"Robohnya Jembatan Kami"

Sabtu, 03/12/2011

Beberapa hari yang lalu, berita mengejutkan muncul yaitu robohnya jembatan Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur. Robohnya jembatan itu memakan korban hingga ratusan orang. Ada pertanyaan yang hingga kini belum terjawab, ‘Kenapa jembatan yang baru di bangun 10 tahun bisa roboh?’.

Neraca. Robohnya Jembatan Kutai-Kertanagara (Kukar) yang melintasi Sungai Mahakam memicu kecurigaan dari DPR. Pasalnya, usia teknis jembatan tersebut terlalu pendek hingga mengalami peristiwa tersebut. Wakil Ketua Komisi IX Harry Azwar mengatakan itu dalam Konsultasi Publik: "Kebijakan Perimbangan Pusat-Daerah yang Transparan dan Akuntabel" di Hotel Alia, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa(29/11).

Harry mendesak agar aparat segera mengungkap penyebab kejadian itu dan selanjutnya menyelidiki proses pembangunan jembatan yang sarat korupsi. Ia membandingkan konstruksi Jembatan Ampera di Palembang yang hingga kini masih dalam keadaan baik dan aman digunakan. "Bandingkan dengan Jembatan Kukar itu, baru 10 tahun sudah rubuh," ucapnya.

Rubuhnya jembatan itu membuat beberapa perusahaan konstruksi yang ikut membangun jembatan itu terseret-seret, di antaranya BUMN PT Hutama Karya Persero (HK). Namun, hal itu langsung ditepis Menteri BUMN Dahlan Iskan. Di Jakarta, ia menegaskan desain jembatan Kukar tidak dikerjakan oleh HK.

BUMN konstruksi tersebut, kata dia, hanya bertindak sebagai konstruktor proyek tersebut. "Setahu saya, desain itu bukan dibuat oleh Hutama Karya, melainkan pihak lain," kata Dahlan usai mengisi acara sebuah seminar di Jakarta.

Menyoal tudingan Kementerian Pekerjaan Umum yang menyalahkan HK sebagai kontraktor jembatan Kukar, Dahlan hanya tersenyum. Ia hanya menunggu hasil pemeriksaan PU secara menyeluruh serta berharap urusan kontrak kerjasama pembangunan antara HK dan Kementerian PU diselesaikan dengan baik-baik."Itu urusan mereka masing-masing. Saya menunggu hasil desainnya," katanya.

Ambruknya jembatan Mahakam II atau Jembatan Kutai Kartanegara (Kukar) pada Sabtu 26 November lalu, ternyata bukan kejadian pertama di tahun ini. Hingga November ini, setidaknya ada enam jembatan yang ambruk. Bahkan dalam empat tahun terakhir, jumlah jembatan ambruk mencapai 13 kasus.

Pada 4 November 2011, sebuah jembatan yang menghubungkan Bandarjaya-Sungaiputih, Banyuasin, Sumatera Selatan, ambruk gara-gara dilintasi truk tronton bermuatan eskavator. Jembatan itu dibangun dengan APBD induk Kabupaten Musi Banyuasin pada 2010 menelan dana Rp900 juta. Tanggal 16 September 2011, pembangunan jembatan Ulak Kembang di Batanghari Leko senilai Rp21,4 miliar, ambruk. Proyek dilaksanakan oleh PT WIKA merenggut dua nyawa dan empat lainnya luka. Tanggal 27 Juni 2011, Jembatan Soekarno sepanjang 250 meter yang sudah tak terpakai, tapi masih membentang di Sungai Serayu di Kecamatan Rawalo, Banyumas, Jawa Tengah, juga ambruk. Penyebabnya karena fisik dan pondasi jembatan sudah rapuh. Tanggal 22 Mei 2011, sebuah jembatan yang menghubungkan Desa Tanjung Baru Kecamatan Indralaya Utara dan Desa Burai Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, sepanjang 125 meter dengan lebar 4 meter, di atas Sungai Kelakar, ambruk sekira pukul 17.30 WIB. Jembatan ambruk diduga akibat kurang perawatan, sehingga tumbuhan air seperti bakung dan eceng gondok memenuhi area jembatan. Maret 2011, Jembata Baliase yang berjarak sekira 5 kilometer dari Masamba, Ibu Kota Kabupaten Luwu Utara, atau berjarak sekira 510 kilometer sebelah tenggara Kota Makassar, Sulawesi Selatan, juga ambruk. Jembatan ini sangat penting karena berada di jalur utama Trans Sulawesi, menghubungkan Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara. Tanggal 14 Februari 2011, Jembatan di KM 142 Kota Padang, Sumatera Barat ambruk juga. Jembatan yang memiliki panjang 8 meter dan lebar 2,5 meter ini sering dilalui ratusan kendaraan berat mengangkut hasil alam setiap harinya. Tanggal 1 Desember 2010, Banjir lahar dingin menyebabkan tiga jembatan rubuh, yaitu jembatan penghubung Bojong Kojor-Kecamatan Mungkid dengan Bludru-Kecamatan Muntilan, jembatan penghubung Gunung Lemah-Kecamatan Sawangan dan Daleman-Kecamatan Muntilan. Serta jembatan penghubung Suradadi-Kecamatan Sawangan dengan Gondosuli-Kecamatan Muntilan. Oktober 2010, Jembatan penghubung Desa Teupin Me dengan Desa Blang, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara, Aceh, ambruk, sehingga mengakibatkan enam desa setempat terisolir. Jembatan itu merupakan jalur lintas yang digunakan masyarakat di beberapa desa di antaranya Desa Teupi Me, Sebar jaman Tunong, Punti, Leuhong, Blang Aceh, Cot Dah, dan sejumlah desa lainnya. Tanggal 21 Maret 2010, jembatan sepanjang 80 meter yang terletak di RW 25, Kampung Cipameng, Desa Rajamandala, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, ambrol setelah diterjang arus deras Sungai Citarum. Jembatan itu menghubungkan warga Cipameng dengan warga Kampung Bantar Caringin, Desa Cihea, Kecamatan Haur Wangi, Kabupaten Cianjur, yang terpisahkan Sungai Citarum.

