AASI Harap Penetrasi Asuransi Syariah Capai 1%

NERACA

Jakarta - Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) berharap penetrasi asuransi syariah bisa mencapai lebih dari 1 persen terhadap jumlah penduduk di negeri ini. "Penetrasi asuransi syariah masih sebesar 0,095 persen terhadap jumlah penduduk Indonesia. Ini dirasakan masih sangat rendah, seharusnya bisa mencapai sekitar 1 persen jika melihat potensi yang ada," kata Ketua AASI Taufik Marjuniadi, seperti dikutip Antara, kemarin.

Taufik mengatakan penetrasi yang masih rendah ini dapat disiasati dengan sosialisasi tentang produk asuransi syariah kepada masyarakat secara berkala dan berkesinambungan serta usaha diversifikasi atau inovasi produk yang berlandaskan keunggulan dan kemudahan manfaat untuk pemegang polis.

Menurut dia, kapasitas sumber daya manusia untuk tenaga pemasar asuransi syariah juga perlu ditingkatkan agar penetrasi pada angka 1 persen dapat tercapai di akhir tahun. "Tenaga pemasar harus bisa menjelaskan perbedaan seperti apa antara asuransi syariah dan konvensional. Bukan hanya sekadar dibacakan akad, tetapi juga kelebihan sistem syariahnya," ujar Taufik.

Secara keseluruhan, AASI menilai pertumbuhan asuransi syariah tetap menunjukkan performa yang positif di tengah lesunya perekonomian Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari pertumbuhan aset asuransi syariah sebesar 21,69 persen, investasi sebesar 23,64 persen dan pertumbuhan kontribusi pada 2016 sebesar 10,25 persen per Maret 2016. Pertumbuhan kontribusi tersebut menjadi awal yang baik pada 2016 dengan target pertumbuhan yang diharapkan bisa mencapai lebih dari 20 persen hingga akhir tahun.

Berdasarkan laporan Otoritas Jasa Keuangan, pangsa pasar asuransi syariah di industri asuransi nasional masih berkisar 5,79 persen dan diharapkan peningkatan kontribusi si asuransi jiwa syariah semakin membaik. Saat ini pangsa pasar "market share" asuransi syariah pada 2016 di sisi aset dan investasi di industri asuransi nasional dapat dikatakan cukup baik, yakni masing-masing mencapai angka 5,63 persen dan 6,56 persen.

Penetrasi asuransi syariah terhadap populasi di Indonesia masih relatif kecil. Perusahaan syariah menyebut kecilnya penetrasi asuransi syariah disebabkan oleh kurangnya sosialisasi kepada masyarakat. "Market besar sekali. Kami, perusahaan asuransi, tidak mampu melakukan sosialisasi sendirian," kata Direktur Utama Adira Insurance, Indra Baruna.

Indra mengatakan sosialisasi tentang asuransi syariah tak bisa dilakukan oleh perusahaan asuransi. Hal ini memerlukan kerja sama dari berbagai pihak untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang produk keuangan syariah ini. "Sosialisasi harus dilakukan bersama," kata dia.

Indra menampik anggapan yang menyebut sulitnya perizinan dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) yang membuat penetrasi asuransi syariah kecil sekali. Menurut dia, tidaklah sulit mendapatkan izin asuransi syariah dari DSN MUI. Saat mengajukan produk asuransi syariah, lembaga ini akan memverifikasi apakah asuransi keuangan syariahnya sudah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. "Kalau sesuai aturan, nggak ribet," kata dia.

Related posts