Sepuluh Jembatan Besar Perlu Diaudit

NERACA

Jakarta - Kasus ambruknya Jembatan Kutai Kartanegara (Kukar) baru-baru ini sebagai indikasi, pemerintah memang tak mau belajar dari kesalahan masa lalu. Jembatan yang panjangnya 720 meter itu dibangun menggunakan dana APBN sekitar Rp36 miliar. Padahal sebelum runtuhnya Jembatan Kukar, ada kasus serupa Jembatan Timpah yang ambruk 2009 lalu. Jembatan ini panjangnya sekitar 255 meter dan melintasi Sungai Kapuas, Kalimantan Tengah itu dibangun menggunakan dana Rp61,35 miliar dari alokasi APBD dan APBN.

Berdasarkan catatan, Indonesia memiliki sekitar 10 jembatan panjang, diantaranya Jembatan Suramadu (5.438 m), Jembatan Pasupati (2.147 m), Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah / Jembatan Siak (1.196 m), Jembatan Ampera (1.117 m), Jembatan Barito (1082 m), Jembatan Mahulu (789 m), Jembatan Rumpiang (753 m), Jembatan Tengku Fisabilillah / Jembatan Barelang (642 m), Jembatan Kahayan (640 m) dan Jembatan Kutai Kartanegara (720 m).

“Komisi V DPR akan membentuk Panja untuk mengevaluasi kelayakan pembangunan jembatan yang ada di Indonesia. Semua jembatan akan kita evaluasi melalui panja. Apakah benar-benar menjamin keselamatan bagi penggunanya," kata anggota Komisi V DPR Imam Nahrowi di Jakarta, Minggu (27/11).

Yang jelas, menurut dia, insiden ambruknya jembatan Kukar yang memakan korban jiwa itu perlu mendapat respon tinggi. Karena itu pihaknya akan memanggil semua pihak yang bertanggungjawab, temasuk menter. “Ini menjadi perhatian kami. Karena itu, besok memanggil Menteri Perhubungan dan disusul Menteri PU, Gubernur Kaltim, kontraktor, Bupati Kutai, serta semua pihak yang bertanggung jawab," ujarnya.

Wakil Ketua Komisi V DPR, Mulyadi mendesak harus diperiksa semua pihak yang bertanggungjawab, baik dari aspek perencanaan maupun pelaksanaannya. “Jembatan itu baru beroperasi selama 11 tahun. Intinya, harus diteliti secara cermat apa sebabnya,” ujarnya.

Mulyadi menduga pembangunan jembatan bernilai miliar rupiah itu bisa terjadi penyimpangan pada tahap perencanaan maupun pada tahap konstruksi. “Pimpro jembatan itu harus diperiksa,” katanya.

Namun Mulyadi, tak ingin buru-buru digeneralisir masalah itu terhadap jembatan yang lain. “Yang penting dicari tahu dulu apa sebabnya. Padahal Jembatan "Golden Gate" di AS usianya sudah lebih lebih dari 100 tahun tetap kokoh,” tandasnya.

Tidak Ditutup

Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, sebelum runtuh, Jembatan Tenggarong tengah diperbaiki petugas. Namun, saat tengah diperbaiki, jembatan yang menghubungkan Tenggarong Kota dan Tenggarong Seberang ini mendadak runtuh.

"Tiba-tiba ada tali putus kemudian secara berantai tali lain juga putus. Runtuhnya jembatan hanya 30 detik," kata Sutopo, kemarin.

"Selama perbaikan, jembatan tidak ditutup sehingga dengan lalu lintas yang ada tidak kuat dan ambrol," jelasnya, seraya mengatakan, BNPB akan menginvestigasi runtuhnya jembatan yang juga dikenal sebagai Jembatan Kukar itu.

Koordinator Invetigasi dan Advokasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Uchok S. Khadafy, mendesak agar BPK mengawasi secara ketat semua proyek infrastruktur jembatan di Indonesia. Karena anggaran proyek ini sangat rawan korupsi.

“Harus ada yang mengawasi dari proyek infrastruktur negara. Sebenarnya aparat-pun tahu proyek infrastruktur itu banyak yang dikorup. Namun aparat kesulitan membuktikan karena bukan ahli konstruksi. Sehingga banyak yang dibiarkan saja,” ungkapnya.

Uchok meminta KPK tidak segan bergerak menindaklanjuti laporan masyarakat terkait ambruknya jembatan tersebut. “Aparat harus masuk ke dalam proyek infrastruktur negara untuk mengawasi adanya penyimpangan. KPK dan PU harus segera turun tangan untuk mengecek,kenapa jembatan ini bisa roboh” ujarnya.

