Kemitraan ASEAN-China Alami Kemajuan

NERACA

Jakarta---Bangunan kemitraan antara ASEAN dengan China selama 20 tahun terakhir menunjukkan kemajuan yang pesat. Perdagangan bebas antara dua pihak, memuncul optimisme peningkatan perdagangan dan arus invetasi yang pesat dalam tiga tahun ke depan. “Dengan telah dilengkapinya keseluruhan kesepakatan ASEAN-China Free Trade Area, maka kita sungguh optimis untuk mencapai target perdagangan US$ 500 miliar dan menaikkan volume investasi China ke ASEAN pada 2015," kata Presiden SBY selaku Ketua ASEAN dalam pembukaan ASEAN-China Commemorative Meeting, Jumat (18/11)

Pertemuan yang sekaligus peringatan 20 tahun usia kerjasama ASEAN-China dan peresmian secara simbolis ASEAN-China Center tersebut berlangsung di Bali Nusa Dua Convention Centre, Nusa Dua, Bali. Adapun isu peningkatan kerjasama ekonomi dalam bidang perdagangan dan investasi serta infrastruktur konektifitas komunitas ASEAN merupakan bahasan utama dalam pertemuan tersebut.

Lebih jauh Kepala Negara menambahkan penghargaan ASEAN terhadap komitmen partisipasi China dalam materplan ASEAN Connectivity melalui proyek pembangun infrastruktur transportasi darat, udara dan laut. "Saya juga berterimakasih untuk inisiatif China menyediakan US$ 10 miliar dana kerjasama investasi ASEAN dan RRT. Ini akan memperkokoh dan membantu pembangunan kawsan kita secara berkesinambungan," tambahnya.

Di samping beberapa isu mengenai kerjasama menjaga stabilitas politik dan keamanan di kawasan yang belakangan ini menjadi perhatian dunia terkait krisis di Laut China Selatan. “Telah diterimanya Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea (DOC) di Bali pada Juni 2011, sangat menggembirakan. Kita berharap dengan acuan itu semakin terbangun perspektif bersama mengenai arti penting keamanan dan stabilitas di Laut China Selatan,” paparnya.

Presiden SBY mengingatkan agar dinamika yang terjadi dapat dikelola dengan mengedepankan pendekatan damai sehingga tidak berpengaruh buruk terhadap momentum pertumbuham ekonomi di Asia Pasifik. "Kita mendorong agar ini diterjemahkan menjadi proyek-proyek kerjasama konkrit dan membangun dalam semangat perdamaian," terangnya

Sementara itu AS kelihatannya terus menempel Indonesia lewat kerjasama ekonomi. Berbagai investasi dan hibah diberikan AS ke Indonesia dan berbagai kerjasama di bidang ekonomi.

Berdasarkan data dari kedutaan Besar AS untuk Indonesia yang dikutip, Sabtu (19/11/2011), saat ini AS merupakan pemasok utama peralatan pesawat dan transportasi kereta api ke Indonesia dan juga peralatan sektor energi.

Ekspor komoditas agrukultur AS ke Indonesia selama 2011 ini dikatakan mencapai US$ 3 miliar, naik 53% dari tahun lalu. Tahun ini berbagai perusahaan asal AS juga berencana untuk membangun atau memperluas pabriknya di Indonesia dengan nilai investasi lebih dari US$ 450 juta.

AS juga terus mempererat kerjasamanya di bidang perdagangan dan investasi ke Indonesia di bidang farmasi, agrikultur, dan energi. Kemudian, pemerintah AS juga melakukan misi pendidikan dengan melibatkan 56 perguruan tinggi di AS dan departemen agrikultur AS dengan tujuan meningkatkan kerjasama perdagangan dengan Indonesia. **cahyo

BERITA TERKAIT

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA MENINGKAT - BPS: NPI Februari dan Maret Alami Surplus

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, neraca perdagangan Indonesia (NPI) mengalami surplus US$ 0,54 miliar pada Maret 2019. Surplus ini berasal…

Hati-Hati dengan "Debt Trap Diplomacy" China

Oleh: Djony Edward Pemerintah Indonesia menawarkan 28 proyek senilai USD91,1 miliar atau setara Rp1.295,8 triliun kepada pemerintah China setelah empat…

Pemerintah Klaim Belt and Road China Tidak Tambah Utang

    NERACA   Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengklaim proyek Global Maritime Fulcrum-Belt and Road…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Anehnya Boikot Uni Eropa Terhadap Sawit Indonesia

      NERACA   Jakarta – Industri kelapa sawit Indonesia menjadi penopang terhadap perekonomian. Data dari Direktorat Jenderal Pajak…

Meski Naik, Struktur Utang Indonesia Dinilai Sehat

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai struktur utang luar negeri (ULN) Indonesia yang naik 4,8 miliar…

Pentingnya Inklusivitas Sosial untuk Pertumbuhan Berkualitas

    NERACA   Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan, inklusivitas sosial atau memastikan seluruh warga mendapatkan…