Indikasi Bank Tidak Serius Dorong Pertumbuhan - UNDISBURSED LOAN CAPAI Rp 300 TRILIUN

NERACA

Jakarta - Alokasi dana kredit yang sudah disetuji bank namun belum ditarik oleh debiturnya (undisbursed loan) kini cenderung menurun dari Rp500 triliun pada akhir 2010 menjadi Rp 300 triliun pada Februari 2011, namun hal ini tetap menjadi masalah perbankan. Karena perbankan dinilai tidak serius mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

“Fungsi bank sebenarnya sebagai lembaga intermediasi atau mengumpulkan uang dari nasabah lalu menyalurkannya kepada yang membutuhkan. Sekarang kan tidak. Tinggal pilih, cari untung atau membangun perekonomian?” ujar pengamat ekonomi Prof Sofyan S Harahap kepada Neraca di Jakarta,Kamis (17/2)

Lebih parahnya lagi, lanjut Sofyan, BI malah membiarkan hal ini terjadi. Akibatnya dampak ke pertumbuhan perekonomian rendah. “Yang jelas perbankan tidak mau melakukan tindakan yang berani dan inovatif, serta berjiwa entrepreneur,”tegasnya.

Menurut dia, mayoritas bank yang takut menyalurkan kredit adalah bank konvesional, yang persentasenya mencapai 90%. Ada beberapa faktor terkait hal ini. Pertama, takut aset produksinya jelek. Maka dari itu, perbankan konvensional lebih aman menyimpan di SBI supaya dapat 6,75%, dan kreditnya mencapai 13,5%. “Kedua, takut terkena kredit macet, seperti yang pernah dialami pada 1998 silam. Ketiga, risiko CAR dan kesehatan bank. Mengapa hal ini terjadi, karena kesalahan BI menaikkan BI Rate sebesar 6,75%,” ujarnya kepada Neraca, Kamis (17/2).

Guru Besar FE Usakti itu membandingkannya dengan bank syariah. Menurut dia, hampir 100% dananya disalurkan dalam bentuk pembiayaan dan Sukuk. Jadi tidak spekulatif. Sedangkan bank konvensional, menyalurkan dalam bentuk kredit, maksimal, sebesar 70%. Selebihnya dimasukkan ke dalam SUN dan SBI. “BI sendiri tidak bisa member SBI ke bank syariah. Makanya, kredit macet bank syariah sangat kecil dibanding bank konvensional,” tambahnya.

Ditanya bagaimana agar kredit "nganggur" ini tak banyak, Sofyan menyarankan agar BI Rate jangan dinaikkan. Sekarang malah sebaliknya dinaikkan jadi 6,75%. “Agar ‘kredit nganggur’ ini angkanya dibawah Rp100 triliun,”terangnya.

Dia mengatakan, prosentasenya sama dengan rate deposito atau tabungan. “Jangan kasih BI Rate 6,75% dong tapi cukup 3%. Perekonomian akan makin melambat pertumbuhannya,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua umum Hipmi Erwin Aksa mengatakan, banyaknya kredit "nganggur" disebabkan para pengusaha tengah menahan diri untuk ekspansi usaha, terutama pada sektor makro. “Beberapa dunia usaha ada yang kelebihan internal cash. Itu bisa dilihat dari laporan keuangannya. Jadi mereka memakai dana tersebut untuk mengoptimalkan ekspansi,” ujarnya kemarin.

Selain itu, kata Erwin, masalah infrastruktur masih menjadi hal krusial. Ini bisa menghambat investasi. Salah satunya pembebasan lahan yang harga tanahnya berbeda. Ketiga, perbankan menerapkan syarat ketat yang menyulitkan pengusaha agar dana atau kredit cair. “Sekarang kan bank hanya mau mencairkan untuk proyek baru. Ditambah lagi dengan model re-financing. Artinya, pengusaha membangun dulu, baru setelah itu dicairkan. Termasuk juga bunga bank yang terlampau tinggi,” keluh Erwin.

Mengenai terjadinya penurunan angka ‘kredit nganggur’ dari Rp500 triliun per Desember 2010, menjadi Rp300 triliun pada Februari 2011, CEO Bosowa Corporation ini mengatakan, sudah ada dana yang terserap namun belum optimal. “Para pengusaha harus terus didorong bangun proyek semua sektor, khususnya sektor properti dan manufakturing. Supaya pembangunan optimal dan investasi lancar,” tambahnya.

Seperti diketahui Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah mengakui data Bank Indonesia (BI) menyebutkan kredit "nganggur" atau undisbursed loan mencapai Rp 300 triliun. Namun poris kredit nganggur ini terus menurunan dibandingkan dengan 2010 yang mencapai Rp 500 triliun. ”Angka undisbursed loan terus turun saat ini Februari 2011 sudah sekitar Rp 300 triliun,”katanya.

Lebih jauh kata Halim lagi, undisbursed loan yang masuk kategori uncommited masih lebih besar dibandingkan yang commited. Dijelaskan Halim, porsi undisbursed loan tersebut terbagi menjadi dua komponen berdasarkan penerapan standar akuntansi keuangan (PSAK) 50-55.

Komponen undisbursed loan terdiri dari commited dimana dalam perhitungannya sudah memasukkan porsi aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) dan uncommited yang belum memasukkan ATMR. Per Desember 2010, porsi kredit belum cair mencapai Rp 556,8 triliun. Porsi undisbursed loan yang termasuk kategori uncommited mencapai Rp 368,2 triliun dan untuk commited mencapai Rp 188,5 triliun.

Di tempat terpisah, Direktur Utama Danamon Henry Ho mengatakan, kondisi ekonomi makro Indonesia sepanjang 2010 kondusif bagi pertumbuhan kredit Danamon di semua lini usaha. Dikatakan Henry, kredit bagi nasabah di segmen UMKM mencatat pertumbuhan sebesar 24% secara tahunan yang mencapai Rp 26,5 triliun dan mencakup 32% dari total kredit Danamon pada akhir 2010.

Kredit korporasi dan komersial Danamon, sambung Henry mencatatkan peningkatan sebesar 21% menjadi Rp 16,2 triliun dari Rp 13,3 triliun di 2009 yang didukung oleh bisnis trade finance yang tumbuh 74% menjadi Rp 3,1 triliun dari Rp 1,8 triliun pada 2009.

Direktur Bank Danamon Vera Eve Lim mengatakan, pertumbuhan diseluruh lini usaha 2010 juga disertai kualitas aset yang terjaga. "Rasio kredit bermasalah (NPL) tercatat sebesar 3% di akhir Desember 2010 yang turun dari 4,5% di 2009," ungkapnya. ardi/cahyo

Related posts