Robohnya Jembatan Kami, Penyambung Harkat Hidup Masyarakat

Oleh : Noor Yanto (Wartawan HE Neraca)

Neraca. Judul berita utama minggu ini sesuai dengan kejadian yang terjadi di Kalimantan Timur. Sebuah jembatan yang menggunakan teknologi modern, dan seharusnya bisa bertahan hingga 100 tahun, namun baru berusia 10 tahun sudah roboh. Seperti biasa, berbagai pihak saling menunjukkan jari akan siapa yang bersalah atau bertanggungjawab.

Spekulasi atas ambruknya jembatan Kutai Kartanegara (Kukar) terus berkembang. Para pakar konstruksi Institut Teknologi Bandung (ITB) menduga pembangunan Jembatan Kukar melanggar kaidah ilmu teknik sipil. Menurut ilmu teknik sipil, alat penyambung antara kabel vertikal atau hanger harus lebih kuat dari yang disambungkan. Alat penyambung ini adalah klem yang di dalamnya terdapat baut-baut yang mengencangkan kabel hanger.

Pada kasus Jembatan Kukar, kabel vertikal yang menghubungkan jembatan dengan kabel utama yang melintas horizontal (kabel suspensi) di atas jembatan justru tidak putus, yang putus malah klemnya atau alat penyambung kabel tersebut. Jika dugaannya benar karena sistem klem yang lepas, maka jelas pembangunan jembatan menyalahi ilmu teknik sipil. Desain jembatan gantung dibuat untuk menghadapi beban dinamis bukan beban statis seperti jembatan beton. Konstruksi jembatan gantung diperlukan terutama jika memerlukan bentang yang sangat panjang seperti melintasi sungai Mahakam.

Jembatan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, merupakan sarana yang vital terutama dalam hal ini menyangkut perekonomian rakyat. Fungsi dari sarana ini, menyambungkan dua bagian yang dipisahkan oleh sungai, bahkan dengan ilmu teknologi bisa menghubungi kedua pulau. Sebagai contoh jembatan Suramadu di Surabaya. Setelah digunakannya jembatan ini, menurut data yang ada, ada peningkatan standar kehidupan masyarakat pulau Madura. Geliat perekonomian rakyat juga naik.

Bisa dibayangkan jika jembatan, yang merupakan sarana vital bagi masyarakat kemudian roboh. Jalur transportasi, terutama sekali distribusi berbagai produk perekonomian rakyat akan lumpuh total. Berbagai kebutuhan masyarakat yang dibutuhkan tidak tersedia.

Saat ini, kita tidak perlu saling menyalahkan. Biarkan pihak kepolisian melakukan penyidikan, yang kemudian hasilnya nanti diserahkan ke pengadilan. Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah, segera memperbaiki sarana vital penghubung tersebut. Hal ini jika tidak dilakukan, rakyatlah yang akan menderita. Jangan seperti para petinggi di pusat, yang bisanya hanya saling tuding menyalahkan, bahkan mencari keuntungan sensasi di balik tragedi menimpa masyarakat.

Related posts