Obligasi Astra Sedaya Finance Naik Jadi Rp 2, 15 Triliun

NERACA

JAKARTA– Besarnya permintaan investor terhadap obligasi yang ditawarkan PT Astra Sedaya Finance Tbk (ASF) memaksa perseroan harus menaikkan nilainya menjadi Rp 2,15 triliun dari sebelumnya Rp 1,5 triliun. Padahal sebelumnya, perseroan juga mengklaim bila obligasi ASF XII mengalami kelebihan permintaan (oversubscribe) sampai dengan Rp 2,7 Triliun.

Hal tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta akhir pekan kemarin. Obligasi yang terbitkan perseroan terdiri dari 4 seri. Diantaranya, seri A bertenor 370 hari dengan jumlah pokok Rp590,5 miliar dan bunga tetap 7,95%. Seri B jangka waktu 24 bulan dengan jumlah pokok Rp239 miliar dan bunga tetap 8,90%.

Sementara untuk seri C tenornya 36 bulan dengan jumlah pokok Rp741 miliar dan bunga tetap 9,70%. Serta seri D bertenor 48 bulan dengan jumlah pokok Rp454,5 miliar dan bunga tetap 10%. Adapun sisa dari jumlah pokok yang ditawarkan sebanyak-banyaknya Rp125 miliar secara kesanggupan terbaik (best effort). Bila jumlah ini tidak terjual sebagian atau seluruhnya, maka atas sisa yang tidak terjual tersebut tidak menjadi kewajiban perseroan untuk menerbitkan obligasinya.

Sebagaimana diketahui, obligasi ini mendapat peringkat idAA dengan outlook stabil dari Pefindo. Dana hasil obligasi ini akan dipergunakan untuk ekspansi pembiayaan kendaraan bermotor.

Sebelumnya, Presiden Direktur ASF Djony Bunarto Tjondro mengatakan, terjadinya kelebihan permintaan pasar diluar ekspektasi perseroan. Namun permintaan obligasi PT ASF akhirnya ditutup sejumlah Rp 2 Trilyun. “Penawaran ditutup sesuai dengan kebutuhan pendanaan ASF,”katanya dalam siaran pers di Jakarta, Kamis (10/2).

Namun sayangnya, dia belum mau menjelaskan persentase investor terhadap oversubcribe obligasi ASF. Hanya dijelaskan, oversubcribe obligasi ASF dikarenakan perusahaan memiliki kinerja yang baik dan investor cukup percaya bila pasar pembiayaan ditahun ini masuk cukup baik. Asal tahu saja, pasar pembiayaan kendaraan di Indonesia masih menjanjikan, maka tak heran banyak industri pembiayaan kendaraan ramai-ramai menerbitkan obligasi untuk peningkatan pembiayaan dan merambah pasar lebih luas.

Sebelumnya, perseroan juga menyampaikan bila target kredit pembiayaan kendaraan tahun ini dipatok lebih moderat. Pada tahun 2011 dipatok Rp 17 triliun atau tumbuh sedikit dibandingkan tahun 2010 mencapai Rp 16,6 triliun. “Target kita ditahun ini sangat moderat dan sewaktu-waktu bisa direvisi bilamana kebijakan pemerintah tidak memberikan imbas yang berarti,”kata DJony Bunarto

Target pembiayaan Rp 17 triliun tahun ini, dimaksudkan untuk selalu menjaga komitmen perseroan dalam pengelolaan pembiayaan yang berimbang antara pertumbuhan pembiayaan dan tingkat kualitas portofolio (utang) yang dimiliki perusahaan.

Diakuinya, kebijakan pemerintah soal pajak dan pembatasan BBM bersubsidi pada April mendatang memberikan efek psikologis bagi masyarakat yang akan memanfaatkan kredit pembiayaan kendaraan bermotor. Pasalnya, masyarakat akan berpikir ulang untuk memiliki kendaraan idaman.

Bahkan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) membenarkan soal kebijakan pemerintah mebatasi BBM bersubsidi dan pajak kendaraan akan memberikan efek negatif pada pasar penjualan kendaraan, tetapi tidak akan berlangsung lama.

Berperan sebagai penjamin pelaksana penjamin (underwriter) obligasi ini adalah PT Indo Premier Securities, PT Mandiri Sekuritas, PT HSBC Securities Indonesia, PT Standard Chartered Securities Indonesia, dan PT OSK Nusadana Securities Indonesia.

Selain itu, obligasi ini mendapatkan tanggal efektif pada 17 Februari 2011, masa penawaran pada 21-22 Februari, penjatahan pada 23 Februari, dan pencatatan obligasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 28 Februari.

Perseroan dapat melakukan pembelian kembali (buy back) obligasi Astra Sedaya Finance XII tahun 2011 dengan tingkat suku bunga tetap ini, baik sebagian atau seluruhnya sebagai pelunasan atau untuk disimpan dan dapat juga dijual kembali setelah satu tahun tanggal penjatahan.

Pembiayaan 2010

Sepanjang 2010 PT Astra Sedaya Finance (ASF) membukukan pembiayaan di tahun 2010 sebesar Rp 16,6 triliun. Jumlah kendaraan yang dibiayai sebanyak 115.000 unit kendaraan bermotor, baik mobil baru, bekas, dan alat berat. Kinerja tersebut berhasil meningkatkan laba bersih anak usaha PT Astra International sebesar 22% dari laba bersih 2009, yakni 414 miliar. Laba bersih anak usaha PT Astra International Tbk (ASII)unauditedper Desember 2010 sebesar Rp 503 miliar.

Secara umum, kinerja keuangan ASF untukReturn On Average Equity(ROAE) mencapai 26,3% atau tertinggi sepanjang lima tahun. Total aset dan kewajiban tumbuh 40%. Sementara itu, ratio pinjaman terhadap modal mencapai 5,4 x. Namun, angka ini masih lebih kecil dari ketentuan maksimal sebesar Rp10 x.

Kemudian untuk pembiayaan tahun lalu, ASF lebih banyak didapatkan dari join finance dengan porsi 33%, penerbitan obligasi 18%, pinjaman bank 21% dan sisanya kas internal. Menyinggung soal NPL, sejauh ini sangat sehat. Dimana NPL sangat balance atau 0,8% dari batas pembayaran kredit 60 hari.

Sebagai informasi, total target pembiayaan ACC ditahun ini Rp 21 triliun. Sedangkan Astra Internasional menargetkan penjualan mobil tahun ini naik 10% dibandingkan tahun lalu sebesar 765 unit dan motor 8,3 juta naik dibandingkan 2010 sebanyak 7,3 juta unit.

Kinerja perseroan tercacat cukup baik. Dimana total asset dan kewajibam bertumbuh 40% dengan peningkatan laba bersih 22%. Jumlah aset 2010 dibukukan mencapai Rp 13, 86 triliun naik dibandingkan 2009 Rp 9,8 triliun. Pendapatan Rp 2,4 triliun naik dibandingkan tahun lalu Rp 1,7 triliun dan laba bersih Rp 503 miliar dibandingkan 2009 hanya Rp 374 miliar.

Sementara ROAE mencapai 25,3% tertinggi sepanjang 5 tahun terakhir dan ratio pinjaman terhadap modal mencapai 5,4 kali. Namun masih lebih kecil dari ketentuan maksimal sebesar 10 kali. (bani)

Related posts