Prospek KTT ASEAN?

Suasana Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-19 ASEAN yang dmulai kemarin hingga 19 Nov. di Nusa Dua, Bali, setidaknya akan terpengaruh gejolak ekonomi yang saat ini melanda Amerika Serikat dan Eropa. Pertemuan internasional yang dihadiri Presiden AS Barack Obama itu juga akan membahas masalah bisnis dan investasi di kawasan Asia Tenggara.

Hal yang penting dalam KTT tersebut, para negara “raksasa” sudah siap mengincar kelompok negara ASEAN termasuk Indonesia akan menjadi sasaran pasar bagi produk mereka. Sehingga dipastikan terjadi tarik menarik kepentingan, saling memengaruhi dipastikan akan dominan.

Ini tidak saja berkait dengan kepemimpinan Indonesia yang akan berakhir tahun ini tetapi juga dengan kemajuan dan tantangan menuju Komunitas ASEAN 2015, di samping dinamika ekonomi global kontemporer yang butuh penyikapan serius.

Berbagai isu penting yang dibahas tercermin dari 4 dokumen dan deklarasi yang akan menjadi titik perhatian, yaitu Deklarasi Bali mengenai Komunitas ASEAN dalam peranan dan posisi di level komunitas global (Bali Declaration on ASEAN Community in a Global Community of Nations); Deklarasi KTT Asia Timur mengenai prinsip-prinsip hubungan yang saling menguntungkan; Deklarasi KTT Asia Timur tentang Konektivitas ASEAN; dan Deklarasi Bersama mengenai Kemitraan Komprehensif ASEAN dan PBB.

Bagaimanapun, ada dua negara besar yang akan memanfaatkan KTT ASEAN untuk kepentingan mereka, China dan AS. China yang sedang mencari pasar baru karena terganggunya pemasaran produksinya di kawasan Eropa dan AS, akibat terjadinya resesi ekonomi di kawasan itu, dipastikan akan berupaya memperdalam cengkeraman di kawasan ASEAN. Sementara AS dipastikan berusaha menguasai ASEAN untuk mengimbangi kekuatan ekonomi China yang sedang menggeliat.

Kelompok negara ASEAN, terlebih Indonesia sebagai Ketua ASEAN, harus ekstra waspada menghadapi berbagai kemungkinan. Jangan sampai KTT ASEAN membuat kawasan ASEAN, bahkan Indonesia, justeru "terjajah" dalam hal ekonomi, menjadi pasar bagi produk-produk asing. Ingat, China yang telah berhasil menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar potensial, masih terus berupaya mencari sasaran baru bagi produk-produknya. Hal yang sama tentu dilakukan AS.

Perang ekonomi yang terjadi sekarang antara China dan AS jangan sampai membuat negara ASEAN terjebak di tengah pusaran persaingan. Jangan sampai Indonesia dan sembilan negara ASEAN lainnya menjadi korban, tetapi harus bisa memanfaatkan. Bukan saja berupaya memperluas wilayah untuk sasaran ekspor dan mempersempit impor, tetapi juga berupaya menarik investor semaksimal mungkin.

Kita harus cerdas memanfaatkan peluang persaingan antara AS dan China untuk keuntungan kelompok negara ASEAN, bukan sebaliknya menyerahkan diri untuk dikuasai, kemudian terbelenggu. Indonesia sebagai tuan rumah KTT ke-19 ASEAN dan ASEAN Business and Investment Summit ke-8 selayaknya dapat memanfaatkan, terutama dalam menarik calon investor lebih banyak.

Indonesia harus mampu meyakinkan kelompok negara yang hadir termasuk para investor asing bahwa negeri ini menguntungkan mereka. Pemerintah diharapkan tampil dengan kemampuan maksimal, sehingga para pemilik modal asing yakin negara ini tidak hanya memiliki bangsa yang ramah, tetapi juga aman. Perlihatkan kepada para investor bahwa iklim investasi di dalam negeri sangat aman.

Seperti diketahui KTT ASEAN, serta Pertemuan Bisnis dan Investasi ASEAN ini tidak hanya diikuti 18 negara-Indonesia, Brunei, Laos, Kamboja, Filipina, Myanmar, Vietnam, Thailand, Singapura dan Malaysia, dan negara mitra; China, Jepang, Korea Selatan, India, Australia, Selandia Baru, Rusia, AS-tetapi juga dihadiri ratusan pelaku usaha/industri ternama. Ini tentunya sebuah peluang dan prospek. Jangan dibiarkan berlalu begitu saja.

BERITA TERKAIT

'Alarm' Defisit Transaksi Berjalan Indonesia

Oleh: Ahmad Iskandar, Dosen FE Universitas Ibnu Chaldun   Awan hitam yang membayangi perekonomian dunia dalam beberapa bulan terakhir, menjadi…

Peran Media dalam Menumbuhkan Optimisme Bangsa dan Suksesnya Pembangunan

  Oleh: Purista Anggara, Mahasiswa Sosial Politik UIN Jakarta Tak dimungkiri, kian pesatnya perkembangan teknologi sekarang ini semakin memudahkan manusia…

Ekonomi Indonesia Rentan Resesi

Oleh: Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Pertumbuhan ekonomi global 2019 menunjukkan pelambatan. Bahkan beberapa negara…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Strategi Warganet Lawan Radikalisme Demi Lancarnya Agenda Pelantikan Presiden

  Oleh : Alfin Riki, Pegiat Media Independen Perang melawan radikalisme dan terorisme memang tidak pernah ada habisnya. Satu persatu…

'Alarm' Defisit Transaksi Berjalan Indonesia

Oleh: Ahmad Iskandar, Dosen FE Universitas Ibnu Chaldun   Awan hitam yang membayangi perekonomian dunia dalam beberapa bulan terakhir, menjadi…

Peran Media dalam Menumbuhkan Optimisme Bangsa dan Suksesnya Pembangunan

  Oleh: Purista Anggara, Mahasiswa Sosial Politik UIN Jakarta Tak dimungkiri, kian pesatnya perkembangan teknologi sekarang ini semakin memudahkan manusia…