Diusukan Dana Kontijensi Pangan Rp4 Triliun.

NERACA

Jakarta----Pemerintah mengusulkan dana kontijensi pangan ditambah dan menjadi sebesar Rp4 triliun pada 2012. Dana ini naik dibandingkan dana kontijensi pangan 2011 sebesar Rp3 triliun. "Berdasarkan laporan dari Kementerian Keuangan bahwa kemungkinan akan ada tambahan dana darurat (kontijensi) pangan menjadi Rp4 triliun pada tahun depan," kata Menteri Pertanian Suswono kepada wartawan di Jakarta, Selasa,29/11

Lebih jauh kata Suswono, usulan kenaikan dana kontijensi pangan ini. Karena terkait dengan antisipasi terjadinya cuaca ekstrim yang dapat mempengaruhi hasil panen dan musim tanam di tahun depan.

Diakui mantan Wakil Ketua Komisi IV DPR ini, dana kontijensi berasal dari APBN untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk gagalnya panen akibat berbagai hal seperti banjir, musim hujan dan kemarau berkepankangan, termasuk mengantisipasi serangan hama tanaman. "Selain untuk ganti rugi gagal panen, pembangunan insfrastruktur pertanian seperti irigasi dan teknologi pertanian, intensifikasi lahan pertanian, dana kontijensi juga untuk stabilisasi harga pangan," tambahnya

Suswono memberi contoh, untuk mengantisipasi saat curah hujkan tinggi maka dibutuhkan mesin pengering dalam jumlah banyak. Sebaliknya ketika musim kering terjadi maka akan disediakan mesin pompa penyedot air agar lahan-lahan pertanian tetap produktif. "Saat ini kita sedang mengupayakan menyediakan sekitar 1.000 unit mesin pengering, dan 1.000 unit mesin pompa yang akan disebarkan ke sejumlah wilayah yang rawan terhadap kekeringan," tuturnya

Terkait mekanisme penganggaran dana kontijensi tersebut, Suswono menuturkan akan diputuskan di Menteri Perekonomian. "Setelah Menko menyetujui dana kontijensi tersebut maka saya akan mengajukan kepada Menteri Keuangan," ujarnya.

Dikatakan Suswono, dana kontijensi pada 2011 yang "standby" (siaga) sebesar Rp3 triliun, namun baru dialokasikan sebesar Rp380 miliar untuk mengganti rugi lahan 2,6 juta ha yang mengalami puso (gagal panen). Untuk itu, lanjut Suswono, Kementerian Pertanian akan memperbaiki sistem administrasi dari penggunaan dan alokasi dana yang didasarkan pada pengalaman di tahun 2011.

Ditempat terpisah, Kepala Badan Litbang Pertanian Haryono mengatakan, pangan harus diproduksi sendiri oleh bangsa Indonesia tanpa harus bergantung pada impor. Sebab pangan merupakan komoditi strategis baik dari sisi ekonomi maupun politis.

Menurut Haryono, apabila persoalan pangan ini bergantung kepada negara lain, maka bisa berbahaya. Sehingga dengan demikian, selain menjaga ketahanan pangan, Indonesia harus punya kedaulatan pangan. "Terkait dengan itu, bioteknologi diperlukan Indonesia dalam upaya memproduksi pangannya sendiri,” ucapnya

Haryono menyatakan, produk bioteknologi lebih aman dibandingkan produk nonrekayasa genetika karena selalu dipantau dan dievaluasi. “Tahun ini ada delapan tanaman bioteknologi atau hasil rekayasa genetika dinyatakan berstatus aman pangan,” pungkasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Nusa Raya Incar Kontrak Baru Rp 3,5 Triliun

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) perusahaan jasa konstruksi swasta di Indonesia menargetkan kontrak baru…

Waskita Targetkan Kontrak Baru Rp 55 Triliun

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) menargetkan total kontrak baru sekitar Rp55 triliun,”Total kontrak baru…

Dorong Bisnis Lebih Agresif - Bukalapak Raih Kucuran Dana dari Mirae Asset

NERACA Jakarta –Pesatnya pertumbuhan bisnis e-commerce Bukalapak, mendorong beberapa perusahaan besar lainnya untuk ikut serta memberikan suntikan modal. Apalagi, Bukalapak…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pemerintah Diminta Stabilkan Harga Sawit

  NERACA   Kampar - Masyarkat Riau mayoritas berprofesi sebagai petani sawit yang nasibnya bergantung pada harga jual buah sawit.…

Tekankan Peningkatan Kesejahteraan Pasca Inhil Jadi Kluster Kelapa di Indonesia

  NERACA   Indragiri Hilir - Dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan turunan kelapa yang ada di Kabupaten Inhil, Bupati HM…

KIBIF Siapkan 20 Ribu Ekor Sapi untuk Pasar Domestik

    NERACA   Jakarta - Setelah resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Estika Tata Tiara…