2012, Inflasi Tetap Perlu Diwaspadai

2012, Inflasi Tetap Perlu Diwaspadai

Jakarta – Pemerintah diminta tetap mewaspadai lonjakan inflasi di 2012 meski pertumbuhan ekonomi Indonesia mengarah pada perbaikan. Hal ini bisa terpengaruh dari krisis AS dan Eropa yang berkepanjangan. "Yang harus diwaspadai adalah inflasi, jangan sampai terlalu tinggi. Kalau double dip recesion di AS dan Eropa tidak terjadi dan recovery di pasar global berlanjut akan memunculkan tekanan terhadap inflasi," kata Co Head of Global Markets HSBC Indonesia Ali Setiawan di Jakarta,

Lebih jauh Ali mengatakan, hal lain yang patut diwaspadai juga adalah masalah cuaca yang saat ini memasuki musim hujan. "Saat masuk musim hujan biasanya banyak faktor yang berimpact kepada inflasi kita," tambahnya

Ali menambahkan seharusnya pemerintah segera mereformasi struktural terkait, pemulihan dan perbaikan infrastruktur yang ada di desa-desa serta liberalisasi bisnis untuk menciptakan konsolidasi bisnis yang mudah terhadap persoalan birokrasi.

Namun, secara keseluruhan, Ali memandang pertumbuhan ekonomi Indonesia masih baik di 2012. "Kalau dunia masuk ke skenario tidak terjadi double dip recesion di Eropa dan AS, pertumbuhan ekonomi Asia dan Indonesia akan tetap tumbuh baik juga," terangnya.

Yang perlu diwaspadai juga, lanjut Ali, adalah tingginya pertumbuhan kredit perbankan. "Dalam tiga tahun terakhir loan growth kita antara 25-30%. Takutnya itu akan kekencangan sehingga dikhawatirkan banyak yang bocor," ujarnya.

Ditempat yang sama HSBC Chief Economist untuk ASEAN dan India, Leif Eskesen mengaku optimis pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan stabil dan mampu bertahan dari gejolak ekonomi. “Pertumbuhan diprediksi tetap baik sampai akhir tahun 2011 dan sepanjang 2012, didukung dengan konsumsi dan investasi swasta,” ungkapnya.

Untuk Asia sendiri, Leif menjelaskan bahwa momuntum pertumbuhan telah sedikit mengalami penurunan yang terpengaruh oleh persoalan hutang di negara-negara maju, tingginya harga minyak, dan terganggunya supply chain akibat bencana di Jepang. Namun, konsumsi domestik di masing-masing negara Asia tetap menjadi pengaman dari krisis global, begitu pula dukungan dan kebijakan pemerintah yang dinilai akomodatif yang mendukung pertumbuhan ekonomi. “Ada dua tantangan utama bagi pertumbuhan ekonomi Asia di tahun 2012,” jelas Leif.

Keduanya adalah krisis hutang Eropa dan penurunan ekonomi di AS serta ancaman inflasi. Kondisi ekonomi yang dialami Amerika dan Eropa akan berdampak pada Asia melalui perdagangan, finansial, dan tingkat kepercayaan bisnis. Namun, disisi lain angka headline inflation telah menurun, namun angka core inflation masih tetap tinggi.

HSBC sendiri menilai bahwa Indonesia masih memiliki potensi pertumbuhan yang baik dengan dukungan permintaan domestik. Pada kuartal ketiga 2011, pertumbuhan di level 6,5%, tidak berubah dari kuartal sebelumnya. “Konsumer Indonesia memiliki tingkat pembelanjaan yang tinggi, demikian pula dengan angka pertumbuhan nett ekspor meski dihadapkan pada pelemahan ekonomi global. Namun, disisi lain belanja pemerintah dan investasi tidak bertumbuh secepat konsumsi dan ekspor,” jelasnya. **Bari

BERITA TERKAIT

Pebisnis Muda Pertanian Perlu Kreatif dan Inovatif

NERACA Jakarta – Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Momon Rusmono mengatakan wirausahawan muda…

Dunia Usaha - Pemerintahan Baru Perlu Didorong Berani Berpihak Pada Industri

  NERACA Jakarta – Pengamat ekonomi Hisar Sirait mendorong agar pemerintahan yang akan terpilih hasil Pemilu 2019 harus berani berpihak…

Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Perlu Lakukan Pembenahan Ekonomi

    NERACA Jakarta - Pemilihan umum serentak baru saja usai dan kini rakyat Indonesia sedang menunggu hasilnya karene penghitungan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Kementerian Ragu Gunakan Anggaran, Alihkan Saja ke PUPR

NERACABogor - Presiden Joko Widodo meminta Menteri Keuangan Sri Mulyani mengalihkan anggaran kementerian, yang masih ragu ke Kementerian Pekerjaan Umum…

Defisit APBN Capai Rp102 Triliun

    NERACA   Jakarta - Kementerian Keuangan mencatat defisit APBN hingga 31 Maret 2019 mencapai Rp102 triliun atau 0,63…

Pemerintah Bakal Naikkan Iuran - Tekan Defisit BPJS Kesehatan

      NERACA   Jakarta – Pemerintah dalam hal ini Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan tengah mengkaji kenaikan iuran…