Minta Bunga Kredit Murah dari Bank Lokal - Industri Migas

Jakarta - Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) meminta bunga kredit yang rendah serta pelayanan cepat dari perbankan lokal. Saat ini perusahaan migas masih senang memakai bank asing. "Kami mengimbau pasar jelas karena risiko rendah harusnya bunganya lebih rendah," ungkap Wakil Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu BP Migas Hardiono dalam seminar Meningkatkan Ekonomi Nasional Di Sektor Migas yang diadakan di Jakarta, Kamis.

Hardiono mengatakan, dari sisi standar pelayanan, industri justru lebih baik menyukai perbankan asing. Karena, selain sudah percaya segmen migas ini aman bank asing gencar sekali melakukan pendekatan. "Banyak bank internasional justru yang memberikan pelayanan baik. Bukan bank lokal," kata dia.

Di tempat yang sama, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Muliaman Hadad mengungkapkan, dukungan industri perbankan lokal kepada sektor migas saat ini sangat minim. Ini karena bank sulit mengerti risiko kredit yang cukup rendah di sektor tersebut. “Bank kurang mengerti sektor migas karena komunikasi yang tidak lancar antara perbankan dan vendor perminyakan. Sebetulnya tak kenal maka tak sayang. Padahal jika semua dikomunikasikan bisa diatasi," kata Muliaman.

Menurut Muliaman, potensi kredit yang dibutuhkan industri migas sebenarnya cukup besar. Oleh karena itu, masih banyak kesempatan bagi bank untuk menggali sektor ini. "Nanti antara kita dan BP Migas akan ada pertemuan lanjutan. Karena potensinya besar ada harapan perbankan nasional. Kredit sektor migas sih memang sudah besar, tapi karena kebutuhan pembiayaan migas juga besar jadi masih kurang," kata dia.

Lebih jauh Muliaman mengatakan dari sisi regulasi, BI sendiri akan memberikan beberapa kelonggaran bagi bank yang ingin melakukan pembiayaan di sektor migas. "Peraturan BI biasa saja memudahkan. Intinya saya dorong bank untuk melakukan pembiayaan sebesar-besarnya untuk industri ini," imbuh Muliaman.

Bank Indonesia mencatat realisasi pencairan kredit bank ke sektor migas baru mencapai Rp 17 triliun hingga September 2011 ini. Meskipun tumbuh 28%, namun nilai tersebut masih cukup rendah. "Saya outstanding-nya nggak tahu tapi pertumbuhannya kalau nggak salah 28 persen sekitar Rp 17 triliun year to date (Januari-September). Yang jelas, dia tidak masuk di dalam lima besar lah kredit favorit perbankanlah," kata Deputi Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Irwan Lubis.

Dijelaskan Irwan, yang menjadi favorit perbankan termasuk lima besar yakni biasanya kan perdagangan dan industri serta jasa bukan migas. Tapi, menurut Irwan pertumbuhannya sudah cukup bagus. "NPL-nya pun (kredit bermasalah) cukup kecil, di bawah satu persen," tuturnya.

Biasanya, lanjut Irwan, bank menyalurkan kredit migas yang lebih ke arah ekplorasi dan distribusi. Terkait produksi, Irwan mengatakan memang industri migas sudah mempunyai modal yang cukup besar.

Irwan juga mengatakan dari sisi risiko, sebenarnya jauh lebih rendah jika bank menyalurkan kreditnya di migas. "Pasti memang semuanya ada risiko. Karena itu, sebenarnya dengan teknologi sekarang sebenarnya risiko bisa diturunkan. Karena dengan teknologi canggih. Sekarang kan, ekplorasi itu tingkat kepastiannya lebih baik," kata Irwan.

Maka dari itu, Irwan menambahkan BI terus mendorong bank untuk menyalurkan kreditnya di sektor tersebut. "Sebenarnya kalau perbankan nggak ada masalah. Sebenarnya migas ini nggak banyak yang main. Kalau di migas, coba lihat jumlah debiturnya emang nggak banyak," tandas Irwan.

Produksi Melempem

Dalam kesempatan tersebut, Hardiono mengatakan produksi migas Indonesia saat ini masih di bawah target yang ditetapkan oleh pemerintah. Sampai hari ini rata-rata produksi minyak baru 904 ribu barel per hari (bph), sementara target pemerintah adalah 945 ribu bph. "Angka persisnya dari target yang ditetapkan pemerintah 945.000 barel ekuivalen per hari. Jadi kita masih di bawah target, ini disebabkan karena kesalahan teknis dan non teknis di dalam produksi minyak mentah dan gas," ujar Hardiono.

Hardiono menjelaskan, BP Migas kedepannya akan lebih memfokuskan untuk memenuhi kebutuhan domestik serta mengurangi ekspor. "Dari sisi penerimaan kita selalu lebih besar dari target sejak 2005. Tapi dari sisi volume minyak kita belum mencapai target. Namun dalam 4 tahun terakhir volume produksi minyak mulai membaik," kata dia

Lebih lanjut dia mengatakan, BP Migas sekarang ini lebih banyak memproduksi minyak mentah dan gas yang akan melakukan perluasan di Indonesia bagian timur. "Sementara dahulu lebih banyak di wilayah Indonesia Barat," imbuhnya.

BERITA TERKAIT

Bank Mandiri Tawarkan KPR Bunga 6,5%

    NERACA   Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menawarkan kredit pemilikan rumah (KPR) dengan suku bunga tetap…

Mengganti Terigu Impor dengan Produk Buatan Lokal - Teknologi Pangan

        NERACA   Bogor - Mie memang menjadi santapan favorit masyarakat Indonesia, tanpa pandang usia. Sayangnya mie…

BI Naikkan Suku Bunga Jadi 6%

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuannya pada November 2018 menjadi enam persen,…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BI Naikkan Suku Bunga Jadi 6%

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuannya pada November 2018 menjadi enam persen,…

Perbankan Diminta Perbaiki Tata Kelola

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap industri perbankan terus memperbaiki tata kelola perusahaan yang…

Bhineka Life dan OJK Gelar Literasi Keuangan untuk Guru

    NERACA   Bandung - PT Bhinneka Life Indonesia (Bhinneka Life) bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional…