Buruknya Fasilitas Untuk Media

Neraca. Even olah raga internasional ini sudah berjalan beberapa hari, medali demi medali sudah dikumpulkan oleh para negara peserta. Namun, dibalik cerita sukses tiap negara tersebut, ada ketidaknyamanan yang dirasakan para awak media selama meliput even olahraga terbesar se-Asia Tenggara tersebut.

Ketidak nyamanan terkait dengan buruknya pelayanan panitia terhadap para awak media, baik lokal maupun asing. Kondisi ini bukan hanya terjadi di Palembang, di Jakarta pun ternyata demikian. Padahal, pengalaman Jakarta harusnya lebih matang dibanding dengan pengalaman Palembang.

Seperti yang terjadi di venue bulu tangkis di Istora Senayan, (15/11). Pada partai final beregu putra yang mempertemukan Indonesia kontra Malaysia dan memang ditunggu-tunggu, banyak peliput asal Malaysia yang mengeluhkan minimnya fasilitas meja dan kursi di media centre.

"Kami melihat Indonesia tak menganggap SEA Games. Ini even internasional tapi fasilitasnya seperti even-even lokal kecil di negara kami. Wifi tidak ada dan perlengkapan elektronik lainnya juga tidak ada. Kami kira Indonesia tidak serius," tutur Rajes Paul, jurnalis asal harian the Star Malaysia.

Melihat keadaan demikian, akhirnya banyak jurnalis yang terpaksa menulis sambil lesehan ataupun meminjam meja panitia yang menjaga media centre. Bahkan, karena colokan listrik yang jumlahnya hanya satu, beberapa wartawan ada yang bersitegang berebut colokan.

Beruntung, tidak sampai terjadi keributan karena akhirnya ada jurnalis lain yang mengalah dan memberikan tempat untuk mencolokkan dan mendapat aliran listrik.

Saat dikonfirmasi kepada ketua Panpel bulu tangkis Mimi Irawan, dia menjelaskan bahwa masalah fasilitas media bukan menjadi tanggung jawabnya. Pihaknya hanya menyediakan meja dan kursi sesuai dengan yang diminta oleh Deputi III Inasoc.

"Ini bukan tanggung jawab saya, semuanya ini harusnya sudah disediakan oleh Deputi III. Mereka janjinya dari awal begitu, kami yang atur tempat, yang install perlengkapan mereka," terang perempuan yang juga pengurus PB PBSI tersebut.

Masalah ini sebenanrnya bukan hanya terjadi di Jakarta, di Palembang pun fasilitas yang disediakan oleh Inasoc jauh dari memadai. Jika dibandingkan dengan kejuaraan bulu tangkis tingkat lokal masih kalah.Kondisi ini harusnya menjadi perhatian dari Inasoc karena membuat wajah Indonesia malu kepada negara lain akibat pelayanan yang buruk.

BERITA TERKAIT

INSA Dukung Implementasi Kebijakan B20 untuk Kapal Laut

NERACA Jakarta - Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowners Association (INSA) Johnson W. Sutjipto mendukung penuh pemerintah yang mewaijbkan semua…

Pemerintah Dukung IoT Untuk Kemajuan Industri - Laboratorium IoT XL Terlengkap

NERACA Jakarta - Pemerintah mendukung operator telekomunikasi membentuk Internet of Things (IoT) sebagai salah satu solusi untuk mendukung kemajuan sektor…

SDM Jadi Perhatian Pemerintah - Alokasi Anggaran untuk Pendidikan dan Kesehatan

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa pemerintah akan memperhatikan secara serius kualitas sumber…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Setelah Musibah Lion Air: - Menanti Tindakan Tegas

Jika pemerintah menanti hingga investigasi KNKT tuntas, masyarakat baru dapat mengetahui sanksi yang akan dijatuhkan untuk Lion Air Group sebagai…

Daftar Panjang Jatuhnya "Singa Terbang"

Singa dikenal sebagai raja hutan, dan entah mengapa digunakan sebagai nama dan logo sebuah maskapai penerbangan. Maskapai tersebut dikenal sebagai…

Buka Kelas Presentasi Pelayanan Asuransi

Perusahaan penerbangan Lion Air membuka kelas-kelas presentasi untuk memahami klaim asuransi di Hotel Ibis Cawang, Jakarta, bagi keluarga dari penumpang…