free hit counter

Ancaman Perbankan

Senin, 21/11/2011

Oleh: Firdaus Baderi

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Krisis yang terjadi di Eropa dan Amerika Serikat pada akhirnya memaksa perbankan di kawasan itu melakukan efisiensi. Di tengah ancaman krisis utang, dan upaya meningkatkan efisiensi, maka alternatif pemangkasan karyawan menjadi pilihan utama untuk menyelamatkan operasional bank di sana.

Bank terbesar di Italia, UniCredit, kabarnya akan mengeliminasi 5.200 karyawan, atau sekitar 12% dari seluruh karyawannya pada hingga tahun 2015. Langkah itu akan membuat biaya perorangan berkurang 8% pada tahun depan. Bank terbesar itu juga membatalkan pemberian dividen untuk tahun fiskal 2011.

Bahkan menghadapi krisis utang, UniCredit secara signifikan mengurangi biaya-biaya dan meningkatkan modalnya. Dalam bagian dari rencana perombakan strategis, pihak manajemen memutuskan untuk menyederhanakan dan mengurangi aktivitas di pasar yang sudah jenuh dan fokus kembali di Eropa Tengah dan bagian Timur.

Di Amerika Serikat, Citigroup Inc. berencana mem-PHK 900 karyawannya dari divisi surat berharga dan perbankan. Keputusan PHK kemungkinan bisa bertambah hingga 3.000 untuk seluruh divisi, atau sekitar 1% dari total keryawannya.

Menurut sumber yang dekat dengan masalah tersebut seperti dilansir dari Wall Street Journal, perampingan karyawan itu dilakukan di tengah gejolak pasar dan krisis utang di berbagai belahan dunia.

Pemangkasan karyawan itu diharapkan bisa membantu mengurangi biaya Citigroup. Big Bank asal AS itu belakangan ini telah bergerak memangkas biaya operasional di Citi Holdings. Sebelum krisis finansial, Citigroup telah menghadapi tekanan dari investor untuk memangkas biaya, yang ternyata meningkat lebih cepat ketimbang pendapatannya.

Hal yang sama juga dialami bank dari Perancis, BNP Paribas, yang berencana mem-PHK sekitar 1.400 pegawainya di bagian korporat dan investment banking. Kebijakan BNP Paribas itu dinilai sebagai langkah untuk meyakinkan pasar dan lembaga pemeringkat, dengan ”mengorbankan” pegawai demi kepentingan efisiensi.

Ini sebagai dampak penghapusan 60% portofolio kredit BNP Paribas yang macet diberikan ke Yunani. Selain itu, bank besar lainnya di Perancis yaitu Societe Generale juga berencana untuk mengurangi ratusan karyawannya.

Tidak hanya itu. Para petinggi negara G-20 dalam komitmennya baru-baru ini merilis data 29 bank global yang berpotensi menimbulkan dampak sistemik apabila mengalami kebangkrutan, atau lazimnya disebut bank-bank kategori too big to fail.

Ke-29 bank tersebut harus meningkatkan core tier 1 capital ratio mereka di atas ketentaun Basel III. Mereka berasal 8 bank asal AS, 17 bank dari Eropa, 3 bank Jepang dan satu bank dari China.

Jelas, dari gambaran tersebut terungkap bisnis perbankan menghadapi tingkat kerawanan yang cukup tinggi di dunia. Lalu bagaimana dengan kondisi perbankan Indonesia? Persoalannya, banyak bank beroperasi di negeri ini ternyata belum efisien. Ini terlihat dari sulitnya perbankan menurunkan suku bunga ke level mendekati bunga acuan BI Rate 6%. Padahal cepat atau lambat, faktor efisiensi akan menjadi trigger untuk memangkas jumlah pegawai bank seperti yang dilakukan perbankan di Eropa dan AS.