Kelas Menengah “Tumpuan” Ekonomi Indonesia

NERACA

Jakarta- Prediksi Bank Dunia yang memperkirakan kelas menengah Indonesia tumbuh mencapai 240 juta dari 330 juta penduduk nasional per tahun hingga 2030. Kelas menengah ini naik 57% dari total populasi nasional (2010) menjadi 78% pada 2030. “Kelas menengah ini adalah penduduk yang berpenghasilan 2-20 dollar AS per hari. Bahkan pertumbuhan kelas menengah ini menjadi tulang punggung bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Ekonom Standard Chartered, Eric Alexander Sugandi kepada wartawan di Jakarta,24/11

Dengan ini, kata Sugandi, Indonesia diprediksi mampu menjadi perekonomian terbesar keenam pada masa super-cycle tahun 2025-2030. Super-cycle sendiri merupakan suatu periode di mana perekonomian dunia tumbuh cepat sebagai dampak dari kombinasi beberapa faktor, misalnya saja kemajuan teknologi dan sumber daya alam. Dalam periode ini, Eric menyebutkan, ekonomi Indonesia diperkirakan bisa berada di bawah Amerika Serikat, India, Brasil, dan Jepang.

Di antara jumlah tersebut, Eric menjelaskan, kelas menengah-menengah yang berpenghasilan 6-10 dollar AS per hari dan kelas menengah-atas yang berpenghasilan 10-20 dollar AS per hari akan mengalami pertumbuhan terbesar dibandingkan dengan kelas menengah-bawah yang berpenghasilan 2-6 dollar AS tambahnya (24/11).

Pertumbuhan kelas menengah ini diperkirakan akan mendorong pertumbuhan konsumsi. Sekarang ini, sebut dia, konsumsi rumah tangga mengambil porsi 56 persen dari PDB. Jadi, dengan pertumbuhan kelas menengah ini, maka konsumsi rumah tangga diperkirakan juga akan tumbuh. "Peran kelas menengah dalam pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari pertumbuhan permintaan pada barang, seperti mobil, motor, kartu kredit, housing, apartemen.

Pertumbuhan konsumsi ini juga didorong oleh prediksi kenaikan PDB per kapita nominal dari 2.977 dollar AS pada tahun 2010 menjadi 28.600 dollar AS pada 2030. Namun, angka itu bisa terwujud, terang Eric, jika pertumbuhan ekonomi dalam tingkat yang terkendali sebesar 7 persen per tahun, inflasi 5%-6% dan rupiah berada dalam rentang 7.000-8.000 dalam 20 tahun ke depan.

Peningkatan jumlah kelas menengah ini diyakini memberikan tambahan dukungan bagi permintaan dalam negeri dan pertumbuhan di masa depan. Konsumsi dalam negeri yang tinggi menjadi faktor utama ketahanan negeri ini saat krisis keuangan tahun 2008. Konsumsi yang naik sekitar 4,6% pada 2010 dan 4,9% pada 2009 berada di balik pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap positif.

Dari sisi fundamental, Bank Pembangunan Asia (ADB) juga memuji Indonesia. Negeri ini disebut satu-satunya dari negara anggota ASEAN-4 yang diprediksi bakal lebih stabil dengan dorongan kuat dari sisi permintaan sehingga mampu tumbuh 6,4% (2011) dan 6,7% (2012). Anggaran utang pemerintah terhadap PDB di bawah 30% juga dinilai masih masuk akal bagi penguatan perekonomian.

Sebagai tujuan investasi, Indonesia saat ini dinilai lebih menarik dibandingkan China dan India sekalipun. Kedua negara itu dianggap sudah mengalami masa pemanasan berlebihan karena pengembangan infrastruktur dan sektor riil lainnya semakin kecil. Indonesia har us mampu memanfaatkan kondisi kurang menguntungkan kalau tidak mau disebut cenderung mengkhawatirkandi kawasan Eropa dan AS. **wawan

BERITA TERKAIT

Ekonomi Digital Wujudkan Kemandirian Perekonomian Nasional

Oleh: Muhammad Razi Rahman Tahukah Anda istilah "Third Wave Economy" (Ekonomi Gelombang Ketiga)? Menurut futurolog AS, Alvin Toffler, dalam "Third…

CEPA Jangan Batasi Kebijakan Pemerintah Kelola Ekonomi

    NERACA   Jakarta - Perjanjian Kemitraan Komprehensif yang sedang dibahas antara Republik Indonesia dan Uni Eropa, yang kerap…

Indonesia Belum Miliki Cadangan BBM Nasional

      NERACA   Jakarta - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengusulkan harus adanya pengadaan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Utang Luar Negeri Indonesia Naik 10,1%

      NERACA   Jakarta - Jumlah utang luar negeri Indonesia di akhir 2017 meningkat 10,1 persen (tahun ke…

Muliaman Hadad Ditunjuk jadi Dubes RI untuk Swiss

    NERACA   Jakarta-Mantan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman Darmansyah Hadad resmi ditunjuk menjadi Duta Besar…

Tiga Tahun Jokowi Diklaim Berhasil Turunkan Inflasi

      NERACA   Padang - Pejabat Kantor Staf Presiden (KSP) memaparkan dalam tiga tahun perjalanan pemerintahan Presiden Jokowi…