanan harga minyak, permintaan komoditas yang menurun. Ya mirip-mirip 2009 lah," pungkasnya. **cahyo

Related posts