Karena Iklim Ekonomi Tak Kondusif - Bank RI Boros

Jakarta - Suku bunga kredit perbankan yang tinggi di Indonesia disebabkan karena perbankan tidak efisien alias boros. Perbankan boros karena kondisi ekonomi yang tidak kondusif. "Memang bank kita tidak efisien, tapi yang membuat bank tidak efisien itu kan bukan karena keinginan bank, salah satunya sektor riil, infrastruktur, inflasi juga yang belum baik ini menyebabkan bank tidak efisien," jelas Pengamat Ekonomi Agustinus Prasetyantoko kepada wartawan di Gedung KPPU, Jakarta, Jumat.

Menurut Prasetyantoko, tingginya bunga kredit dikarenakan bank sulit beradaptasi dengan lingkungan ekonomi makro. Bank-bank di negara ASEAN lain, sambungnya mampu lebih efisien karena inflasi yang rendah dan struktur perbankannya jelas. "Kan aset bank-bank kita sangat berbeda jauh antara bank satu dengan yang lain. Otomatis ketika bank yang ingin menurunkan bunga kreditnya harus melihat bank-bank lain jika tidak ingin terjadi migrasi dana," paparnya.

Di tempat yang sama Komisaris Bank Mutiara, Eko B. Supriyanto menegaskan industri perbankan tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Namun kondisi dan struktur aset perbankan yang perlu dibenahi. "Sektor perbankan tidak bisa disalahkan. Nah itu PR (pekerjaan rumah) di pemerintah juga untuk meningkatkan efisiensi di sektor riil, dan inflasi. Nah inflasi tinggi itu maka deposan minta suku bunga tinggi. Kalau inflasi bisa 2% itu suku bunga juga bisa ikut rendah," kata Eko.

Menurut dia, dengan tingginya suku bunga tersebut, maka tidak heran bila sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) menjadi target market paling seksi bagi perbankan saat ini. Karena sektor tersebut dinilai tidak sensitif untuk tingkat suku bunga.

Seperti diketahui tingkat suku bunga pinjaman perbankan di Tanah Air jauh lebih tinggi dibanding negara-negara kawasan Asia Tenggara. Selain faktor sektor riil, tingkat inflasi dinilai turut memberikan sumbangan yang tidak kalah besar.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) memang memanggil beberapa kalangan bankir dan pengamat perihal struktur oligopoli di industri perbankan RI yang menyebabkan bank susah untuk menurunkan bunga kreditnya. Pihak KPPU mengendus persaingan yang tidak sehat akibat adanya indikasi kartel bank dalam menetapkan bunga kreditnya.

BERITA TERKAIT

Bank Sampoerna Buka Cabang Di Bandung

    NERACA   Jakarta - Dalam rangka meningkatkan pelayanan yang lebih baik kepada para nasabah, PT Bank Sahabat Sampoerna…

Bank Mandiri Kembangkan Peran Ekonomi Pesantren

  NERACA Surabaya - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk terus memperkuat peran ekonomi pondok pesantren untuk menumbuhkan usaha mikro kecil dan…

Sektor Pangan - Kasus Beras Turun Mutu Akibat Tata Kelola Distribusi Tak Optimal

NERACA Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman menilai kasus 6.000 ton beras busuk di…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

OJK Jalin Kerjasama dengan Kemendagri dan PPATK - Cegah dan Berantas Pencucian Uang

  NERACA   Jakarta - Guna mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang di Industri Jasa Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan…

Gubernur BI Rombak 18 Pejabat

    NERACA   Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Senin, melantik 18 pejabat baru BI, di antaranya…

BPR Diminta Konsolidasi Untuk Perkuat Modal

    NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta bank perkreditan rakyat (BPR) yang tidak bisa memenuhi syarat…