Do The Best For Our Lives - Albertus Wiroyo, Presiden Direktur PT AXA Mandiri Financial Services

Neraca. Bergabung di industri asuransi sejak 16 tahun yang lalu, kemudian bergabung di AXA Mandiri sejak 2007. Ketertarikan Albertus Wiroyo dengan dunia asuransi, terutama asuransi jiwa, dikarenakan yakin akan tugas mulia yang di embannya. Tugas mulia itu adalah menyelamatkan perekonomian sebuah keluarga, yang mendadak di tinggal oleh tulang punggungnya baik jika dia cacat tetap atau meninggal. Dari sanalah, asuransi jiwa bisa membantu atau menolong keluarga yang ada.

“Masuk ke dunia ini bukannya tidak ada tantangan. Produk ini merupakan yang paling susah dijual. Posisinya unik, karena produk ini susah untuk dijual. Kami menjual suatu produk saat nasabah belum membutuhkannya. Nasabah saat itu masih sehat walafiat, sehingga kebutuhannya belum kelihatan. Lalu saat nasabah memerlukan, misalkan, ia di deteksi terkena penyakit fatal dan kemungkinan besar tidak akan berumur panjang, itu tidak bisa kami jual. Produk asuransi tidak bisa meng-cover resiko yang sudah terjadi. Dari sanalah bagaimana kita meyakinkan nasabah untuk memikirkan resiko tersebut, karena kalau terjadi akan fatal, “ papar Albertus Wiroyo, Presiden Direktur PT AXA Mandiri Financial Services.

Meskipun diakui bahwa ilmu yang didapatnya saat di bangku kuliah, tidak ada hubungan sama sekali, namun ada kita yang dipakainya yaitu learning by doing. Selain itu, pasar asuransi di Indonesia masih sangat luas. Hal ini dilihat dari jumlah penduduk Indonesia diatas 240 juta jiwa, ekonomi kita sendiri jika diukur dari total GDP per kapita tumbuh dengan baik, pendidikan semakin baik jika semuanya itu di bandingkan dengan orang-orang yang ikut asuransi masih sangat sedikit. Dengan demikian, potensinya masih besar dengan kue yang masih besar untuk dinikmati bersama.

“Asuransi AXA Mandiri sendiri fokus di channel distribusi bank assurance, artinya menjual produknya hanya kepada nasabah bank Mandiri maupun anak-anak usahanya, “ ujar alumnus teknik sipil ITB Bandung.

Memilih karir yang terlihat tidak sesuai dengan bidang studi, bukan tanpa alasan. Saat itu, dunia financial industry berkembang pesat. Dunia asuransi sendiri malah belum banyak orang Indonesia yang meliriknya, padahal di negara-negara lainnya, asuransi jiwa merupakan salah satu kekuatan ekonomi negara. Berdasarkan pada kenyataan tersebut, ayah tiga anak itu memutuskan untuk terjun ke dunia asuransi.

Memang diakui juga, ilmu yang dia pelajari selama dibangku kuliah, tidak 100 persen terpakai semuanya. Terutama sekali adalah ilmu bagaimana menyelesaikan masalah, kemudian ilmu manajemen tentunya masih bisa digunakan.

Selain itu, dia juga mengakui telah melakukan perbandingan dengan teman-temannya yang satu almamater, sekarang bagaimana karirnya. Albertus melihat, banyak yang tidak bergerak di bidang teknik sipil malah kebanyakan di dunia perbankan, ujar pria yang mempunyai hobi makan.

Jika kita berbicara mengenai hobinya, “Saya jika datang ke satu kota, maka pertama yang saya tanyakan makanan paling enak apa. Selesai kerja, saya akan mengajak teman-temannya di kota tersebut untuk makan di tempat yang di promosikan. Malahan, jikak dibandingkan dengan makanan lainnya, saya malah suka makanan yang ada di Jakarta yaitu sop kaki kambing”.

Dengan posisinya yang sangat menyita kesibukan, komunikasi kepada keluarga tetap dia lakukan. Bahkan di tempat kerjanya tersebut, ada satu hari dimana keluarga diajak ke kantor. Dengan harapan, anak-anak akan tahu bagaimana orang tuanya bekerja dan memberikan kontribusi ke orang lain. “Bagi saya terpenting adalah kualitas pertemuan dengan keluarga. Bahkan saya masih punya kesempatan mengantar anak ke sekolah setiap harinya, dan menggunakan waktu yang singkat tersebut dengan efektif kepada anak-anak. Hidup ini hanya sekali, jangan terlalu rumit atau stress menjalaninya. Just enjoy it and do the best to solve any problems. Juga percaya Tuhan selalu memberikan jalan terbaik buat kita, “ ujar Albertus ketika ditanyakan filosofi hidup dan pengaturan waktunya kepada keluarga.

Related posts