Perbankan Makin Ketat Beri Kredit Valas - Prediksi 2012

NERACA

Jakarta---Industri dan likuiditas perbankan pada tahun depan kemungkinan akan melakukan langkah yang semakin ketat. Bank bisa saja semakin selektif dalam memberikan kredit valuta asingnya (valas). "Bank pasti hati-hati menyalurkan kredit, khususnya ke kredit valas sambil menunggu banjir lagi likuiditasnya," kata Ekonom BNI Ryan Kiryanto kepada wartawan di Jakarta, Selasa (29/11)

Lebih jauh Ryan menyarankan kepada perbankan agar cermat dan selektif dalam memberikan kredit valas pada sektor-sektor yang minimal akan mengekspor 70% produknya. "Sektor mining (pertambangan) masih bisa diandalkan karena diekspor ke Jepang dan Uni Eropa dan khususnya China,” tambahnya.

Diakui Ryan, kredit valas untuk sector pertambang masih menarik dan memberikan keuntungan cukup bagus. “Meskipun diprediksi ekonomi China melambat, komoditas ini masih diperlukan di industri China. Minyak dan gas juga bisa," terangnya

Selain itu, lanjut Ryan, Crude Palm Oil (CPO) juga tetap menjadi komoditas yang bisa terus diekspor Indonesia dan bisa dibiayai dengan kredit valas. "Kita punya kebun sawit terbesar kedua di dunia, itu kita bisa ekspor ke India dan Malasyia," tandasnya.

Ditempat yang sama, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Muliaman D Hadad menegaskan pihaknya mengimbau agar perbankan nasional terus mendukung penyaluran kredit khususnya pada sektor industri kecil. Hal ini tidak perlu dikhawatirkan bank, karena rasio kredit macet (NPL) di sektor ini rendah. "Ekonomi kecil yang perlu kita dorong, kita ingin tahu masalah apa yang sering mereka hadapi, pertama yang sering dikeluhkan adalah modal sulit dan mereka sering tergantung pada rentenir,” tuturnya

Yang jelas, kata Muliaman, BI sendiri meminta agar perbankan segera memperbaiki sejumlah kelemahan-kelemahan guna mendorong UMKM bisa mendapatkan kucuran kredit lebih banyak. “Kebijakan ini harus diperbaiki, misalnya mengenai perpajakan, ini perlu di perbaiki agar mereka bisa jauh lebih kompetitif,” tuturnya

Karenanya, Muliaman mengimbau perbankan memberikan pendanaan pada usaha industri rakyat, karena NPL di sektor ini juga rendah sehingga perbankan perlu mendekatkan diri kepada mereka. “Ini penting karena usaha ekonomi kerakyatan bisa menjadi buffer dalam menghadapi krisis,”jelasnya.

Disisi lain, Muliaman meminta agar para perusahaan yang memiliki dana CSR sebaiknya disimpan saja ke bank ketimbang disalurkan ke UMKM, toh hasilnya kurang significant. “Skema permodalan dalam CSR itu tidak mendidik usaha kecil, jadi kenapa tidak dana itu disimpan saja ke bank, jadi bank bisa leluasa memberikan kreditnya,” pungkasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Pelaku Global Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2%

    NERACA   Jakarta - Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan menyebutkan kalangan pelaku ekonomi global memproyeksikan ekonomi Indonesia…

Penyaluran Kredit BTN Tumbuh 19,57%

    NERACA   Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mencatatkan kinerja positif pada penyaluran kredit miliknya.…

Genjot Ekspansi Kredit - Lagi, BTN Gelar Akad Massal Serentak

Penetrasi pertumbuhan kredit kepemilikan rumah (KPR) lebih besar lagi, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) untuk kesekian kalinya menggelar akad…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Tumbuh 11,5%, BNI Cetak Laba Rp4,08 Triliun

    NERACA   Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mencetak laba bersih pada kuartal I-2019 sebesar Rp4,08…

Suku Bunga Acuan BI Diprediksi Bertahan

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunga acuan atau BI7DRRR di level…

Bank Banten Dukung Layanan Samsat Online

    NERACA   Serang - PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk, (Bank Banten) kembali mendapatkan kepercayaan dari para stakeholders.…