Bukan Usaha Tanpa Resiko Tinggi

Neraca. Event organizer ini biasa disebut dengan promotor yang bertanggung jawab penuh terhadap acara, mencari dan hingga pelaksanaannya. EO jenis itu berisiko besar dibanding dengan EO yang bekerja by demand, seperti promotor olahraga, konser musik dan lainnya. Menurut pengakuan seorang pekerja EO, ia merasakan mulai dari perencanaan hingga hari pelaksanaan konser, bisnis EO musik penuh dengan ketidakpastian.

Risiko EO musik yang paling utama adalah kondisi politik dan keamanan. Meskipun acara sudah

tersusun rapi, semua peralatan pendukung sudah siap, tiket ludes terjual, artis fee sudah dibayar penuh. Tapi tiba-tiba seminggu sebelum acara ada teroris meledakkan bom.

Biasanya kalau negara asal si artis itu mengeluarkan travel warning berkaitan dengan ledakan bom tadi, ia akan membatalkan konsernya. Karena kalau sudah keluar peringatan tidak ada lagi asuransi yang berani meng-cover perjalanan konsernya. Selain itu juga risiko tiket tidak laku jual. Misalnya seminggu sebelum acara digelar tiket yang terjual kurang dari 20 persen. Untuk membatalkan konser jelas tidak mungkin karena acara ini melibatkan banyak orang. Inilah risiko EO musik, meskipun sudah ketahuan bakal rugi tetap harus jalan. Beda dengan EO yang menyelenggarakan acara seminar. Kalau pengunjungnya dirasa belum mencapai target masih bisa diundur.

Dalam pengelolaan acara oleh EO, dikenal pula istilah, high risk high return. Prinsip investasi yang berlaku semua usaha EO. Meskipun berisiko besar, tapi juga memiliki potensial dalam menghasilkan keuntungan yang luar biasa menggiurkan. Menurut pengakuan Tommy dari Original Production, jika acara konser sukses keuntungannya bisa mencapai 100 persen. Pemasukan terbesar dari bisnis EO musik ini berasal dari sponsor dan penjualan tiket.

Untuk bisa menggaet sponsor pengusaha EO harus memiliki koneksi clan memahami pasar. Sejauh ini perusahaan rokok paling gemar menyeponsori acara konser musik. Tapi bukan berarti semua perusahaan rokok mau keluar uang untuk mendukung acara Anda. Setiap artis memiliki segmen pasar sendiri, jadi harus dicari sponsor yang memiliki segmen yang sama. Sponsor hanya mau keluar uang kalau target marketnya tercapai. Yaitu berapa besar ia keluar uang, dan berapa banyak iklannya dilihat orang yang menjadi sasarannya.

Banyaknya media saat ini, juga memudahkan Anda dalam hal promosi, fasilitas internet yang semakin mudah dan cepat dan tentu saja memberikan brosur kepada sekolah-sekolah, tempat bermain atau mall sebagai promosi offline, yang perlu diingat jika adan telah mendapat klien berikan mereka sevice yang optimal karena ini adalah bisnis jasa, kepuasan adalah segalanya.

BERITA TERKAIT

Program CSR Bukan Hal Mudah Bagi Perusahaan

Dewasa ini kerap digelar acara pemberian penghargaan kepada perusahaan-perusahaan yang dinilai telah menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate…

Kadin Berharap Pemerintah Susun Regulasi Lebih Pro Dunia Usaha - Sektor Riil

NERACA Jakarta – Kamar Dagang dan Industri Indonesia berharap pemerintah membuat kebijakan dan regulasi bidang kelautan dan perikanan pro dunia…

LPDB Ajak KUMKM Babel Kembangkan Usaha

LPDB Ajak KUMKM Babel Kembangkan Usaha NERACA Pangkal Pinang - Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…