Mandiri Optimalkan Transaction-Banking - Capex 2011 Bank Mandiri untuk TI Capai Rp 1 triliun

NERACA

Kuningan– Tuntutan industri perbankan memberikan pelayanan yang baik kepada nasabahnya sudah menjadi keharusan dan salah satu transaksi yang sudah dikenal sebagai transaction banking (TB), terbukti mampu meningkatkan efisiensi nasabah. Selain itu, keuntungan lain yang didapatkan memberikan pembayaran berbagai tagihan dengan cepat dan aman.

Direktur Corporate Banking Bank Mandiri, Fransisca Nelwan Mok mengatakan, manfaat dari transaction banking menciptakan transparansi laporan keuangan disaat transaksi internal ataupun dengan pihak di luar perusahaan. “TB bermuara pada single finance reporting yang lebih menjamin transparansi dan meningkatkan akuntabilitas keuangan perusahaan dan institusi,” kata Fransisca dalam workshop TB di Kuningan, Jawa Barat, Sabtu kemarin (19/2).

Dia juga menekankan, untuk BUMN dan lembaga negara, transpransi yang ditawarkan sistem TB Bank Mandiri menyokong terwujudnya praktik Good Corporate Governance. Selain itu, efisiensi juga mendorong kinerja keuangan sehingga berdampak pada kenaikan laba dan kelancaran operasional. Harapan Fransisca, layanan TB turut mendukung pertumbuhan perkonomian nasional.

Kata Fransisca, belanja modal Bank Mandiri tahun 2011 khusus untuk memperkuat jaringan teknologi informasi dan infrastruktur mencapai US$ 12 juta atau mencapai Rp 1 triliun. Kemudian TB bank BUMN saat ini didukung dengan 1354 kantor cabang, 24 trade center service, dan 6488 ATM Mandiri dan lebih dari 13000 ATM Link dan ATM Bersama.

Saat ini, jumlah nasabah corporate banking Bank Mandiri tercatat sebanyak 2.201 nasabah. Sebagian besar telah menggunakan layanan pengelolaan transaksi keuangan Bank Mandiri. Beberapa layanan pengelolaan kas yang banyak dimanfaatkan antara lain, fasilitas Mandiri Cash Management (MCM) untuk membantu nasabah melakukan pembayaran ke pihak ketiga dengan lebih cepat dan efisien, serta fasilitas Mandiri Virtual Account (MVA) yang dapat membantu nasabah memperoleh data real time atas transaksi pembayaran dari mitra usaha secara lengkap dengan identitas pembayar.

“Dengan MCM, nasabah seperti memiliki bank sendiri sehingga dapat melakukan transaksi 24 jam dalam seminggu. Fitur yang lengkap serta tingat keamanan yang tinggi sanggup memenuhi kebutuhan nasabah akan pelayanan prima serta solusi perbankan yang tepat,” tutur Fransisca.

Fee Based Income

TB yang dikembangkan Bank Mandiri juga berkontribusi pada pendapatan dari komisi (fee based income). Sepanjang 2010, realisasi fee based income Bank Mandiri mencapai Rp8,3 triliun. Hal ini berarti terjadi pertumbuhan sebesar 57% dari perolehan pada tahun sebelumnya yang mencapai Rp5,3 triliun. “Salah satu strategi utama kami untuk mendorong bisnis ini adalah melalui wholesale transactions, dimana Bank Mandiri dapat melayani transaksi-transaksi perbankan bagi mitra usaha nasabah korporasi kami. Hal ini sejalan dengan keinginan kami untuk menjadi mitra perbankan dengan solusi keuangan yang komprehensif dan terpercaya,”ungkap Fransisca.

Dalam rangka mendukung tujuan tersebut, Mandiri telah memperkenalkan berbagai layanan pengelolaan keuangan yang disesuaikan dengan kebutuhan transaksi perbankan nasabah, seperti pengelolaan pembayaran (payment management), pegelolaan penerimaan pembayaran (collection management) dan pengelolaan likuiditas (liquidity management).

Selain itu, perusahaan juga terus mengembangkan sistem teknologi informasi (IT) untuk menopang berbagai transaksi keuangan perbankan yang kini semakin kompleks.

