Deviden Multipolar 2010 Senilai Rp 77,27 Miliar

Jakarta – Membaiknya kinerja PT Multipolar Tbk (MLPL) ditahun 2010 yang berhasil meraih keuntungan sebesar Rp 100 miliar, membuat perseroan bisa berbagi keuntungan atau deviden. Untuk tahun buku 2010 deviden yang akan dibagi senilai Rp77,27 miliar.

Sekretaris perusahaan Multipolar, Chrysologus RN Sinulingga dalam siaran persnya akhir pekan kemarin mengungkapkan, pembagian deviden tahun 2010 senilai Rp 77, 27 miliar setara dengan Rp10 per lembar saham yang akan dibagikan kepada para pemegang saham sebanyak 7.727.542.830 saham. Pembagian tersebut akan dilakukan pada Kamis, 10 Maret 2011.

Sesuai hasil keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) diakhir Januari lalu, laba bersih perseroan 2010 juga akan digunakan untuk dana cadangan sebesar Rp300 juta dan sisanya senilai Rp2,75 miliar akan dibukukan sebagai laba ditahan perseroan.

Sebagaimana diketahui, pembagian deviden sebesar Rp 10 per lembar saham mendapatkan respon negatif dari para investor akibat kekecewaan nilai deviden yang terbilang kecil. Angka ini kecil bila dibandingkan dengan raihan keuntungan tahun 2010 sebesar Rp 100 miliar.

Deviden Yang Janggal

Menanggapi kejanggalan tersebut, para investor mempermasalahkan kebijakan perseroan dan mendesak Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) untuk turun tangan memperjuangkan hak para investor. “Biasanya Bapepam akan turun tangan menyelidiki masalah ini. Apalagi ada keinginan kuat investor yang akan menggugat masalah ini langsung ke Bapepam," kata Ketua Masyarakat Investor Sekuritas Indonesia (Missi) Johannes Sutikno di Jakarta, Senin (14/2) kemarin.

Menurutnya, penentuan pembagian deviden sebesar Rp 10 per saham dinilai banyak kejanggalan dan keanehan. Oleh karena itu perlu diproses agar tidak adalagi keanehan dan transparansi.

"Kami sebagai pemegang saham kecil merasa kecewa dengan keputusan tersebut, karena rapat juga tidak berjalan transparan di mana pemegang saham yang setuju hanya yang mempunyai kepemilikan di atas5%, itu pun orangnya tidak ada di dalam rapat," ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, pelaksanaan RUPS kemarin berjalan alot ketika menyinggung soal pembagian deviden sebesar Rp 10 per saham. Dividen ini setara dengan Rp77,28 miliar. Dividen ini cuma sebesar 2,75% dari laba bersih perseroan pada tahun 2010 Rp2,8 triliun. Padahal, sebelumnya dalam prospektus stock split dan reverse stock, perseroan berjanji membagikan dividen sebesar 15-20%. "Dalam prospektus yang diterbitkann dulu, disebutkan dividen yang akan dibayarkan 15-20%. Tapi kok cuma segini yang dibayarkan, mereka tidak tepati janjinya,"tegasnya.

Disebabkan tidak adanya penjelasan yang memuaskan dari perseroan soal penetapan pembagian deviden, sebagian investor kecil menolak keras kebijakan perseroan. Namun sayangnya, jumlah pemegang saham publik kalah jumlah dibandingkan dengan pemegang saham utama, maka keputusan tetap dijalankan. "Mau bagaimana lagi, tetap saja mereka yang menang. Karena mereka punya saham yang lebih banyak lagi," tandasnya.

Sudah Sesuai Aturan

Menanggapi keluhan para investor, manajemen memiliki jawaban sendiri dan tetap bersikukuh bila penentuan deviden sudah sesuai aturan dan ketentuan yang ada. Direktur MLPL Harjono Suwarno menegaskan, pembagian deviden sudah sesuai aturan dan bahkan dinilai sangat menguntungkan bagi investor jangka panjang karena menggunakan dana untuk investasi, “Rp10 per saham itu sesuai dan kita menolak kalau dinilai terlalu sedikit,” tegasnya.

Terkait dengan janjinya untuk memberikan sebesar 20-25% untuk dividen dalam prospektus beberapa waktu lalu, dia juga mengatakan itu hanyalah usulan dari manajemen. "Itu hanya usulan, tergantung kondisi keuangan. kalau tidak punya akan dibagikan semua," imbuhnya.

Sebagai informasi, sepanjang 2010 lalu, MLPL mencatatkan laba bersih sebesar Rp2,8 triliun, meningkat 2.457,23% dari tahun sebelumnya Rp110,7 miliar karena pihaknya menjual PT Matahari Departemen Store Tbk (LPPF/MDS) oleh PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA).

Perseroan juga menetapkan pembagian deviden sebesar Rp77,28 miliar atau Rp10 per saham Voting untuk menetapkan besaran dividen berjalan alot karena ada pemegang 160 juta saham Multipolar menolak usulan itu karena dianggap terlalu kecil dan tidak sesuai dengan kebijakan dividen Multipolar.

Dividen tersebut setara dengan dividend payout ratio (rasio pembayaran terhadap laba) sebesar 2,76% dari laba bersih tahun lalu Rp2,8 triliun.

Selain itu, perseroan memproyeksikan pendapatan tahun ini mencapai Rp12 triliun dari Rp11,2 triliun di tahun 2010 atau naik 7,2%. Untuk pendapatan recurring diproyeksikan tahun ini naik 23,9% senilai Rp12 triliun dari Rp9,7 triliun tahun 2010. Sedangkan EBITDA naik 40% senilai Rp651 miliar dari Rp467 miliar di tahun 2010.

MLPL akan meningkatkan investasi hingga dua kali lipat untuk bisnis hyperrmarket. Investasi ini dilakukan melalui PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA). Target gerai Hypermarket baru mencapai 17 buah dengan pembukaan 5 gerai dilakukan di tahun 2010. Semua divisi usaha lain dari MLPL juga melakukan strategi untuk tumbuh secara berkelanjutan di tahun ini.

Kata Harjono, hasil keuangan tahun 2010 cukup kuat dengan memperoleh lonjakan laba menjadi Rp2,83 triliun atau naik 2,5% dari tahun sebelumnya. Hasil ini diperoleh dari devisi bisnis departement store milik MPPA.

Sebelumnya, per 31 Desember 2010, perseroan memperoleh laba bersih sebesar Rp2,8 triliun dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp110,691 miliar. Sedangkan penjualan bersih mencapai Rp9,5 triliun dari Rp10,8 triliun di periode yang sama tahun 2009.

Namun beban pokok pemnjualan dan jasa dengan laba kotor mencapai Rp2,1 triliun dari Rp3,6 triliun pada periode yang sama tahun 2009. Sedangkan beban usaha mencapai Rp15,8 miliar dari Rp545,1 miliar pada periode yang sama tahun 2009.

Dengan perhitungan tersebut maka labaa dari aktifitas normal sebesar Rp106,1 miliar dari Rp260 miliar di tahun 2009. Untuk laba bersih sebear Rp2,8 triliun dari Rp110.691 miliar. Laba per saham dasar sebesar Rp505,52 dari Rp65,25 per saham.

PT Multipolar Tbk (MLPL) merupakan pemegang saham pengendali PT Matahari Putra Prima Tbk. (MPPA) sebagai perusahaan ritel makanan di Indonesia saat ini sedang mencari investor global untuk membeli anak usahanya Hypermart pasca divestasi PT Matahari Department Store Tbk. (bani/ardi)

Related posts