BI Janji Perbaiki Bunga Kredit Mikro - Masih Dianggap Tinggi

Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengakui suku bunga kredit mikro yang ada saat ini masih tinggi. "Suku bunga kredit mikro memang masih tinggi, nanti kita pelajari. Tapi akses juga penting. Kita itu maunya aksesnya baik, harganya (bunga kredit) murah. Mungkin kita perbaiki ini bertahap, kita perbaiki akses sambil perbaiki harganya," jelas Deputi Gubernur BI Muliaman D Hadad di Jakarta, Senin (28/11).

Namun, lanjutnya, hal penting yang juga perlu diperhatikan selain suku bunga adalah akses masyarakat ke perbankan atau lembaga keuangan formal lainnya untuk memperoleh akses finansial. Untuk itu perlu adanya edukasi ke masyarakat mengenai peran lembaga keuangan terhadap akses ke finansial.

Selain edukasi ke masyarakat, juga penting edukasi bagi kalangan perbankan sendiri. "Karena bank kadang tidak tahu, maka tidak terjadi fungsi intermediasinya. Ini harus dua sisi, dari sisi supply pembiayaan banknya kita edukasi, dan dari sisi demand (permintaan kredit) nasabah juga kita edukasi," tuturnya.

Yang jelas, demi meningkatkan akses masyarakat ke sektor keuangan, Bank Indonesia mewajibkan bank memasukkan sektor kredit mikro dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) tahun depan. "Kredit mikro kita masukkan dalam RBB (tahun depan). Mengenai suku bunganya, memang masih tinggi, nanti kita pelajari lagi," ujar Muliaman.

Sementara itu, sejalan dengan turunnya BI Rate menjadi 6%, PT Bank Tabungan Negara Tbk telah menurunkan pula bunga kreditnya sebesar 50 basis poin (bps). "Suku bunga kredit baru saja kita turunkan 50 bps. Untuk KPR suku bunga kredit kami antara 8,15% sampi 11%," jelas Direktur Utama BTN Iqbal Latanro di Gedung BI Jakarta, Jumat pekan lalu.

Namun, lanjut Iqbal, meski semua suku bunga kredit telah diturunkan 50 bps, ada satu produk yang kreditnya tidak turun. "Untuk kredit KPR bersubsidi, yakni FLPP (fasilitas pembiayaan pemilikan perumahan) tidak turun," tukasnya.

Ke depan, ucapnya, masih ada ruang bagi BTN untuk menurunkan suku bunga kreditnya. "Ada time leg bunga turun kalau sumber dana turun. Itu bertahap. Tahun depan iya ada kemungkinan bunga kredit turun. Kalau biaya dana turun pasti bunganya turun," tuturnya.

Sampai tiwulan III 2011, kredit BTN mengalami pertumbuhan 20,24% dari Rp49,32 triliun pada 30 September 2010 menjadi Rp59,31 triliun pada 30 September 2011. BTN menjaga rasio kredit bermasalahnya (non performing loan/NPL) net per kuartal III 2011 sebesar 3,46% dari 3,47% di periode yang sama 2010.

Sedangkan bagi Bank Permata, BI Rate turun menjadi 6% pada 10 Nopember 2011 silam tidak serta merta diikuti penurunan bunga kreditnya. Penurunan bunga kredit butuh waktu beberapa bulan setelah BI Rate turun. “Penurunan bunga kredit more and less akan mengikuti BI Rate. Tapi ada gap-nya dan tergantung bank-nya masing-masing. Ada yang butuh waktu 3-6 bulan,” kata Direktur Wholeshale Banking PermataBank Roy Arfandy di Jakarta, akhir pekan lalu.

Namun Roy meyakini, sampai akhir tahun ini suku bunga kredit perbankan akan ada penurunan. “Rate kita akan ikut turun pula mengikuti market,” tandasnya.

Menurut Roy, suku bunga kredit yang ada sudah cukup rendah. Dan ia memperkirakan, BI Rate di 2012 akan sekitar 6%-an. Namun, jika kondisi perekonomian bagus dan inflasi rendah maka aka nada peluang untuk BI Rate diturunkan.

BERITA TERKAIT

Ketergantungan Saham Kakap Tinggi - Free Float di Perhitungan Indeks

NERACA Jakarta – Rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan perhitungan indeks LQ45 dan IDX30 berdasarkan saham beredar public atau free…

Reksadana Saham Masih Layak Dikoleksi

NERACA Jakarta - Mulai masuknya dana asing serta meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China diyakini akan membawa angin…

The Fed akan Naikkan Bunga Bertahap

      NERACA   Jakarta - Bank Sentral Amerika Serikat (AS) akan terus menaikkan suku bunga secara bertahap. Hal…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BI Naikkan Suku Bunga Jadi 6%

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuannya pada November 2018 menjadi enam persen,…

Perbankan Diminta Perbaiki Tata Kelola

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap industri perbankan terus memperbaiki tata kelola perusahaan yang…

Bhineka Life dan OJK Gelar Literasi Keuangan untuk Guru

    NERACA   Bandung - PT Bhinneka Life Indonesia (Bhinneka Life) bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional…