IHSG Terseret Arus Bursa Regional

Oleh : Dr. Agus S. Irfani

Lektor Kepala FE Univ. Pancasila

Pergerakan IHSG yang panas dingin selama Nov. 2011 hendaknya menyadarkan kita bahwa aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) akhir-akhir ini terkesan uring-uringan lebih banyak dipicu oleh sentimen negatif bursa regional ketimbang faktor fundamental emiten maupun kondisi ekonomi makro Indonesia yang relatif tahan banting.

Memang tak dapat dipungkiri bahwa secara sistemik pergerakan bursa lokal akan terintegrasi dengan pasang surutnya bursa regional dan global. Masalahannya, kondisi bursa regional dan global saat ini sedang cemas dihantui dampak kiris utang yang kian dalam menggerogoti perekonomian Eropa. Terpuruknya keuangan Yunani yang diikuti Irlandia, Italia, Spanyol, dan Portugal, kini Hungaria mulai mencari bantuan keuangan ke International Monetary Fund (IMF).

Secara fundamental diperkirakan BEI tidak akan banyak terkena dampak krisis utang Eropa, karena besarnya kapasitas ekonomi domestik Indonesia dan rendahnya rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB). Namun besarnya ketergantungan bursa kita terhadap investor asing memaksa kita harus selalu waspada. Besarnya akses investor asing ke pasar global membuat mereka sangat sensitif terhadap isu global dan cenderung mengikuti pola pergerakan bursa global maupun regional.

Hal inilah yang diduga menjadi rantai penghubung pergerakan indeks global, indeks regional, dan IHSG. Adanya berita baik tentang proses penanganan utang oleh Uni Eropa di awal Nov. 2011 yang diikuti oleh membaiknya bursa global dan regional telah memotivasi investor asing meningkatkan pembelian saham-saham di BEI. Faktanya, aksi beli asing tersebut mendongkrak IHSG sebesar 4.69% dari 3.685 pada 1 November ke angka 3.858 pada 9 November.

Gejolak politik di Italia yang memicu anjloknya indeks bursa di AS dan Asia pada 10 Nov. diiringi aksi profit taking investor asing yang diikuti investor lokal telah menekan IHSG 89,25 poin (-2,36%) ke level 3767,40. Kemudian pada 14 Nov. investor asing kembali memotori aksi beli saham bluechips dan second liner di BEI merespon sentimen positif dari pergantian perdana menteri di Yunani dan Italia, sehingga IHSG melonjak 53,27 poin atau 1,41% ke level 3.820,67.

Di pekan ketiga bulan ini tersebar berita negatif tekanan krisis Eropa yang masih berkepanjangan sehingga bursa regional serempak melemah di zona merah. Langkah pemimpin Uni Eropa dalam membantu masalah utang negara-negara di kawasan Euro dengan menyuntik pinjaman melalui IMF gagal meredakan kekhawatiran pelaku pasar. Ditambah lagi dengan kejutan melonjaknya imbalhasil obligasi Perancis, Italia, dan Spanyol semakin menekan IHSG hingga lunglai tak berdaya tergerus oleh aksi jual yang didominasi investor asing dengan penjualan bersih asing Rp404 miliar di bursa yang sedang sepi.

Kemerosotan IHSG berlanjut ke awal pekan berikutnya (21/11) dan kandas di level 3.679,83. Fakta yang berbeda terjadi pada 22 Nov. 2011, meski pada hari tersebut investor asing banyak melakukan aksi jual namun aksi borong investor lokal terhadap saham bluechips, terutama saham-saham ASII, BMRI, dan UNVR mendongkrak IHSG 55,71 poin (1,51%) ke level 3.735,53. Namun aksi profit taking investor sepanjang perdagangan hari Rabu (23/11) IHSG kembali jatuh 48,52 poin ke level 3.687,008. Meski pada hari berikutnya sempat naik 9,02 poin ke level 3.696,03, pada perdagangan akhir pekan lalu ISHG kembali ditutup anjlok 58,84 poin ke 3.637,19. Diprediksi bursa kita akan tetap meriang dan lesu darah hingga adanya berita baik solusi masalah utang Eropa atau adanya stimulus darah segar emiten baru yang IPO di BEI akhir tahun ini.

BERITA TERKAIT

Aksi Beli Asing Lanjutkan Penguatan IHSG

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (15/11) melanjutkan penguatannya dengan ditutup lebih…

Optimisme Investor Dongkrak Laju IHSG

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) Rabu (14/11), ditutup melanjutkan penguatan seiring optimisme investor…

Investor di Bursa Capai 820 Ribu Investor

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan, jumlah investor saham per bulan Oktober 2018 mencapai 820.000 investor berdasarkan…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Ide Cemerlang Jokowi Lewat Proyek Strategis Nasional

  Oleh: Syahrul Gunawan, Mahasiswa FE Universitas Negeri  Masa pemerintahan Presiden Joko Widodo sebentar lagi genap memasuki tahun ke lima.…

Geliat Pasar Tradisional

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi., Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo   Pasar Legi di Solo terbakar pada Senin…

Reformasi Struktural Ekonomi, Mulai dari Mana?

Oleh: Pril Huseno Mencermati pelemahan rupiah yang (kembali) terjadi dan semakin melebarnya current account deficit (CAD) Indonesia, suara-suara agar Indonesia…