Lebih jauh, menurut dia, kejadian robohnya jembatan tersebut bisa dikatakan tidak lazim. Karena di samping pembangunan proyek mega tersebut melibatkan banyak sekali ahli konstruksi dari Indonesia dan luar negeri dan umur dari jembatan tersebut yang baru selesai

Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Said Didu menegaskan PII siap melakukan audit investigasi terkait penyebab ambruknya jembatan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur yang terjadi pada Sabtu sore. "PII siap membantu pemerintah mencari penyebab dan sekaligus memberikan solusi komprehensif atas ambruknya jembatan Kutai Kartanegara," ujarnya.

Said mengatakan, investigasi akan dilakukan dari tiga sisi yaitu disain, pelaksanaan, dan operasional. "Semua pihak yang terlibat mulai dari disain, pelaksanaan pembangunan, dan masa operasional jembatan harus dimintai tanggung jawabnya sehingga diketahui apakah pembangunannya memenuhi perhitungan, ketentuan atau syarat yang sesuai dengan standar konstruksi," tegasnya.

Selanjutnya pada tahap pelaksanaan proyek, apakah jembatan tersebut dibangun sesuai dengan desain yang ditetapkan atau malah terjadi penyimpangan. Umumnya konstruksi jembatan didisain berumur panjang minimal 50 tahun atau bahkan 100 tahun. "Audit teknologi dapat dilakukan untuk mengetahui apakah dalam pelaksanaan pembangunan, material dan kekuatan konstruksi kualitas dan kuantitasnya dikurangi atau tidak sesuai dengan yang seharusnya? Kalau ya...maka di situ telah tejadi penyimpangan dan pelanggaran," paparnya.

Selain kontraktor sebagai pelaksana pembangunan dan pihak konsultan perencanaan, maka yang juga dimintai keterangan adalah pihak yang mengoperasikan dan pemeliharaan jembatan. "Apakah petunjuk pelaksanaan dalam mengoperasikan dan memelihara jembatan itu sudah dilakukan sesuai dengan semestinya... Ini yang juga menjadi fokus investigasi PII," ujarnya.

Di tempat terpisah, Menurut Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto mengaku insiden ambruknya jembatan Kutai Kartanegara (Kukar) persoalan serius. "Langka, jarang-jarang ada jembatan 10 tahun bisa runtuh. Ya langka," ujarnya

Meski demikian, Djoko menggarisbawahi, mustahil usia jembatan Kutai Kartanegara hanya berusia 10 tahun, dengan konstruksi baja. Ia pun akan melakukan penelitian atas kejadian ini. "Kalau jembatan itu, usianya tidak mungkin hanya 10 tahun, mesti panjang. Untuk sebab itu kita belum melihat kenapa jembatan yang baru 10 tahun ini bisa runtuh," ujarnya. iwan/agus/cahyo

BERITA TERKAIT

Perlu Memahami Konsep TKDN

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam sistem industri harus hadir dalam dimensi…

Kementan: Pasokan Jagung Dikuasai ‘Feed Mill’ Besar - PENYEBAB TINGGINYA HARGA JAGUNG DI DALAM NEGERI

Jakarta-Kementerian Pertanian mengungkapkan, pasokan jagung di Indonesia kebanyakan dikuasai oleh perusahaan pabrik pakan besar (feed mill). Penguasaan tersebut menjadi salah…

ASEAN Perlu Bekerjasama dalam Pembangunan Berkelanjutan

NERACA Jakarta - Peneliti UI yang tergabung dalam Center for Sustainable Infrastructure Development (CSID) Fakultas Teknik UI menyatakan perlu kerja…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

INDEF MINTA PEMERINTAH WASPADAI HARGA PANGAN - NPI Januari-Oktober Defisit US$5,51 Miliar

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, neraca perdagangan Indonesia (NPI) pada Oktober 2018 masih defisit US$1,82 miliar secara bulanan (mtm) dan…

Ketua BKBM: Kemaritiman Sediakan 45 Juta Lapangan Kerja

NERACA Jakarta - Ketua Badan Kerjasama Usaha Bidang Maritim (BKBM) Rokhmin Dahuri mengatakan bahwa sektor kemaritiman memiliki potensi lapangan kerja…

INDONESIA SEBAGAI NEGARA MARITIM DAN MEMILIKI TANAH SUBUR - Kepala Bappenas Prihatin Kondisi Nelayan Miskin

Jakarta-Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Prof Dr. Bambang Brodjonegoro mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi nelayan di Indonesia. Dia melihat petani dan…