Harga Minyak Dunia Cenderung Turun 2012

NERACA

Jakarta--- Harga minyak dunia pada 2012 diperkirakan mengalami penurunan. Bahkan berpotensi menjadi lebih rendah disbanding 2011. Alasan pertumbuhan ekonomi mulai melambabat. "Secara fundamental harga minyak tahun depan berpotensi lebih rendah dari 2011 karena proyeksi ekonomi dunia yang melambat dan faktor Libya yang sudah mereda," kata Pengamat perminyakan Pri Agung Rakhmanto kepada wartawan di Jakarta,19/11

Lebih jauh Pri Agung menambahkan meski saat ini situasi di kawasan Timur Tengah memang belum terlalu stabil. Namun faktor terbesar yakni krisis kepemimpinan di Libya sudah mereda, sehingga harga minyak cenderung melemah. Rata-rata harga minyak pada awal 2011 memang cenderung tinggi, namun pada paruh kedua 2011 lebih rendah. "Kondisi ini akan berlanjut pada tahun depan," katanya.

Kecenderungan harga minyak yang lebih rendah juga dipicu berlanjutnya krisis utang di Eropa. Harga minyak New York dan London tercatat turun pada Jumat (18/11) karena faktor krisis di Eropa tersebut.

Di New York Mercantile Exchange, harga minyak mentah "light sweet" atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember 2011 turun 1,41 dolar AS menjadi 97,41 dolar AS per barel. Sementara itu, di London, patokan harga minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Januari 2012 merosot 66 sen menjadi 107,56 dolar AS per barel.

Menurut Direktur ReforMiner Institute ini, patokan harga minyak Indonesia (Indonesia crude price/ICP) pada 2012 yang ditetapkan sebesar 90 dolar AS per barel masih cukup rasional. "Kisaran ICP tahun depan diperkirakan antara 90-100 dolar AS per barel, tergantung pasar merespon ekonomi Eropa," tegasnya

Perkiraan ICP 2012 tersebut, lanjutnya, akan berada di bawah 2011 yang diperkirakan antara 105-110 dolar per barel. Bahkan diperkirakan harga ICP 2011 yang ditetapkan 95 dolar AS ber barel masih rasional.

Ditempat terpisah, Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo mengatakan Kementerian ESDM tidak gegabah dalam menyesuaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Meskipun sempat melempar wacana mengenai kenaikan harga BBM bersubsidi sebesar Rp1.000 per liter "Soal harga, tunggu waktu," ujarnya singkat.

Sekadar informasi, terlontar wacana pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis premium sebesar Rp1.000 per liter. Dengan menaikkan harga bensin Rp1.000 per liter, pengguna mobil berkapasitas mesin kecil masih mendapatkan subsidi sebesar Rp3.500 per liter karena harga pertamax saat ini rata-rata mencapai Rp9 ribu per liter. "Untuk kendaraan transportasi umum dan barang, kami mengusulkan penggunaan sistem uang kembali (cash back) sebagai kendali subsidi dan pencegahan terjadinya inflasi. Mekanisme pengembalian dilakukan dengan mengembalikan langsung uang kepada pemilik mobil di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sesuai dengan struk pembayaran," jelas Widjajono beberapa waktu lalu. **cahyo

BERITA TERKAIT

Pertamina-Rosneft Akan Bangun Kilang Minyak di Tuban

NERACA Jakarta – PT Pertamina (Persero) bersama perusahaan energi Rusia, Rosneft Oil Company akan membangun sekaligus mengoperasikan kilang minyak yang…

Medco Energi Pacu Ekspansi Bisnis Minyak - Private Placement Rp 1,54 Triliun

NERACA Jakarta – Perkuat modal dalam mendanai ekspansi bisnisnya, emiten pertambangan PT Medco Energi International Tbk. (MEDC) bakal menggelar private…

Pengangguran di Banten Turun Jadi 8,52 Persen

Pengangguran di Banten Turun Jadi 8,52 Persen NERACA Serang - Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Provinsi Banten pada Agustus 2018…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Mengganti Terigu Impor dengan Produk Buatan Lokal - Teknologi Pangan

        NERACA   Bogor - Mie memang menjadi santapan favorit masyarakat Indonesia, tanpa pandang usia. Sayangnya mie…

Mewaspadai Inflasi Di Akhir Tahun

      NERACA   Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai ancaman…

LPEI Mendorong BUMN Ekspor ke Pasar Prospektif

    NERACA   Jakarta – Pasar prospektif menjadi salah satu alternatif negara tujuan untuk memperluas ekspor di samping Cina…