Biaya Penurunan Emisi Gas Capai Rp30 miliar - Hingga 2012

NERACA

Jakarta – Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas) mengungkapkan biaya untuk menurunkan emisi gas karbon sebesar 26% pada 2012 mencapai sekitar Rp30 miliar.Sementara hingga 2020 diperkirakan Rp100 miliar. “Target pemerintah dalam pendanaan dari tahun 2010- 2012 mencapai 30 milliar sedangkan target sampai 2020 mencapai 100 milliar,” kata Kepala Bappenas/Menteri PPN Armida S Alisjahbana, dalam seminar Identifikasi Pendanaan Perubahan Iklim Internasional Strategi dan Mekanisme Pemanfaatannya Bagi Indonesia di BAPPENAS, Senin 21/11.

Menurut Guru Besar FE Unpad ini, pemerintah telah berkotmitmen untuk menurunkan emisi gas karbon secara sukarela hingga 26% dari bussines as usual (BAU). Oleh karena itu dana sebesar Rp30 miliar berasal dari dalam negeri. “Sedang untuk penurunan emisi gas sebesae 41% dibantu oleh pendanaan internasional. Hal ini sekaligus guna mendorong pencapain pertumbuhan ekonomi sebesar 7% pada 2014,” tambahnya.

Lebih jauh kata Armida, sumber pendanaan perubahan iklim sebagian besar bersumber dari kombinasi swasta dan pasar 85%. Adapun mekanisme pendanaan perubahan iklim membutuhkan tranparansi dan akuntabilitas terkait dengan adanya resiko yang tidak dapat dibayarkan, periode jangka panjang administrasi dan performance base.

Armida menambahkan belum adanya pemahaman infrastruktur pasar dan mekanisme perdangangan karbon di Indonesia menyebabkan koordinasi antar kementerian dan program-programnya menjadi lemah.

Diakui Armida, program Clean Develovment Mechanism (CDM) Indonesia kurang berkembang dibandingkan dengan CDM di China dan India. Penyebanya, masalah momentum, instrumen, serta peraturan yang belum tersedia dan belum diatur dengan baik. Begitu pula ditambah dengan keterampilan dan kapasitas, serta mahalnya penyediaan kebutuhan awal sampai diterbitkannya dan CER belum dipandang sebagai aset oleh sektor perbankan.

Padahal, kata Armida, terdapat banyak peluang pendanaan perubahan iklim internasional. Namun sayangnya mengapa Indonesia masih belum dapat memanfaatkannya dana tersebut, terutama pendanaan yang berbasis carbon market

Dalam mendukung pembangunan rendah karbon, perlu dikembangkan berbagai insentif untuk daerah, yang bisa menurunkan emisi dan mendorong kegiatan ekonomi rendah karbon, juga bagi swasta baik melalui fasilitas inverstor yang menyediakan teknologi bersih atau pun dukungan penyediaan pendanaan perubahan iklim”, ujar Armida.

Armida, mengatakan untuk mempersiapkan diri dalam menegoisasikan program tersebut terhadap persyaratan yang diajukan oleh pemilik dana, yang umumnya akan menerapkan performance based payment sesuai dengan standar MRV (measurable, reportable, and verifiable) sesuai dengan standar internasional, maka perlu dilakukan berbagai penyesuaian agar Indonesia siap memanfaatkan dana perubahan iklim.b **sahlan

BERITA TERKAIT

Peduli Dunia Pendidikan - BCA Bantu Beasiswa Rp 4,95 Miliar Ke 16 Perguruan Tinggi

Mempertegas komitmen kepeduliannya pada dunia pendidikan, PT Bank Central Asia (Persero) Tbk (BBCA) kembali menyalurkan beasiswa bakti BCA terhadap 16…

Sikapi Penurunan Harga Tiket - Performance Saham Garuda Ikut Terkoreksi

NERACA Jakarta – Kebijakan maskapai Garuda Indonesia Group mengumumkan penurunan harga tiket pesawat di seluruh rute penerbangan sebesar 20% menuai…

OJK Catat Penyaluran KUR di Papua Capai Rp940 miliar

      NERACA   Jayapura - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Papua mencatat realisasi penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) pada…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Tarif Rp12.000, LRT akan Beroperasi April 2021

  NERACA Jakarta – PT Adhi Karya selaku kontraktor pembangunan kereta ringan Jabodebek (LRT) menyampaikan bahwa progres pembangunan LRT telah…

Lewat Tol Trans Jawa, Angkutan Logistik Layak Disubsidi

  NERACA Jakarta - Tarif angkutan logistik tertentu di jalan tol, khususnya Tol Trans Jawa dinilai layak disubsidi sebagai solusi…

Stasiun Cisauk jadi Daya Tarik Investasi Properti

  NERACA Jakarta - Keberadaan Stasiun Cisauk, Kabupaten Tangerang ini, setiap harinya melayani sekitar 6.200 penumpang dengan 132 perjalanan KRL…