10. Pada 3 Februari 2010, jembatan Cirompang di kecamatan Bungbulang Kabupaten Garut, Jawa Barat, runtuh dan melumpuhkan transportasi angkutan hasil pertanian masyarakat setempa. Diperparah amblasnya ruas jalan desa. Jembatan sepanjang 33 meter, di mana 22 meter di antaranya runtuh akibat tergerus banjir dan longsoran tanah.

11. Tanggal 3 April 2009, Jembatan Sungai Kapuas, di Desa Lungkuh Layang, Kecamatan Timpah, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, ambruk disebabkan oleh kesalahan konstruksi baja. Jembatan Sungai Kapuas mulai dibangun pada 2007 dengan kontrak sistem tahun jamak senilai Rp 58,5 miliar, terdiri dari APBD 2007 sebesar Rp28 miliar, APBD 2008 senilai Rp 21 miliar, dan APBN 2009 senilai Rp 9,5 miliar. Kontraktor pelaksana untuk APBD 2007-2008 adalah PT Agrabudi Karya Marga, sedangkan APBN 2009 dilaksanakan PT Wiradarma Mulia Jasa dengan tanggal penyelesaian sesuai kontrak pada 15 Agustus 2009.

12. Tanggal 17 Agustus 2008, Jembatan gantung Calau, yang membentang di atas Sungai Sukam, Sijunjung, Sumbar, ambruk disebabkan kelebihan muatan. Selain itu disebabkan faktor usia konstruksi yang sudah tua. Akibatnya tiga orang tewas dan puluhan lainnya luka.

13. Tanggal 28 Desember 2007, Jembatan Jati yang menghubungkan Magetan dengan Madiun, Jawa Timur, ambruk. Sekira 20 warga Madiun dan Magetan dinyatakan hilang karena hanyut terbawa air sungai. Ambrolnya jembatan tersebut diduga karena terkikis derasnya banjir dan pondasi jembatan rapuh.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta petugas terkait, untuk melakukan pemeriksaan terhadap kondisi jembatan yang ada di Indonesia. Menurut presiden, insiden robohnya jembatan Kutai Kartanegara, Kalimatan Timur, Sabtu lalu menjadi pelajaran berharga.

"Jadi (mengantisipasi kejadian serupa), semua jembatan yang ada diteliti. Dalam hal ini kementerian teknis," ucap Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha saat dihubungi wartawan. Presiden pun, kata Julian, hingga hari ini belum menerima laporan terbaru mengenai perkembangan penyelidikan runtuhnya jembatan Kukar.

Beberapa saksi diperiksa terkait runtuhnya jembatan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Sabtu lalu, termasuk pihak yang melakukan pemeliharaan jembatan. Upaya itu dilakukan guna mengetahui penyebab runtuhnya jembatan tersebut. "Berbagai macam, dari unsur yang terkait kegiatan pemeliharaan," kata Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Pol. Boy Rafli Amar di Mabes Polri.

Meski belum ditemukan indikasi korupsi dalam proses pembangunan jembatan, Polri tetap akan terus melakukan penyelidikan. "Itu belum bisa dijawab saat ini. Karena kita harus mencari, meneliti lebih jauh, terutama aspek perencanaan dan pelaksanaan," kata Boy.

Tim yang diturunkan Mabes Polri, lanjutnya, juga akan membantu untuk mencari pihak-pihak terkait yang bisa dimintai keterangan. "Tim akan melihat pihak-pihak mana saja yang relevan dengan kegiatan proyek ini, tentu akan dimintai keterangan, sehingga kita mendapatkan gambaran," lanjutnya.

Polisi juga akan bekerja sama dengan tim ahli konstruksi, yang diharapkan membantu proses audit pembangunan jembatan tersebut."Audit investigasi terkait kelayakan dari proses pembangunan jembatan ini. Terutama dari aspek spesifikasi teknis dari pembangunan, yang tentunya akan kita dalami lebih jauh lagi," tegasnya.

Masalah bahan material tak luput akan menjadi bahan penyelidikan. "Itu memerlukan penelitian lebih jauh lagi. Nanti pemeriksaan secara laboratoris, dari bahan materialnya, kemudian nanti spesifikasi teknis pembangunan jembatan. Itu yang akan dipelajari," katanya.

Bahkan, untuk melengkapi data pihak kontraktor pembangun jembatan tentunya akan dimintai keterangan. "Nanti akan ada gilirannya. Yang jelas, harus dengan seksama dalam penyelidikan kasus ini. Apakah itu karena aspek dipelaksaannya, apakah ada sesuatu yang keliru dalam pembangunannya? Itu yang harus kita dalami dulu," ujarnya.