Kenaikan Harga BBM Lewat Putusan Politik

NERACA

Jakarta---Wacana kenaikan harga BBM bersubsidi sebesar Rp 1.000/liter terus didengungkan. Namun keputusan penentuan kenaikan harga BBM bersubsidi itu bukan kewenangan Kementerian ESDM. Alasanya perlu ada persetujuan Menteri Keuangan, Presiden, dan DPR. "Menteri ESDM tidak bisa ambil Keputusan politik kenaikan harga BBM karena ini keputusan politik. Harus berunding dulu dengan Menkeu, Presiden, dan DPR," kata Menteri ESDM Jero Wacik kepada wartawan di Jakarta, Rabu (16/11)

Lebih jauh Jero menambahkan usulan kenaikan harga BBM subsidi Rp 1.000/liter yang disampaikan oleh Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo merupakan hitung-hitungan awal saja. "Belum ada pikiran menaikkan harga BBM. Menteri ESDM saja tidak bisa ambil keputusan. Tidak bisa tanpa persetujuan DPR," jelasnya.

Menurut Jero, pernyataan Wamen ESDM Widjajono merupakan hasil dari analisa yang diminta soal cara menekan subsidi BBM yang nilainya sudah terlalu tinggi. Sebelumnya memang Wamen ESDM sempat menyampaikan ide-ide agresifnya soal bidang energi. Bahkan diusulkan harga BBM bersubsidi jenis Premium dinaikkan Rp 1000/liter menjadi Rp 5500/liter bagi orang yang mampu namun tidak mau membeli Pertamax.

Untuk mencegah melonjaknya inflasi, Widjajono mengatakan hal tersebut bisa dilakukan dengan menerapkan sistem cash back kepada transportasi umum atau angkutan barang yang juga dinaikkan menjadi Rp 5.500 ketika membeli BBM bersubsidi.

Ditempat terpisah, Wakil Ketua Komisi XI Harry Azhar Aziz mengatakan wacana menaikkan BBM subsidi sebesar Rp1.000 per liter di 2012 mendatang akan mengakibatkan penambahan inflasi sebesar 1% per tahun. "Kenaikan Rp1.000-Rp1.500 liter akan menyebabkan penambahan inflasi tahunan sekira 1%-1,2%, jadi inflasi tahun depan bisa di angka enam persen," ujarnya

Menurut Harry, pembatasan kuota BBM subsidi atau mengatur siapa-siapa saja yang dapat menikmati “bensin murah” ini memang lebih mudah dilakukan pemerintah ketimbang menaikkan harganya. "Membatasi kuota atau melakukan pengaturan, risiko inflasinya lebih kecil," tambahnya

Sebelumnya, Deputi Direktorat Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa prediksi angka inflasi di tahun depan sebesar 4,7% dibuat Bank Sentral telah mempertimbangkan sejumlah alasan seperti kenaikan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 10%.

BI sendiri sependapat dengan Harry, pemerintah, lebih akan memilih opsi pembatasan BBM subsidi ketimbang menaikkan harganya. "BBM subsidi akan naik itu sudah dilakukan bertahun-tahun lalu tetapi hanya wacana saja. Kami sendiri melihat ke depan, pembatasan kuota BBM subsidi lebih mudah dilakukan di 2012," ujar Perry.

Seperti diberitakan sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian ESDM berencana menaikkan harga BBM bersubsidi jenis premium sebesar Rp1.000 per liter. Adapun dengan menaikkan harga bensin Rp1.000 per liter, pengguna mobil berkapasitas mesin kecil masih mendapatkan subsidi sebesar Rp3.500 per liter karena harga pertamax saat ini rata-rata mencapai Rp9 ribu per liter.

"Untuk kendaraan transportasi umum dan barang, kami mengusulkan penggunaan sistem uang kembali (cashback) sebagai kendali subsidi dan pencegahan terjadinya inflasi. Mekanisme pengembalian dilakukan dengan mengembalikan langsung uang kepada pemilik mobil di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sesuai dengan struk pembayaran," tandasnya

Sementara mobil dengan kapasitas mesin besar dilarang menggunakan BBM subsidi ini. Dirinya melanjutkan, pemerintah dan Komisi VII DPR RI sedang menggodok agar ide ini segera diterbitkan agar kuota BBM bersubsidi yang telah ditetapkan tidak bobol. **cahyo

BERITA TERKAIT

HARGA BAWANG NAIK

Sejumlah warga membeli bawang di salah satu pedagang musiman di Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (24/4). Harga bawang di Palu baik…

Hasil Penelitian: Masyarakat Masih Permisif Pada Politik Uang

Hasil Penelitian: Masyarakat Masih Permisif Pada Politik Uang NERACA Jakarta - Hasil penelitian Founding Fathers House (FFH) menemukan bahwa 57,75…

JELANG RAMADHAN HARGA TIKET PESAWAT MASIH MAHAL - Menhub Panggil Operator Maskapai Soal Tiket

Jakarta-Harga tiket pesawat mahal saat ini masih menjadi pembicaraan di kalangan masyarakat. Apalagi menjelang Ramadhan 2019, moda udara diprediksi masih…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Bank Dunia Proyeksikan Perlambatan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik

      NERACA   Jakarta - Laporan terbaru Bank Dunia memproyeksikan adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang Asia…

Pelabuhan Sebagai Pintu Gerbang Ekonomi Nasional

    NERACA   Jakarta - Sebagai Negara kepulauan, Indonesia menyimpan potensi besar terlebih letaknya yang strategis karena berada di…

Kinerja Penerimaan Pajak Triwulan I Dalam Batas Wajar

  NERACA   Jakarta - Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo menilai kinerja penerimaan pajak dalam…