Pasar Modal Indonesia Masih “Kalah Kelas”? - GRUP CIPUTRA SIAP LISTING DI SINGAPURA

NERACA

Jakarta – Di tengah upaya Bursa Efek Indonesia (BEI) berupaya menjaring emiten baru, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) dan anak usahanya justeru siap melakukan aksi korporasi di lantai bursa Singapura.

Mereka akan melakukan transaksi tukar-menukar saham dengan International City Development Pte. Ltd (ICD), perusahaan yang berbasis di Singapura dan terafiliasi dengan perseroan. Caranya, dengan melepas 33,25% kepemilikan perseroan di proyek Shenyang, China dan menukarnya dengan 7,43% saham ICD. Sementara saham Grup Ciputra sendiri di ICD sebesar 50%.

Corporate Secretary CTRA, Tulus Santoso Brotosiswojo menuturkan, ICD merupakan anak usaha Ciputra Group yang membawahi proyek Ciputra di Vietnam dan Kamboja. Dengan transaksi tukar-menukar ini maka proyek China, Vietnam, dan Kamboja akan berada di bawah kendali CTRA. “Ciputra Development hanya memiliki 7,5% saham. Kontribusinya memang tidak besar. Sedangkan tukar-menukar (saham) ini sebagai bentuk restrukturisasi perusahaan,” kata Tulus di Jakarta, Rabu (16/11).

Setelah transaksi tukar-menukar saham selesai, lanjut Tulus, perseroan berencana menyelenggarakan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) paling lambat 2013 mendatang di Bursa Efek Singapura. “(IPO) ini baru rencana awal. Kita sedang persiapkan satu hingga dua tahun ke depan. Lihat kondisi pasar global dulu. Kalau jadi IPO, nantinya akan terpisah sektor bisnisnya. Yang di Indonesia hanya fokus ekspansi di dalam negeri, begitu juga sebaliknya,” jelas Tulus.

Menanggapi langkah Grup Ciputra ini, managing research Indosurya Asset Management Reza Priyambada menilai, bukan bermaksud merendahkan kualitas pasar modal Indonesia, namun lebih kepada agar Grup Ciputra menjadi perusahaan global. “Dari faktor internal Indonesia, nama Ciputra sudah kadung terkenal. Nah, eksternalnya, ingin menjadi pemain properti tingkat dunia dan bursa Singapura memang tempatnya,” ujarnya kepada Neraca, kemarin.

Dia mengatakan, Bursa Singapura menjadi rujukan atau benchmark di wilayah Asia Tenggara. Dengan orientasi pasar ekspor yang besar serta perkembangan ekonomi yang cepat dan kondusif, otomatis menjadi daya tarik tersendiri bagi investor. “Harus diakui, bersama Malaysia, pasar modal Singapura lebih unggul dari kita. Ini karena kepastian hukum yang tegas, infrastruktur sangat baik, serta iklim investasi yang kondusif dan nyaman. Apalagi Malaysia, mereka bahkan menguasai harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dunia. Padahal, kita kan penghasil (CPO) terbesar,” tegasnya.

Reza menuturkan, tantangan ke depan bagi BEI bersama Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), diantaranya, harus terus-menerus melakukan sosialisasi dan edukasi pasar modal, menyediakan informasi pasar modal dan data transaksi, kepastian hukum dan sanksi tegas bagi yang melanggar.

“Bicara sosialisasi edukasi berarti berkaitan erat dengan tingkat pendidikan dan kesejahteraan rakyat. Mengenai kepastian hukum, memang tidak dijelaskan eksplisit, tapi dalam UU Pasar Modal No.8 Tahun 1995, ada sanksi bagi kejahatan pasar modal yaitu penjara satu tahun serta denda antara Rp 5-10 miliar,” tandas Reza.

Bursa Terintegrasi

Di tempat terpisah, pengamat pasar modal Prof. Dr. Adler Haymans Manurung menyatakan, banyaknya emiten Indonesia yang akan berencana listing di Bursa Efek Singapura dikarenakan kenyamanan dan keamanan dalam struktur pasar modal Singapura. Pasalnya, kegiatan perdagangannya diselenggrakan oleh securities trading division.

“Bursa Efek Singapura (Singapore Stock Exchange/SGX) telah menerapkan full electronic trading, floorless, dan borderless. Di mana keseluruhan transaksi efek telah berbasis internet dan tidak lagi menggunakan lantai bursa,” papar Adler kemarin.

Dia menilai, SGX merupakan bursa saham pertama dunia yang didemutualisasi dan sudah terintegrasi dengan bursa efek di wilayah Asia Pasifik. Pemodal dapat mentransaksikan efek tercatat di SGX dimana pun mereka berada, melalui situs anggota bursa (internet) yang terhubung dengan trading engine di bursa.

“Sebelum transaksi disampaikan ke bursa melalui sistem perusahaan efek, yang pertama dilakukan memverifikasi trading limit serta kecukupan kepemilikan efek dan dana pada rekening nasabah bersangkutan. Saat ini, SGX telah membangun system SGX-link, yang menjadikan SGX sebagai multilateral cross-border trading gateway,” ungkap dosen Perbanas ini.

Adler menambahkan, tahap awal, sebanyak 99 saham yang tercatat di SGX dapat ditransaksikan langsung oleh investor Bursa Efek Australia (Australia Stock Exchange/ASX), demikian juga sebaliknya. iwan/ardi/rin

BERITA TERKAIT

Modal Pemerintah di Koperasi, Mungkinkah?

Oleh : Agus Yuliawan  Pemerhati Ekonomi Syariah Koperasi yang merupakan soko guru perekonomian nasional—sebenarnya mampu memberikan kontribusi yang besar terhadap…

Banten Masih Butuh Banyak Impor Kimia Organik

Banten Masih Butuh Banyak Impor Kimia Organik NERACA Serang - Provinsi Banten masih membutuhkan banyak impor golongan barang bahan kimia…

Indonesia Belum Miliki Cadangan BBM Nasional

      NERACA   Jakarta - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengusulkan harus adanya pengadaan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Indef: Penciptaan Lapangan Kerja Era Jokowi-JK Paling Buruk

  NERACA Jakarta - Indonesia masih mengalami ketimpangan antara si miskin dan si kaya. Salah satu caranya dalam mengatasi ketimpangan…

PERLU EVALUASI TOTAL PROYEK INFRASTRUKTUR - Pemerintah Hentikan Proyek Konstruksi Layang

Jakarta-Pemerintah akhirnya menghentikan sementara semua pekerjaan infrastruktur kontruksi layang (elevated) baik jalan tol, proyek LRT maupun jembatan di seluruh Indonesia.…

Kepercayaan Investor Bawa IHSG Capai Rekor Baru

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin awal pekan (19/2) kemarin, indeks harga saham gabungan…