BI Bakal Sedot Dana Rp70 Triliun

Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengeluhkan penyerapan anggaran yang lamban di sejumlah kementerian Lembaga (K/L), kemudian cenderung memborong anggaran tersebut di akhir tahun.

"Pengeluaran pemerintah yang mendukung ekonomi kurang dan cenderung lambat. Pertumbuhan ekonomi di kuartal tiga lalu, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) 6,5 persen. Kalau pengeluaran pemerintah (yang mendukung perekonomian naik) itu lebih baik. Jika pemerintah banyak menyerap di akhir tahun, secara moneter itu tidak baik," ujar Gubernur BI Darmin Nasution mengatakan, saat menjadi keynote speeker di Seminar Ekonomi Outlook 2012 yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di Jakarta, Rabu.

Menurut Darmin, pada akhir tahun, akan ada potensi dana beredar sekira Rp60 sampai Rp70 triliun, yang harus disedot oleh Bank Sentral. "Karena kalau tidak akan berdampak macam-macam bagi perekonomian. Dana ini juga berguna bagi kegiatan-kegiatan investasi seperti membangun jembatan dan jalan," lanjut mantan Dirjen Pajak ini.

Penyerapan yang lambat ini, menurut Darmin, tidak hanya terjadi di Kementerian Keuangan saja, tetapi terjadi di seluruh kementerian. "Saya tahu ini sudah menjadi masalah di sejak saya masih di Kementerian Keuangan. Itu terjadi di semua kementerian," tukas Darwin.

Selain itu, BI juga mengklaim telah melakukan operation twist untuk mengusir investor yang berspekulasi menaruh uangnya di pasar keuangan Indonesia. Dengan cara ini, BI yakin arus dana keluar (capital outflow) tidak lagi terjadi. "Kita menyerap valuta asing (valas) dari pasar untuk membeli rupiah, rupiahnya kita pakai untuk membeli Surat Berharga Negara (SUN). Sejak operation twist, setiap hari BI beli SUN, sehingga saat terjadi gejolak pada September-Oktober lalu, yield SUN 10 tahunan tetap di enam sampai tujuh persen," ungkap Darmin.

Dengan operation twist, kata Darmin, investor jangka pendek yang berspekulasi akan bingung dan belum sempat datang lagi untuk melakukan profit taking. Hal ini tentu akan membuat perekonomian Indonesia stabil. "Kami malah tidak terlalu senang kalau mereka (yang spekulatif) datang. Dana paling spekulatif yang mau masuk sudah keluar pada saat gejolak, saat mau masuk lagi sudah mahal dan tidak bisa profit taking lagi," lanjutnya.

Darmin menjelaskan, kebijakan Bank Sentral untuk menurunkan tingkat suku bunga sebanyak 0,25 persen di Oktober lalu dan 0,5 persen November ini, merupakan langkah Bank Sentral dalam memperbaiki perekonomian nasional. "Dari policy rate apalagi landing rate, BI melihat ini sesuatu yang harus dikoreksi ke tingkat yang lebih masuk akal. Apalagi kalau peringkat Indonesia akan masuk dalam investment grade paling lambat kuartal pertama tahun depan," tambahnya.

Dengan masuknya Indonesia di investment grade, Bank Sentral yakin capital inflow akan semakin deras masuk ke Indonesia khususnya pada obligasi jangka panjang. Apalagi ketika BI juga berjanji akan memperbaiki struktur bunga di jangka pendek, menengah dan panjang.

BERITA TERKAIT

Dewan Kayu Indonesia Bakal Dibentuk Demi Tingkatkan Ekspor

NERACA Jakarta – Sedulur Kayu dan Mebel (Sekabel) Jokowi siap membentuk Dewan Kayu Indonesia atau Indonesia Timber Council (ITC) sebagai…

Berkah Pencapaian Positif di 2018 - Sarana Menara Bagikan Dividen Rp 1,2 Triliun

NERACA Jakarta – Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) memutuskan membagikan sisa dividen untuk…

Pendapatan AALI Turun Jadi Rp 4,23 Triliun

NERACA Jakarta – Kuartal pertama 2019, PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) membukukan pendapatan Rp4,23, turun 4,79% year on year…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BI Tahan Suku Bunga Acuan

    NERACA   Jakarta - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang digelar pada 24-25 April 2019 memutuskan…

Kuartal I, Pertumbuhan Kredit Capai 11,55%

    NERACA   Jakarta - Pertumbuhan kredit bank di kuartal I 2019 sebesar 11,55 persen secara tahunan (year on…

Bank NTB Syariah Targetkan KPR Rp148 Miliar di Pameran Properti

    NERACA   Mataram - PT Bank NTB Syariah (Persero) mentargetkan nilai transaksi sebesar Rp148 miliar dalam pameran Gelegar…