Target Pertumbuhan 2012 Terpaksa Dikoreksi - BI Akui Krisis Makin Berat

NERACA

Jakarta---Kondisi perekonomian global yang makin memburuk “memaksa” Bank Indonesia (BI) kembali mempertimbangkan target pertumbuhan ekonomi nasional pada 2012. Masalahnya dampak potensi krisis saat ini lebih berat dibandingkan krisis 2008. “Dampaknya juga ke proyeksi ekonomi kita (Indonesia) dan ini sedang kami hitung lagi (proyeksinya),” kata Direktur Riset dan Kebijakan Ekonomi Moneter BI Perry Warjiyo kepada wartawan di Jakarta,27/11

Lebih jauh kata Perry, beberapa lembaga internasional telah melakukan koreksi atas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia yang semula diperkirakan sanggup menembus level 4% justru terkoreksi ke bawah. “Koreksi ini lantaran penyulutnya bukan embaga keuangan dengan tata kelola korporasi bermasalah, melainkan negara-negara dengan tata kelola fiskal yang bermasalah,” tambahnya.

Menurut Perry, ekonomi dunia pada 2012 diprediksi hanya mampu tumbuh di kisaran 3,6%-3,7%, dimana ekonomi China yang kini memimpin laju pertumbuhan ekonomi dunia, juga tidak terlepas dari penurunan proyeksi. Semula, China diprediksi mampu tumbuh di level sembilan persen. Seiring perkembangan kondisi ekonomi dunia yang makin buruk, China diperkirakan hanya mampu tumbuh 8,5%

Diakui Perry, awalnya BI optimistis dengan target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,7 persen seperti yang tercantum dalam asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2012 yang telah disepakati dengan pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Namun, pelambatan ekonomi dunia membuat BI melakukan evaluasi. Karena ekonomi nasional 2012 hanya mampu tumbuh di kisaran 6,5%.

Perry mengatakan, dengan kondisi saat ini, kemungkinan besar pihaknya akan mengoreksi target pertumbuhan ekonomi nasional. Secara tidak langsung BI memandang, ekonomi Indonesia sulit tumbuh mencapai 6,5%. “Kami akan rapat dewan gubernur (RDG) awal Desember, nanti akan kami umumkan. Yang jelas, bocorannya, agak berat mencapai 6,5%,” katanya.

Untuk tahun ini, dampak buruk perlambatan ekonomi dunia belum terlalu dirasakan di Indonesia. Namun, dampaknya akan sangat terasa pada tahun depan. Salah satunya masuk melalui sektor perdagangan yang melambat akibat menurunnya tingkat permintaan dunia dan turunnya harga beberapa komoditas dunia.

Pihaknya, lanjut Perry berupaya menjaga stabilitas sektor keuangan, termasuk kepemilikan surat berharga negara (SBN) yang kini 31% dimiliki asing. Saat terjadi sudden reversal, BI menggelontorkan anggaran sebesar Rp64 triliun untuk membeli obligasi pemerintah.

Bahkan Perry mengklaim, BI juga berupaya mendorong aktivitas ekonomi dalam negeri.Salah satunya dengan kebijakan menurunkan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) yang kini di level 6%. Dengan menurunkan BI Rate, pihaknya berharap perbankan juga menurunkan suku bunganya agar bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh sektor riil. “Kuncinya mendorong kekuatan ekonomi dalam negeri, pindahkan sumber kekuatan yang tadinya di luar negeri ke dalam negeri. Perkuat stabilisasi makro dan pasar keuangan,” pungkasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Perlonggar Likuiditas, Jika Ingin Memacu Pertumbuhan

Oleh: Piter Abdullah R, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Untuk pembenahan sektor manufaktur, kuncinya adalah bagaimana…

Pentingnya Inklusivitas Sosial untuk Pertumbuhan Berkualitas

    NERACA   Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan, inklusivitas sosial atau memastikan seluruh warga mendapatkan…

Pendapatan Daerah Banten Triwulan Satu 2019 Lebihi Target

Pendapatan Daerah Banten Triwulan Satu 2019 Lebihi Target NERACA Serang - Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Banten mengungkapkan target pendapatan dari…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Anehnya Boikot Uni Eropa Terhadap Sawit Indonesia

      NERACA   Jakarta – Industri kelapa sawit Indonesia menjadi penopang terhadap perekonomian. Data dari Direktorat Jenderal Pajak…

Meski Naik, Struktur Utang Indonesia Dinilai Sehat

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai struktur utang luar negeri (ULN) Indonesia yang naik 4,8 miliar…

Pentingnya Inklusivitas Sosial untuk Pertumbuhan Berkualitas

    NERACA   Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan, inklusivitas sosial atau memastikan seluruh warga mendapatkan…