KS Ngotot Ingin Garap Jembatan Selat Sunda - Siap Penuhi Kebutuhan Baja 100%

NERACA

Jakarta –Proyek pembangunan jembatan Selat Sunda sepanjang 29 kilometer, kini menjadi incaran PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) untuk menyuplai kebutuhan baja dalam pembangunan jembatan yang konon bakal terpanjang di Asia.

Keinginan keras Krakatau Steel terlibat aktif dalam pembangunan jembatan Selat Sunda (JSS) disampaikan manajemen peseroan menjawab BEI, Kamis (18/2). "Berdasarkan estimasi kami bahwa dari sisi volume kebutuhan baja untuk pembangunan JSS dapat dipenuhi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk sepanjang spesifikasi baja yang dibutuhkan sesuai dengan spesifikasi produk yang diproduksi oleh PT Krakatau Steel (Persero) Tbk," ujar manajemen KRAS.

Hal ini sangat bergantung dengan Teknologi/Basic design yang ditetapkan oleh designer yang ditunjuk oleh investor. PT Krakatau Steel (Persero) Tbk sudah cukup mampu memproduksi Mill Steel untuk structure jembatan termasuk pipa dan besi beton serta besi siku untuk aplikasi bangunan khususnya yang tahan gempa.

PT Krakatau Engineering sebagai anak perusahaan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk yang bergerak di bidang EPC diharapkan juga dapat berkontribusi sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya untuk menunjang pelaksanaan proyek tersebut.

Sebelumnya, Direktur Utama Krakatau Steel Fazwar Bujang mengatakan, perseroan mampu memenuhi kebutuhan baja dalam proyek pembangunan JJS. “Itu kan proyek yang tidak sedikit dengan biaya US$16 miliar atau Rp160 triliun. Kami bisa mengiyakan permintaannya dan bisa suplai 100%,"katanya.

Menurut Fazwar Bujang, kesanggupan perseroan dalam pembangunan proyek tersebut hanya sebatas pemasok baja dan konstruksi (engineering) JSS dan bukan sebagai investor. "Kami tidak tertarik di investasi tapi kami mau ikut di enggineering-nya. Kan kita punya PT Krakatau engineering. Bajanya dari kita. Kita mau ikut tapi hanya suplai baja dan engineering,"ungkapnya.

Untuk rencana tersebut, pihaknya belum melakukan perhitungan atas besar kebutuhan baja dalam membangun JSS. Namun yang pasti jumlahnya akan jauh di bawah kapasitas produksinya yang mencapai sekitar puluhan juta ton per tahun. "Masih susah menghitung, tapi tidak akan sampai setengah juta ton," tegasnya.

Dia juga menyakini, dengan kemampuan KS mengambil peran serta dalam pembangunan JSS. Nantinya bakal mengalahkan China dalam proyek Jembatan Suramadu. Selain itu, perseroan juga akan meningkatkan kapasitas produksi baja seiring dengan mulai beroperasinya pabrik iro making pada Agustus nanti.

Tingkatkan Produksi

Saat ini, perseroan tengah menguber pembangunan pembangunan pabrik iro making di Kalimantan Selatan agar tepat waktu. Nantinya, pabrik ini akan mampu memproduksi baja hingga 315 ribu ton per tahunnnya. Saat ini kapasitas produksi baja perseroan mencapai 2,75 juta ton per tahun.

Kata Fazwar Bujang, proyek senilai Rp1,1 triliun tersebut, tidak hanya dimiliki oleh Krakatau Steel sendiri namun juga merupakan patungan dari PT Aneka Tambang Tbk dan Pemda setempat. Adapun porsi kepemilikan di dalamnya adalah Krakatau Steel 62%, Antam 32%, dan sisanya Pemda sebesar 5% yang berupa penyediaan lahan. "Luas lahannya 30 hektar, tapi kita telah dapat izin hingga 200 hektar," ujarnya.

Pabrik tersebut akan menyuplai bijih besi kepada pabrik Krakatau Steel yang berada di Cilegon dan berharap dengan adanya penambahan pabrik maka kinerja perseroan akan lebih efektif dan efisien. Untuk menyuplai energi listrik ke pabrik tersebut, perseroan membangun pembangkit sendiri yang hanya bertenaga 28 megawatt. Pasalnya, untuk pengadaan IPP dinilai terlalu mahal. "Tidak ada listrik yang tersedia. Di sana saja kita bangun pembangkit listrik sendiri tapi kecil hanya 28 MW," jelasnya.

