Tarif Cinta di Penjara

Neraca. Dua perempuan muda terlihat asyik ngobrol di kafetaria Rumah Tahanan (Rutan) Salemba. Penampilan keduanya terlihat seksi. Kehadiran dara cantik itu, tentunya saja jadi pemandangan tersendiri bagi para pembesuk dan narapidana di Rutan tersebut. “Itu Jablay Mas,” bisik salah seorang sipir yang kebetulan sedang istirahat di kafetaria itu. Sipir itu melanjutkan, kafetaria di Rutan Salemba memang sudah menjadi “pangkalan” bagi mereka, sebutan untuk perempuan pekerja seks komersial (PSK). Mereka datang khusus untuk melayani para napi di Rutan Salemba.

Keberadaan para jablay ini memang jadi berkah tersendiri bagi para sipir. Selain mendapatkan uang dari sewa ruangan untuk ber ah uh ria, beberapa diantaranya ada juga yang merangkap sebagi calo. Para sipir seperti ini biasanya menawarkan jasa pelayanan seks kepada para napi di Rutan salemba. Ia akan mendapat bagian dari jablay Rp50 ribu sampai Rp100 ribu per sekali transaksi.

Tarif para mereka yang beroperasi di Rutan Salemba berkisar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu, per sekali kencan, tergantung negosiasi. Soal ruangan tempat yang disediakan terdiri dari beberapa kelas. Ada kelas eksekutif, bisnis, dan ekonomi. Sebab di Rutan itu ada beberapa ruangan yang bisa dijadikan tempat pelepasan hasrat seksual napi. Misalnya di ruang Bagian Hukum dan Pelayanan tahanan (BHPT), ruang penyidikan, atau di ruang meeting sipir. Masing-masing ruangan dilengkapi matras dan kipas angin. Ruangan ini disebut kelas bisnis.

Nah, bagi napi yang berkantong cekak juga tersedia harga sewa kelas ekonomi, seharga Rp50 ribu dengan durasi 30 menit. Ruangan yang digunakan adalah toilet. “Biar di Toilet nggak masalah. Yang penting hasrat bisa tersalurkan,” kata Suryo, sebut saja begitu, napi yang menghuni Blok N. Fasilitas yang disediakan di toilet memang ala kadarnya, yakni hanya sebuah bangku kayu. Toh meski fasilitas terbatas ruang toilet banyak yang diminati. Ini lantaran harganya relatif murah dibanding ruangan lainnya.

Pengelola kelas toilet pun berbeda dengan kelas lainnya. Bila ruang kelas bisnis dan eksekutif dikelola sepenuhnya oleh sipir, sedangkan toilet dikelola oleh napi senior yang disebut tahanan pendamping (tanping). Napi ini bertugas menerima uang sewa dan berjaga di depan toilet. Sebab seluruh toilet pintunya tidak bisa dikunci dari dalam.

Meskipun dikelola napi, uang hasil sewa sebagian besar disetorkan ke sipir. Hitungannya, 70 % untuk sipir dan 30 % dibagi napi yang mengelola, termasuk foreman atau kepala suku. “Dalam sehari dan kalau lagi ramai bisa menghasilkan uang Rp3 juta dari tiga toilet yang disewakan” kata Rudi, tanping Rutan salemba.

Para jablay pun tidak merasa risih bila harus melayani napi di ruangan yang serba terbatas itu. Misalnya Windi, teman seprofesi Ayu. Secara blak-blakan ia mengatakan, justru merasa lebih senang bila melayani di toilet. Sebab, kata Windi, waktunya relatif singkat, yakni hanya 20 menit sampai 30 menitan. Sehingga ia bisa melayani napi yang lain yang ingin berkencan dengannya.

Windi juga mengaku tidak hanya melayani hasrat seksual para napi. Para pembesuk yang berminat kencan juga ia layani. Tapi lokasinya hanya di toilet. Sebab ruangan lainnya hanya diperuntukkan bagi napi.

Misalnya di Rutan Salemba, yang menyediakan ruangan “asmara” dengan tiga kelas. Kelas pertama adalah kelas ekonomi, yakni berupa toilet umum untuk para pembesuk. Di tempat ini harga sewanya Rp50 ribu. Ada juga kelas bisnis, yang merupakan ruangan Bagian Hukum dan Pelayanan Tahanan (BHPT), ruang penyidikan, dan ruang meeting. Tempat ini dibandrol Rp250 ribu untuk satu jam.

BERITA TERKAIT

Mantan Dirut Jasindo Divonis 7 Tahun Penjara

Mantan Dirut Jasindo Divonis 7 Tahun Penjara NERACA Jakarta - Mantan Direktur Utama (Dirut) Korporasi PT Asuransi Jasa Indonesia (PT…

Pemerintah AS Didesak untuk Tidak Kenakan Tarif Otomotif

NERACA Jakarta – Delapan organisasi perdagangan AS telah mendesak Presiden Donald Trump untuk tidak mengenakan tarif impor pada mobil dan…

PEMERINTAH DIMINTA TETAPKAN “SINGLE TARIFF” - BPKN: Kebijakan Tarif Pesawat Langgar UU Konsumen

Jakarta-Badan Perlindungan Konsumen Nasional menilai kebijakan tarif batas bawah dan batas atas untuk tiket pesawat telah melanggar hak konsumen, seperti…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Ada Kartel Tiket Pesawat?

KPPU tidak pernah setuju penetapan tarif batas bawah ini karena akan menutup perusahaan lain yang efisien untuk bersaing secara sehat.…

Menhub: Takkan Subsidi Tiket Pesawat

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memastikan tidak akan mensubsidi tiket pesawat niaga berjadwal untuk menekan harga tiket pesawat yang selama…

Agen Sambut Baik Turunnya Harga Tiket

Sejumlah agen perjalanan di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, menyambut gembira kebijakan Pemerintah Pusat yang telah mengeluarkan aturan baru terkait penurunan…