Realisasi APBN Bisa Capai Target

NERACA

Jakarta--Realisasi anggaran APBN diperkirakan bisa mencapai target sampai akhir 2011. Bahkan rata-rata pekerjaanya sudah selesai dan tinggal menunggu pembayaran saja. “Saya kira akan tercapai target 90% sampai akhir tahun. Inikan hanya uangnya saja yang belum cair. Namun pekerjaannya sudah dilakukan duluan. Pengarapannya mencapai 10%, kalau 43% berarti pekerjaannya sudah 50-60%, pembayaran biasanya selalu mundur, pre finance, dibayarkan oleh kontraktor dahulu baru dibayar oleh pemerintah,” kata Mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu kepada wartawan di Jakarta,16/11

Menurut ekonom UGM ini, realisasi APBN hingga 7 November 2011 kelihatannya lebih baik ketimbang tahun lalu. Apalagi belanja modal sudah mencapai 43%. Jadi ini ada perbaikan dari tahun lalu. “Jadi saya tidak terlalu worry, memang harusnya lebih cepat, tahun depan harusnya 50% di awal tahun jadi di akhir sisa-sisanya,’ tambahnya.

Sekum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) ini berharap mudah–mudahan APBN bisa berkelanjutan. Dan Anggito sangat mengharapkan pada kuartal ke empat APBN mencapai 50%. “Walaupun Ini tidak akan sehat, tapi dari catatannya ini lebih baik dari tahun lalu yang sangat seret,” tegasnya.

Saat ditanya wartawan soal perbandingan serapan angaran, Aanggito mengatakan, serapan semua anggaran lebih baik dari tahun lalu. Namun tahun depan harus lebih baik lago. “Jangan sampai pencairan dilakukan pada akhir tahun sampai 40%,”paparnya

Di tambahkan Anggito, krisis eropa pasti berdampak, negatif dan positif. Kalau dilihat penerbitan obligasi global kemarin malam justru kita mendapatkan kelebihan permintaan sampai 6 kali. Sehingga yield bisa sampai 4%. “Kita berarti dapat rezeki dari krisis eropa yang mengakibatkan pemodal lari ke Indonesia. Kalau diteruskan akan baik. Pemodal di Eropa akan berpikir hati-hati. Kita bisa mendapatkan dana murah,”tuturnya

Namun kata Anggito, pemerintah belum bisa memanfaatkan momentum krisis. Karena uang masuk ke pasar modal dan obligasi, itu tidak akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Kecuali uangnya masuk ke sector riil. “Kalau hanya biayai pasar modal akan menjadi bubble, ketinggian nilainya, hanya berputar di pasar uang, tidak masuk ke sector riil dan menambah lapangan pekerjaan. Jadi kita kehilangan kesempatan. Uang banyak masuk tapi tidak langsung terkait dengan sector riil.

Harusnya, kata Anggito, jangan sampai hanya ke pasar modal dan pasar uang yang tidak berdampak pada sector riil. Buktinya tahun ini kita bisa menerima arus modal sampai 25 miliar dolar, cadangan devisa 130 miliar dolaar, itu sangat besar. Tapi hanya untuk stabilisasi saja. Itu yang saya bilang kita kehilangan kesempatan untuk memacu pertumbuhan ekonomi lebih dari yang didapat sekarang. Anggito menambahkan IPO harus dilakukan dan infrastruktur harus digenjot, uang jangan hanya nyantol saja dan jangan dibuat dalam jangka pendek.

Di saat di tanyakan soal CAFTA, Anggito mengatakan kalau globalisasi itu regionalisasi ikut saja, tapi harus dipilah lagi, mana yang merugikan dikurangi yang menguntungkan dijajaki saja. “Keuntungannya di Asia Pasifik ada Tapi apakah dapat menguntungkan secara maksimal atau tidak,” pungkasnya. **sahlan/cahyo

BERITA TERKAIT

APBN 2020 Fokus ke Penguatan SDM dan Perlindungan Sosial

  NERACA   Jakarta - Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 akan lebih berfokus…

Investasi Pasca Pilpres Bisa Segera Tumbuh, Asal…

Investasi Pasca Pilpres Bisa Segera Tumbuh, Asal… NERACA Jakarta - Sejumlah pengamat meyakini pilpres 2019 sangat membawa pengaruh pada kondisi…

Olahraga Secara Rutin Bisa Cegah Cacat Saat Tua

Kehilangan kemampuan bergerak melakukan aktivitas sehari-hari merupakan masalah yang banyak dialami orang tua. Untuk mencegah masalah kemampuan gerak ini, peneliti…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Kementerian Ragu Gunakan Anggaran, Alihkan Saja ke PUPR

NERACABogor - Presiden Joko Widodo meminta Menteri Keuangan Sri Mulyani mengalihkan anggaran kementerian, yang masih ragu ke Kementerian Pekerjaan Umum…

Defisit APBN Capai Rp102 Triliun

    NERACA   Jakarta - Kementerian Keuangan mencatat defisit APBN hingga 31 Maret 2019 mencapai Rp102 triliun atau 0,63…

Pemerintah Bakal Naikkan Iuran - Tekan Defisit BPJS Kesehatan

      NERACA   Jakarta – Pemerintah dalam hal ini Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan tengah mengkaji kenaikan iuran…