PLN Manfaatkan Mandiri

Sejauh ini, nasabah kategori korporat bank plat merah ini makin berkembang. Di antaranya yaitu Pertamina, Telkom Indonesia, Garuda Indonesia, Indosat, Krakatau Steel, Semen Gresik, dan Indofood. Sementara itu, perguruan tinggi telah menerapkan TB dari bank ini yaitu Universitas Gadjah Mada, Unversitas Indonesia, STAN, dan Universitas Sumatera Utara. Layanan TB Bank Mandiri juga dipercaya perusahaan energi dan tambang nasional seperti Perusahaan Gas Negara, Aneka Tambang, Chevron, ExxonMobil dan Perusahaan Listrik Negara (PLN).

PLN sendiri telah memanfaatkan fasilitas itu sejak beberapa tahun yang lalu. Dalam skema fasilitas tersebut, konsumen PLN dapat dengan mudah melakukan pembayaran listrik secara online melalui layanan e-banking Bank Mandiri, termasuk lewat ATM Mandiri. Sementara itu di sisi yang lain, PLN dapat dengan mudah melakukan pemantauan dan pengawasan dan melakukan penarikan hasil pembayaran secara harian. Dari rata-rata jumlah tagihan listrik PLN sebesar Rp 10 trilliun per bulan, 20% di antaranya atau Rp 2 triliun melalui jalur TB Bank Mandiri.

Pemanfaatan fasilitas cash management Bank Mandiri telah memberikan dampak yang positif bagi PLN dalam meningkatkan efektifitas dan efisiensi transaksi keuangan, sekaligus berhasil memangkas biaya operasional melalui pemanfaatan sistem IT dan jaringan bisnis Bank Mandiri yang tersebar di seluruh Indonesia. Keberhasilan PLN meningkatkan efisiensi transaksi keuangan tadi, tentunya memberikan kontribusi yang signifikan bagi PLN dalam mengelola penyediaan listrik bagi masyarakat luas.

“Dampak bagi PLN, kami bisa melakukan efisiensi secara nasional. Bandingkan saja, jika kami harus membangun jaringan, outlet sendiri dan infrastruktur sendiri,” kata Manajer Senior Pengelolaan Pendapatan PLN Pusat Iskandar pada kesempatan yang sama. Alih-alih membangun jaringan sendiri, PLN cukup menyediakan pusat database yang terkoneksi secara realtime ke server TB Bank Mandiri.

Terkait kontribusi TB pada akuntabilitas dan transparansi laporan keuangan, iskandar mengakui hal ini. Dengan sistem online dan realtime, laporan keuangan dari masing-masing wilayah segera masuk ke kas PLN pusat dan terintegrasi dengan pembukuan. Hal ini menutup kemungkinkan manipulasi dan memudahkan pengawasan. “Laporan keuangan yang salah satunya berbasis dari TB ini juga menjadi materi pemeriksaan dari BPKP,” papar Iskandar. Selain itu, pemda yang membayar Pajak Penerangan Jalan dapat mencocokkan nilai tagihan dengan transaksi. Ini juga dapat dipantau oleh masyarakat daerah bersangkutan sebagai bentuk transparansi.

Bagi PLN, inovasi layanan pengelolaan kas yang diberikan Bank Mandiri telah mampu menjawab kebutuhan korporasi untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi operasional perusahaan. Sinergi yang telah dibangun kedua BUMN dalam pengelolaan keuangan atau cash management, diharapkan dapat menjadi stimulus yang positif bagi kedua BUMN untuk semakin meningkatkan performa usaha. Selain itu, Bank Mandiri juga berperan meningkatkan kapasitas UKM termasuk KUD di Indonesia untuk menjadi outlet pembayaran listrik yang transaksinya ditangani TB bank tersebut.

Iskandar juga mengakui, manfaat TB memungkinkan PLN makin fokus pada bisnis inti sebagai perusahaan pemasok energi listrik nasional sehingga kegiatan-kegiatan yang menimbulkan risiko likuiditas dilakukan dengna bekerja sama dengan perbankan. Hal ini didukung oleh pengalaman, profesionalitas, infrastruktur yang lebih menjamin keamanan transaksi dan kelancaran likuiditas PLN. *Inung

Related posts