Pedoman Perawatan Jembatan Di Indonesia

Neraca. Kasus ambruknya jembatan, sebenarnya sudah sering terjadi. Apalagi bila jembatan tersebut dibangun dengan pondasi seadanya. Namun ambruknya jembatan Kutai Kertanegara, Sabtu (26/11), seolah menjadi tamparan keras bagi pemerintah. Selain dibangun dengan tekhnologi tingkat tinggi, inilah kasus ambruknya jembatan di era modern yang cukup parah.

Berdasarkan data dari Indonesianbridgeinformation, dengan 17.000 pulau kecil dan lima pulau besar, Indonesia saat ini diperkirakan memiliki 88 ribu jembatan. Sebagian besar melintasi sungai kecil. Untuk ruas jalan nasional dan provinsi saja memiliki sekitar 32 ribu jembatan dengan panjang total sekitar 54 ribu meter.

Sejak dibangun dengan metode rangka baja di era 70-an dan 80-an, beberapa teknologi pembangunan jembatan telah berhasil membangun jembatan yang cukup strategis. Jembatan dengan bentangan utama lebih dari 100 meteran dan dibangun dengan tipe jembatan rangka baja bisa terlihat pada jembatan Kerasak (122,5m) dan jembatan Danau Bingkuang di Riau (120m).

Jembatan yang menggunakan tipe jembatan Prestressing Cantilever Box adalah Jembatan Rajamandala di Jabar (132m), Jembatan Serayu Kesugihan di Jateng (128m) dan Jembatan Rantau Berangin di Riau (121m).

Sementara itu, tipe Balance Cantilever Concrete Box Girder digunakan pada jembatan Tonton-Nipah (160m) dan Jembatan Setoko-Rempang (145m) di Batam. Sedangkan jembatan dengan tipe pelengkung baja adalah Jembatan Kahayan di Kalteng (150m).

Sementara jembatan dengan bentangan utama lebih dari 200 meteran, diantaranya terdiri dari tipe jembatan gantung seperti jembatan Memberamo di Irian Jaya (235m) dan Jembatan Barito di Kalsel (240m), Jembatan Mahakam 2 (Kukar) di Kaltim (270m). Jembatan ini yang kemudian ambruk pada Minggu (26/11) lalu.

Sedangkan tipe Cable Stayed adalah Jembatan Batam-Tonton di Batam (350m). Tipe Jembatan Pelengkung Beton adalah Jembatan Rempang-Galang di Batam (245m) dan tipe Cable Stayed terbaru adalah Jembatan Suramadu di Jawa Timur (total panjang 5.438m dg main bridge 192+434+192 m).

Sayangnya, diketahui bahwa beberapa jembatan dengan bentang panjang dan pendek di Indonesia, petunjuk atau pedoman perawatan jembatannya masih belum diedarkan. Ada perbedaan antara pedoman perawatan jembatan bentang pendek dan jembatan bentang panjang. Dia mengklaim jika perawatan jembatan bentang panjang lebih rumit dan butuh perhatian khusus ketimbang perawatan jembatan bentang pendek.

Kemen PU berjanji akan segera menuntaskan pedoman perawatan untuk jembatan bentang panjang. Mereka tidak ingin ada kasus jembatan bentang panjang yang runtuh setelah kasus jembatan Kertanegara. Jembatan bentang panjang yang paling dipantau serius oleh Kemen PU adalah jembatan Suramadu.

Jika pedoman khusus perawatan jembatan bentang panjang tidak segera diterbitkan, kasus robohnya jembatan Kartanegara bisa terulang di jembatan bentang panjang lainnya. Jika sudah begini, tentu kehati-hatian dari Pemda khususnya Dinas PU juga sangat penting. Jangan sampai terjadi lagi tragedi jembatan ambruk lainnya apalagi sampai memakan korban jiwa.

Related posts