free hit counter

Rumah Adat Papua

Sabtu, 26/11/2011

Neraca. Di daerah Wamena, Papua, ada gaya arsitektur tradisional yang begitu terkenal, yakni honai. Rumah khas masyara-kat Papua itu berbentuk lingkaran, terbuat dari kayu dan beratap jerami atau ilalang. Satu keluarga bisa memiliki beberapa honai yang berkumpul menjadi satu dan dibatasi pagar kayu di sekelilingnya. Tiap-tiap rumah dihuni satu pria beserta para istri dan anak-anak mereka.

Rumah tradisional itu memiliki pintu yang kecil serta rendah dan tidak memiliki jendela sebagai saluran ventilasi udara. Konstruksi demikian dibuat dengan tujuan untuk menahan hawa dingin pegunungan Papua. Struktur rumah tradisional tersebut tersusun atas dua lantai. Lantai dasar sebagai tempat tidur dan lantai kedua untuk tempat bersantai, makan, dan mengerjakan kerajinan tangan. Karena dibangun dua lantai, tinggi rumah mencapai sekitar 2,5 meter. Pada bagian tengah rumah disiapkan tempat membuat api unggun untuk menghangatkan diri sekaligus sebagai tempat untuk memasak.

Gaya arsitektur honai memang memiliki banyak kekhasan sebagai wujud cara arsitek terdahulu dalam memandang, memahami, dan mewujudkannya dengan mengandalkan bahan yang sederhana dan sangat natural. Eksplorasi materialnya pun dibuat sedemikian efektif dan ekonomis, tanpa mengurangi kualitas dan nilai fungsional bangunan.lik,i masuk ke dalam honai ini, kegelapan diiringi rasa hangat langsung menyergap. Pasalnya, di dalam ruang tidak terdapat satu pun jendela, yang ada hanya satu pintu.

Pada malam hari, penghuni rumah menggunakan kayu bakar untuk penerangan dan menghangatkan tubuh. Biasanya, sebagai alas tidur penduduk Wamena menggunakan rerumputan kering yang diganti secara berkala.

Honai adalah rumah suku-suku pegunungan tengah Papua seperti suku Dani di lembah Baliem atau Wamena, suku Lani, Yali di pegunungan Toli dan suku-suku lainnya. Rumah Honai mempunyai fungsi antara lain:

1. Sebagai tempat tinggal

2. Tempat menyimpan alat-alat perang

3.Tempat mendidik dan menasehati anak-anak lelaki agar bisa menjadi orang berguna di masa depan

4.Tempat untuk merencanakan atau mengatur strategi perang agar dapat berhasil dalam pertempuran atau perang

5.Tempat menyimpan alat-alat atau simbol dari adat orang Dani yang sudah ditekuni sejak dulu

Filosofi bangunan Honai, melingkar atau bulat artinya :

1.Dengan kesatuan dan persatuan yang paling tinggi kita mempertahankan budaya yang telah dipertahankan oleh nenek moyang kita dari dulu hingga saat ini.

2.Dengan tinggal dalam satu honai maka kita sehati, sepikir dan satu tujuan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.

3. Honai merupakan symbol dari kepribadian dan merupakan martabat orang Dani yang harus dijaga oleh keturunan Dani di masa yang akan datang.

BENTUK

Bentuk Honai yang bulat tersebut dirancang untuk menghindari cuaca dingin ataupun karena tiupan angin yang kencang.

ATAP

Honai memiliki bentuk atap bulat kerucut. Bentuk atap ini berfungsi untuk melindungi seluruh permukaan agar tidak mengenai dinding ketika hujan turun. Atap honai terbuat dari susunan lingkaran-lingkaran besar yang terbuat dari kayu buah sedang, kemudian dibakar di tanah dan diikat menjadi satu di bagian atas sehingga membentuk dome. Empat pohon muda juga diikat di tingkat paling atas dan vertikal membentuk persegi kecil untuk perapian.

Penutup atap terbuat dari jerami yang diikat di luar dome. Lapisan jerami yang tebal membentuk atap dome, bertujuan menghangatan ruangan di malam hari. Jerami cocok digunakan untuk daerah yang beriklim dingin. Hal ini dikarenakan jerami ringan dan lentur memudahkan suku Dani membuat atap, serta jerami mampu menyerap goncangan gempa. Jerami cocok digunakan untuk daerah yang beriklim dingin. Ini juga dikarenakan jerami ringan dan lentur, memudahkan suku Dani membuat atap serta jerami mampu menyerap goncangan gempa.

DINDING DAN BUKAAN

Honai mempunyai pintu kecil dan jendela-jendela yang kecil, jendela-jendela ini berfungsi memancarkan sinar ke dalam ruangan tertutup itu, dan ada pula Honai yang tidak memiliki jendela, pada umumnya untuk perempuan. Jika Anda masuk ke dalam honai ini, maka di dalam cukup hangat dan gelap karena tidak terdapat jendela dan hanya ada satu pintu. Pintunya begitu pendek sehingga harus menunduk jika akan masuk ke rumah Honai. Dimalam hari menggunakan penerangan kayu bakar di dalam Honai dengan cara menggali tanah didalamnya sebagai tungku, selain menerangi bara api juga bermanfaat untuk menghangatkan tubuh. Jika tidur mereka tidak menggunakan dipan atau kasur, mereka beralas rerumputan kering yang dibawa dari kebun atau ladang. Umumnya mereka mengganti jika sudah terlalu lama karena banyak terdapat kutu babi.

KETINGGIAN BANGUNAN

Rumah Honai mempunyai tinggi 2,5 - 5 meter dengan diameter 4-6 meter. Honai ditinggali oleh 5-10 orang dan rumah ini biasanya dibagi menjadi 3 bangunan terpisah. Satu bangunan digunakan untuk tempat beristirahat (tidur). Bangunan kedua untuk tempat makan bersama, dimana biasanya mereka makan beramai-ramai dan bangunan ketiga untuk kandang ternak. Rumah honai juga biasanya terbagi menjadi 2 tingkat. Lantai dasar dan lantai satu di hubungkan dengan tangga yang terbuat dari bambu. Biasanya pria tidur melingkar di lantai dasar, dengan kepala di tengah dan kaki di pinggir luarnya, demikian juga cara tidur para wanita di lantai satu.