Pemerintah Berniat Tambah Utang Rp 6 Triliun

Jakarta – Direktorat Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan mengungkapkan siap kembali menjual surat utang sebesar Rp 6 triliun untuk memenuhi pembiayaan APBN tahun ini. Penjualan surat utang ini akan dilakukan 22 November 2011 lewat mekanisme lelang. Surat utang negara (SUN) yang dilelang mempunyai nominal per unit Rp 1 juta

Dalam pengumuman Ditjen Pengelolaan Utang Kemenkeu diterangkan ada 6 seri SUN yang akan dijual pemerintah antara lain, SPN03120223, jatuh tempo 23 Februari 2011, SPN12121102, jatuh tempo 2 November 2011, FR0060 dengan bunga tetap 6,25% dan jatuh tempo 15 April 2017, FR0061 dengan bunga tetap 7% dan jatuh tempo 15 Mei 2022, FR0059 dengan tingkat bunga tetap 7% dan jatuh tempo 15 Mei 2027, FR0057 dengan tinkat bunga tetap 9,5% dan jatuh tempo 15 Mei 2041.

Penjualan surat utang tersebut akan dilaksanakan dengan menggunakan sistem pelelangan yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia (BI).

Sebeluimnya, Pemerintah mengakui selama Januari hingga November 2011 telah menyicil utang sebesar Rp 79,36 triliun. Ini berarti 74,5% dari target pembayaran utang di 2011 yang sebesar Rp 106,58 triliun telah terbayar.

Dalam siaran persnya, Kementrian Keuangan mengungkapkan pembayaran utang ini masuk ke dalam belanja pemerintah pusat yang realisasi totalnya hingga Rp 594,69 triliun atau 65,5% dari target di 2011 yang mencapai Rp 908,24 triliun.

Berdasarkan catatan, total utang pemerintah Indonesia hingga September 2011 mencapai Rp 1.754,91 triliun. Dalam sebulan jumlah utang itu naik Rp 10,57 triliun dibanding posisi Agustus 2011 yang sebesar Rp 1.744,34 triliun. Dibanding dengan jumlah utang di Desember 2010 yang sebesar Rp 1.676,85 triliun, jumlah utang hingga September 2011 bertambah Rp 78,06 triliun. Secara rasio terhadap PDB, utang RI juga naik dari 27,15% pada Agustus menjadi 27,3% pada September.

Dan jika dihitung dengan denominasi dolar AS, jumlah utang pemerintah hingga September 2011 mencapai US$ 198,9 miliar. Turun dibandingkan per Agustus 2011 yang sebesar US$ 203,35 miliar. Namun utang dalam dolar AS ini lebih tinggi dibandingkan Desember 2010 yang sebesar US$ 186,5 miliar. Utang pemerintah tersebut terdiri dari pinjaman US$ 69,15 miliar dan surat berharga US$ 129,75 miliar. Jika menggunakan PDB Indonesia yang sebesar Rp 6.422,9 triliun, maka rasio utang Indonesia per September 2011 tercatat sebesar 27,3%.

Namun Dirjen Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto mengatakan pemerintah juga akan menerbitkan Surat Utang US$ 1 Miliar "Berbunga" 4%. Alasanya guna menutupi defisit anggaran tahun ini, pemerintah menerbitkan surat utang syariah (sukuk) global senilai US$ 1 miliar atau Rp 8,5 triliun dengan bunga atau kupon 4%. "Pemerintah Indonesia melalui SPV Perusahaan Penerbit SBSN Indonesia-2 telah melakukan pricing global sukuk senilai US$ 1 miliar dengan tenor 7 tahun, harga pada yield/kupon 4%," katanya. **cahyo

Jakarta – Direktorat Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan mengungkapkan siap kembali menjual surat utang sebesar Rp 6 triliun untuk memenuhi pembiayaan APBN tahun ini. Penjualan surat utang ini akan dilakukan 22 November 2011 lewat mekanisme lelang. Surat utang negara (SUN) yang dilelang mempunyai nominal per unit Rp 1 juta

Dalam pengumuman Ditjen Pengelolaan Utang Kemenkeu diterangkan ada 6 seri SUN yang akan dijual pemerintah antara lain, SPN03120223, jatuh tempo 23 Februari 2011, SPN12121102, jatuh tempo 2 November 2011, FR0060 dengan bunga tetap 6,25% dan jatuh tempo 15 April 2017, FR0061 dengan bunga tetap 7% dan jatuh tempo 15 Mei 2022, FR0059 dengan tingkat bunga tetap 7% dan jatuh tempo 15 Mei 2027, FR0057 dengan tinkat bunga tetap 9,5% dan jatuh tempo 15 Mei 2041.