Kemudian untuk pendanaan, perseroan akan menggunakan dari kas internal. Pembangunan pabrik sudah masih dalam rencana kerja perseroan untuk jangka waktu 5 tahun dengan belanja modal dianggarkan sebesar Rp 16 triliun.

Sebelumnya, perseroan memperkirakan volume penjualan baja Krakatau Steel sebesar 2,1 sampai 2,2 juta ton tahun ini. Kenaikan volume penjualan disebabkan melejitnya harga jual baja di pasar internasional.

Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel Tbk Irvan K. Hakim mengatakan, momentum kenaikan harga baja dunia bakal mendongkrak target penjualan dan pendapatan. “Volume penjualan naik 15% dari jumlah volume penjualan sebesar 1,8-1,9 juta ton pada 2010 sedangkan volume penjualan sebesar 2,1 juta ton-2,2 juta ton pada 2011,”katanya.

Guna mendukung kinerja dan peningkatan produksi baja, perseroan telah mengganggarkan belanja modal dan investasi rutin tahun ini sebesar Rp 3 triliun –Rp 5 tiliun. Dana tersebut kemungkinan sebagian didapatkan dari bank nasional dan asing.

Selain itu, perseroan juga telah mencatatkan penjualan fully book hingga Februari 2011. Diperkirakan penjualan tersebut 180 ribu-200 ribu ton. Irvan juga menyampaikan, pihaknya masih menjajaki mendapatkan coaking coal dari PT Borneo Lumbung Energi Tbk (BORN).

Saat ini, perseroan berencana akan membangun power plant dengan kapasitas 120 MW. Diperkirakan pembangunan powerplant di Cilegon ini memakan waktu satu tahun. "Untuk power plant kita berencana tambah kapasitas 400 MW, 120 MW dan 60 MW. Pada tahun ini ada penambahan kapasitas 120 MW," tuturnya.

Disamping itu, PT Krakatau Steel Tbk juga berencana membangun blast furnish pada 2013. Kapasitas diprediksikan mencapai 1,25 juta ton dengan investasi sebesar US$500 juta. Sebelumnya PT Krakatau Steel Tbk juga bersama Posco membangun last furnish dengan kapasitas 3 juta ton. Pembangunannya diharapkan selesai pada 2014.

Kenaikan Harga Baja Capai 23%

Peluang naiknya harga baja sudah diprediksikan diawal oleh Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) . Dimana harga rata-rata baja pada 2011 akan naik 15%-23% dibandingkan pada 2010. Berdasarkan riset IISIA, setidaknya ada beberapa yang mempengaruhi kenaikan tersebut.

Pertama, terjadinya kenaikan harga bahan baku, yakniiron oredanscrap. Khususiron ore kenaikan harga disebabkan pembatasan eksporiron oredari negara bagian Karnataka, India.

Sementara hargascrapnaik lantaran cuaca buruk sehingga menurunkan persediaan di Amerika dan kawasan dunia lainnya. Kondisi ini diperparah dengan rusaknya pertambangan dan fasilitas infrastruktur batu bara di Australia akibat banjir. Naiknya harga bahan bakuiron orejuga membuat harga ekspor dari China tak lagi murah.

Kedua, penurunanslab supplyyang disebebkan turunnya produksi sejumlah perusahaan tambang besar. Diantaranya,Arcellor Mittal yang menghentikan akitivitas produksi tiga blast furnacenya di Eropa pada akhir 2010 dan Sidor (Venezuela) yang berhenti berproduksi sementara akibat ledakan di pabrik slabnya.

Sementara itu, konsumsi baja dunia diprediksi akan mencapai 950 juta-1 miliar ton pada 2011. Sedangkan secara global, produksinya diperkirakan mencapai 1,2 miliar ton. Jumlah ini kurang lebih sama dengan besaran tahun 2010, karena tidak terjadi pertumbuhan yang signifikan baik konsumsi maupun produksi karena faktor kurs dan perekonomian tadi.

Pasar baja Krakatau Steel masih di segmen otomotif dan berharap dapat dilipat gandakan. Tahun 2010, KRAS baru dapat meraup 6,4% pasar yang ada. "Selama Hino dan Toyota. Tahun depan kita merambah ke Mercedes jenis truk dan bus serta Mitsubishi," kata Irvan (bani/ardi)

Related posts