Besarnya Cicilan Utang Capai Rp79 Triliun

NERACA

Jakarta----Pemerintah mengaku selama Januari hingga November 2011 telah menyicil utang sebesar Rp 79,36 triliun. Ini berarti 74,5% dari target pembayaran utang di 2011 yang sebesar Rp 106,58 triliun telah terbayar.

Dalam siaran persnya, Kementrian Keuangan mengungkapkan pembayaran utang ini masuk ke dalam belanja pemerintah pusat yang realisasi totalnya hingga Rp 594,69 triliun atau 65,5% dari target di 2011 yang mencapai Rp 908,24 triliun.

Berdasarkan catatan, total utang pemerintah Indonesia hingga September 2011 mencapai Rp 1.754,91 triliun. Dalam sebulan jumlah utang itu naik Rp 10,57 triliun dibanding posisi Agustus 2011 yang sebesar Rp 1.744,34 triliun. Dibanding dengan jumlah utang di Desember 2010 yang sebesar Rp 1.676,85 triliun, jumlah utang hingga September 2011 bertambah Rp 78,06 triliun. Secara rasio terhadap PDB, utang RI juga naik dari 27,15% pada Agustus menjadi 27,3% pada September.

Dan jika dihitung dengan denominasi dolar AS, jumlah utang pemerintah hingga September 2011 mencapai US$ 198,9 miliar. Turun dibandingkan per Agustus 2011 yang sebesar US$ 203,35 miliar. Namun utang dalam dolar AS ini lebih tinggi dibandingkan Desember 2010 yang sebesar US$ 186,5 miliar. Utang pemerintah tersebut terdiri dari pinjaman US$ 69,15 miliar dan surat berharga US$ 129,75 miliar. Jika menggunakan PDB Indonesia yang sebesar Rp 6.422,9 triliun, maka rasio utang Indonesia per September 2011 tercatat sebesar 27,3%.

Namun Dirjen Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto mengatakan pemerintah juga akan menerbitkan Surat Utang US$ 1 Miliar "Berbunga" 4%. Alasanya guna menutupi defisit anggaran tahun ini, pemerintah menerbitkan surat utang syariah (sukuk) global senilai US$ 1 miliar atau Rp 8,5 triliun dengan bunga atau kupon 4%. "Pemerintah Indonesia melalui SPV Perusahaan Penerbit SBSN Indonesia-2 telah melakukan pricing global sukuk senilai US$ 1 miliar dengan tenor 7 tahun, harga pada yield/kupon 4%," katanya

Menurut Rahmat, selama penawaran surat utang dolar ini, permintaan dari 250 investor mencapai US$ 6,5 miliar. Sementara yang diterima pemerintah hanya US$ 1 miliar. "Tujuan penerbitan ini adalah untuk memenuhi target pembiayaan APBN 2011 dan untuk diversifikasi instrumen pembiayaan APBN dan mengembangkan pasar sukuk Idonesia di pasar keuangan syariah internasional," kata Rahmat.

Adapun para pembeli surat utang ini sebanyak 30% adalah investor Timur Tengah, 12 investor Indonesia, 18% investor asal Eropa, 32% dari Asia, dan 8% investor asal AS. Jenis investor terbesar pembeli sukuk ini sebanyak 59% adalah Fund Management, dan sisanya bank dan sovereign wealth funds.

Rahmat mengatakan ini adalah penerbitan sukuk global ke dua pemerintah. Sukuk ini akan dicatatkan di bursa Singapura. Penerbitan sukuk ini akan dilakukan 21 November 2011. **cahyo

BERITA TERKAIT

Telan Dana Rp900 miliar, JAYA Ground Breaking Pasar Senen Jaya 1 dan 2

    NERACA   Jakarta - PT Pembangunan Jaya (JAYA) melakukan ground breaking proyek Senen Jaya 1 dan 2. Proyek…

Industri Plastik Tumbuh dengan Inovasi dan Teknologi - Pameran Plastics and Rubber Indonesia 2019

        NERACA   Jakarta – Pameran Plastics & Rubber Indonesia kembali digelar di Jakarta Internastional Expo Kemayoran…

DPR Dukung Pengembangan Program Kementan

  NERACA   Jakarta - Anggota Komisi IV DPR RI, Mindo Sianipar mendukung program-program kementan termasuk pembentukan Komando Strategis Pembangunan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Enesis Group Genjot Penjualan Antis

  NERACA   Jakarta - Enesis Group melalui unit usahanya PT Herlina Indah yang bergerak pada bisnis produk perawatan pribadi…

PUPR Masih Yakin Konektivitas Dorong Investasi

  NERACA   Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat atau PUPR masih meyakini konektivitas yang baik akan mendorong…

Telan Dana Rp900 miliar, JAYA Ground Breaking Pasar Senen Jaya 1 dan 2

    NERACA   Jakarta - PT Pembangunan Jaya (JAYA) melakukan ground breaking proyek Senen Jaya 1 dan 2. Proyek…