Krisis Panjang dan Diversifikasi Ekspor

Oleh: A Eko Cahyono

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Krisis utang yang melanda Eropa kemungkinan membutuhkan waktu panjang untuk pemulihannya. Kondisi seperti ini harus mendorong Indonesia untuk segera melakukan diversifikasi ekspor. Caranya, mencari negara-negara tujuan ekspor lain di luar Eropa. Bahkan kalau perlu yang tak terkena dampak krisis Eropa.

Dengan laju pertumbuhan hanya 1%-2% per tahun. Maka Eropa diperkirakan butuh waktu 10 tahun untuk bangkit. Apalagi Eropa juga diharuskan mengetatkan kebijakan fiskal. Maka pertumbuhan ekonomi Eropa akan tertekan pada tahun-tahun mendatang, sehingga penurunan daya beli tak terelakan lagi. Karena itu harus dicari pasar lain untuk ekspor produk-produk nasional

Saat ini, ekspor non-migas Indonesia ke beberapa negara Eropa mencapai 12% dari total ekspor non-migas. Ini setara dengan ekspor ke Jepang dan lebih besar dari ekspor ke China dan Amerika Serikat yang sebesar 10%. Jepang, Eropa, China, dan Amerika Serikat menjadi empat kawasan tujuan ekspor non-migas terbesar Indonesia yaitu sebesar 45%. Lalu diikuti oleh India, Singapura, Malaysia, dan Korea. Mestinya, pasar ke Rusia dan Amerika Latin perlu dibuka

Penurunan daya beli Eropa yang merupakan pasar ekspor terbesar China akan membuat negara tersebut mencari pasar baru. Ujung-ujungnya mengancam barang-barang ekspor Indonesia di luar negeri dan dalam negeri. Lambatnya pemulihan Eropa juga dikhawatirkan mengganggu pemulihan Amerika Serikat yang merupakan pasar penting juga bagi Indonesia dan China. Karena itulah diversifikasi menjadi penting,

Yang jelas pemerintah jangan sampai terlena hanya mempersiapkan penanganan pada ketahanan modal asing dan hanya dengan mengamankan sektor pasar uang. Pemerintah harus belajar dari krisis 2008. Intinya, jangan melulu memprioritaskan stabilitas pasar uang, tapi juga menjangkarkan perhatian pada penguatan ekonomi domestik

Dengan ekonomi nasional yang kuat, pemerintah tidak akan mudah terkena imbas krisis Eropa itu. Bahkan, dengan menguatnya ekonomi domestik, pertumbuhan ekonomi akan stabilized dan tidak menutup kemungkinan semakin progres. Jika pertumbuhan ekonomi membaik, yang ditandai dengan terus bergeraknya sektor riil, maka iklim pasar juga akan membaik. Dengan kondisi iklim pasar yang membaik akan menarik investor, seiring terbentuknya sentimen positif para pelaku pasar dan menguatnya ekonomi domestik

Pengaruh krisis Eropa memang tidak bisa dianggap remeh. Bisa saja imbasnya menjalar ke kawasan Asia. Berdasarkan analisa pemerintah dan Bank Indonesia, bisa memengaruhi perekonomian Indonesia. Di sisi lain krisis sejatinya tidak dilihat secara parsial. Namun harus dilihat secara komprehensif dari segala dimensi ekonomi.

Karena itu penanganan dari sisi pasar uang semata dan menafikan penguatan sektor riil domestik, akan membuat pemerintah mengalami shock bila krisis Eropa merambah ke sektor-sektor yang tak pernah diduga sebelumnya, yang bersifat non moneter.

BERITA TERKAIT

Punya Daya Saing Global, Ekspor Mainan Lampaui US$319 Juta

NERACA Jakarta – Industri mainan menjadi salah satu sektor manufaktur yang mampu memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. Ini tercermin…

Pengusaha Diminta Gali Potensi Komoditas Pertanian Ekspor

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) meminta para eksportir bisa menggali potensi berbagai komoditas pertanian yang…

LIPI: Konservasi Lingkungan Perlu Komitmen dan Penegakan Hukum

LIPI: Konservasi Lingkungan Perlu Komitmen dan Penegakan Hukum NERACA Jakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menuturkan konservasi lingkungan memerlukan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Hasil Ekspor untuk Biayai Investasi

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Pikiran besar yang sudah lama disampaikan oleh Stiglitz mengenai perlunya melakukan reformasi…

Siap Menang, Tidak Siap Kalah

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo    Proses panjang hajatan pesta demokrasi telah usai…

Bangun Karakter di Keuangan Syariah

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi SyariahMeski sudah berjalan selama dua dekade lebih keberadaan dari praktik lembaga keuangan syariah (LKS),…