Penjualan surat utang tersebut akan dilaksanakan dengan menggunakan sistem pelelangan yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia (BI).

Sebeluimnya, Pemerintah mengakui selama Januari hingga November 2011 telah menyicil utang sebesar Rp 79,36 triliun. Ini berarti 74,5% dari target pembayaran utang di 2011 yang sebesar Rp 106,58 triliun telah terbayar.

Dalam siaran persnya, Kementrian Keuangan mengungkapkan pembayaran utang ini masuk ke dalam belanja pemerintah pusat yang realisasi totalnya hingga Rp 594,69 triliun atau 65,5% dari target di 2011 yang mencapai Rp 908,24 triliun.

Berdasarkan catatan, total utang pemerintah Indonesia hingga September 2011 mencapai Rp 1.754,91 triliun. Dalam sebulan jumlah utang itu naik Rp 10,57 triliun dibanding posisi Agustus 2011 yang sebesar Rp 1.744,34 triliun. Dibanding dengan jumlah utang di Desember 2010 yang sebesar Rp 1.676,85 triliun, jumlah utang hingga September 2011 bertambah Rp 78,06 triliun. Secara rasio terhadap PDB, utang RI juga naik dari 27,15% pada Agustus menjadi 27,3% pada September.

Dan jika dihitung dengan denominasi dolar AS, jumlah utang pemerintah hingga September 2011 mencapai US$ 198,9 miliar. Turun dibandingkan per Agustus 2011 yang sebesar US$ 203,35 miliar. Namun utang dalam dolar AS ini lebih tinggi dibandingkan Desember 2010 yang sebesar US$ 186,5 miliar. Utang pemerintah tersebut terdiri dari pinjaman US$ 69,15 miliar dan surat berharga US$ 129,75 miliar. Jika menggunakan PDB Indonesia yang sebesar Rp 6.422,9 triliun, maka rasio utang Indonesia per September 2011 tercatat sebesar 27,3%.

Namun Dirjen Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto mengatakan pemerintah juga akan menerbitkan Surat Utang US$ 1 Miliar "Berbunga" 4%. Alasanya guna menutupi defisit anggaran tahun ini, pemerintah menerbitkan surat utang syariah (sukuk) global senilai US$ 1 miliar atau Rp 8,5 triliun dengan bunga atau kupon 4%. "Pemerintah Indonesia melalui SPV Perusahaan Penerbit SBSN Indonesia-2 telah melakukan pricing global sukuk senilai US$ 1 miliar dengan tenor 7 tahun, harga pada yield/kupon 4%," katanya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Sektor Riil - Investasi Meningkat, Pemerintah Siapkan SDM Industri Kompeten

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berperan aktif menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten untuk memenuhi kebutuhan dunia industri.…

Pemerintah Bakal Naikkan Iuran - Tekan Defisit BPJS Kesehatan

      NERACA   Jakarta – Pemerintah dalam hal ini Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan tengah mengkaji kenaikan iuran…

Defisit APBN Capai Rp102 Triliun

    NERACA   Jakarta - Kementerian Keuangan mencatat defisit APBN hingga 31 Maret 2019 mencapai Rp102 triliun atau 0,63…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Bank Dunia Proyeksikan Perlambatan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik

      NERACA   Jakarta - Laporan terbaru Bank Dunia memproyeksikan adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang Asia…

Pelabuhan Sebagai Pintu Gerbang Ekonomi Nasional

    NERACA   Jakarta - Sebagai Negara kepulauan, Indonesia menyimpan potensi besar terlebih letaknya yang strategis karena berada di…

Kinerja Penerimaan Pajak Triwulan I Dalam Batas Wajar

  NERACA   Jakarta - Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo menilai kinerja penerimaan pajak dalam…