Keringat dan Gangguan Kesehatan

Kelembaban udara dan temperatur udara yang cukup tinggi, dinegara tropis seperti Indonesia, orang cenderung lebih mudah berkeringat. Bukan mustahil pula, keringat mengintai kesehatan anda.

NERACA-Sering kali, tetesan keringat dianggap sebagai gangguan, terutama bagi banyak wanita. Make up jadi gampang luntur, baju lepek, bau badan tidak sedap, serta berbagai keluhan lain. Padahal, banyak ahli mengatakan, munculnya keringat justru merupakan salah satu pertanda bahwa tubuh kita dalam kondisi sehat. Dibandingkan wanita, tubuh pria memproduksi keringat dua kali lebih banyak, berhubung jumlah kelenjar keringat yang aktif di tubuh mereka juga lebih banyak.

Setiap orang, rata-rata mengeluarkan sekitar 0,7 hingga 1,5 liter per jam. Seseorang yang aktif berkeringat sekitar 1,5 hingga 1,8 per jam. Sementara itu, atlet triatlon dapat memproduksi hingga empat liter keringat dalam satu jam. Artinya, produksi keringat kita tergantung pada ukuran, kebugaran fisik, dan tingkat hidrasi seseorang.

Menurut ahli fisiologi dari University of Guelph di Kanada, Lawrence Spriet, setelah kehilangan tiga hingga lima persen berat tubuh, barulah proses berkeringat mulai melambat. Sementara itu, ahli fisiologi lingkungan dan olahraga, Lawrence Armstrong, menyatakan tubuh manusia terus berkeringat meskipun terjadi dehidrasi. "Selama hipotalamus mengirim pesan saraf ke kelenjar keringat, manusia akan tetap berkeringat. Malahan, jika keringat berhenti maka sesuatu yang salah," kata Armstrong.

Jika suhu tubuh kita di atas 40 derajat Celcius, tubuh kita mulai kepanasan. Saat ini terjadi, membran jaringan kehilangan integritas dan terjadi kebocoran, kata Armstrong. Dalam kondisi seperti ini, usus dapat melepaskan bakteri ke dalam aliran darah. Akibatnya tubuh terkena syok dan kemungkinan akan pingsan atau koma. "Poin utama dalam berkeringat adalah mencegah hal ini terjadi, dengan membuat kita tetap dingin," ujar Armstrong.

Keringat adalah respon dari keadaan emosional. Saat kita grogi atau gugup, ada peningkatan aktivitas saraf simpatis dalam tubuh yang juga mengakibatkan kenaikan sekresi ephinerphin dari kelenjar adrenalin.

Substansi ini bekerja pada kelenjar keringat, yakni pada telapak tangan dan ketiak, memproduksi keringat. Hal inilah yang menyebabkan keringat dingin tersebut. Semakin grogi seseorang, aktivitas ephinerphin pun semakin meningkat, dan keringat dinginpun semakin banyak menetes.

Keringat dingin, tak hanya menandakan seseorang sedang nervous, melainkan juga gejala awal serangan penyakit tertentu. Ibarat mesin, keringat berperan penting sebagai alat termoregulasi atau pengatur suhu tubuh manusia. Pengeluaran keringat juga merupakan bagian dari proses sekresi atau pembuangan sisa-sisa garam dan juga racun dari dalam tubuh. Bukan hanya itu, fungsi lain keringat adalah memelihara keasaman pH kulit, sehingga bakteri dan jamur tidak mudah tumbuh.

Berkaitan dengan keringat dingin, bukanlah gangguan kesehatan, melainkan sekadar gejala penyakit, banyak dokter tidak merekomendasikan penanganan khusus. Pasalnya, begitu Anda bisa menyingkirkan penyebabnya, maka keluhan keringat dingin akan lenyap dengan sendirinya.

Jika Anda curiga munculnya keringat dingin adalah akibat stres atau kecemasan, cobalah mengatasinya terlebih dahulu dengan relaksasi. “Bila tidak berhasil juga, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter atau psikolog,” ujar Robert Wesselhoeft III, M.D, direktur Pusat Kesehatan Keluarga dari Tufts University School of Medicine, Boston.

Selain itu amati juga riwayat kesehatan keluarga, mulai dari riwayat penyakit jantung, diabetes, alergi, kanker, sampai menopause dini. Jika ternyata Anda mengalami ketidakseimbangan hormon estrogen di dalam tubuh, tak ada salahnya mempertimbangkan menjalani terapi sulih hormone dan perbaiki juga gaya hidup.

Banyak ahli meyakini bahwa berbagai jenis gangguan kesehatan sebenarnya bisa diatasi dengan menerapkan pola hidup yang sehat, terutama dengan memastikan tubuh Anda mendapatkan asupan gizi yang seimbang, setiap hari. Jangan lupa, untuk melakukan olahraga secara teratur, menghindari konsumsi alkohol, dan menghentikan kebiasaan merokok.

Menurut dr Jusri Ichwani SpPD, keringat dingin merupakan gejala yang harus ditangani. “Jika tidak, para manula bisa drop hingga koma,” tuturnya. Penyebab keluar keringat dingin bercucuran lainnya adalah kadar gula turun. Itu biasanya terjadi pada mereka yang menggunakan obat diabetes secara oral. “Setelah minum obat, seharusnya para lansia makan. Tapi, karena tidak bernafsu, mereka enggan makan,” ungkap Jusri. Dampaknya, kadar gula cepat menurun drastis. Turunnya kadar gula itu membuat badan cepat drop. Dengan begitu, diperlukan pertolongan pertama untuk menghindari akibat yang fatal. “Berikan air gula atau teh manis,” ungkapnya.

Keringat juga bisa disebabkan oleh faktor psikis misalnya merasa tertekan, takut, ataupun cemas, pasalnya, ketika menghadapi tekanan atau stres, otak secara otomatis mengirimkan sinyal kepada tubuh untuk memproduksi hormon adrenalin.

Related posts