Dongkrak UKM Bisa Tekan Kemiskinan

NERACA

Jakarta----Bank Indonesia mendorong pengurangan tingkat kemiskinan sebanyak 5% pada 2013 melalui cara peningkatkan akses pembiayaan kepada kaum miskin. "Salah satu bagian di mana Bank Indonesia akan berkontribusi dalam memberikan akses kepada penduduk yang berpendapatan rendah dan miskin, adalah kebijakan inklusif finansial untuk sektor pembiayaan, khususnya perbankan, termasuk di dalamnya pembiayaan Islami," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyah kepada wartawan di Jakarta,13/11

Menurut Halim, pembiayaan mikro Islami berperan dalam pemerataan kekayaan dan peningkatan kesejahteraan dengan menjadi sumber dana pendanaan bagi masyarakat yang membutuhkan berdasarkan prinsip-prinsip syariah. “Pembiayaan mikro mendorong peningkatan kesejahteraan,”tambahnya.

Berdasarkan catatan BI, total populasi Indonesia saat ini sekitar 235 juta orang. Namun 13% berada dibawah garis kemiskinan. Jumlah ini terbilang cukup besar dan hampir serupa dengan negara-negara yang tergabung dalam Developing Eight D-8 yakni Bangladesh, Pakistan, Iran, Malaysia, Mesir, Nigeria, dan Turki. Menurut data World Bank tahun 2007, sebesar 60% penduduk Indonesia adalah yang tidak mempunyai akses pembiayaan.

Lebih jauh kata Halim, pembiayaan ini bukan hanya saja mengurangi kemiskinan. Tapi juga membantu pemerataan kesejahteraan. Peran pembiyaan ini dinilai cukup signifikan terhadap usaha kecil dan menengah (UKM). Apalagi sebanyak 47% dari angkatan kerja bekerja pada sektor ini. Besarnya usaha yang bergerak disektor ini juga ditunjukan dengan aset bersih UKM yang mencapai Rp 500 juta yang berkontribusi terhadap 56% dari PDB. Jika bisnis UKM ini bisa dibiyai dengan pembiayaan mikro maka akan terjadi efek ganda bagi masyarakat.

Halim mengaku saat ini makin banyak lembaga pembiayaan mikro Islami di masyarakat. Baik bank maupun non bank, seperti Baitul Maal Wa-Tamwil (BMT) dan BPRS (Bank Perkreditan Syariah). Pembiayaan melalui BPRS tidak hanya berasal dari bank itu sendiri namun juga bisa bekerja sama dengan bank komersial lainnya. ”Total aset BPRS mencapai Rp 3 triliun, dengan total pembiayaan sebesar Rp 2,33 triliun,” lanjutnya.

Data BI menyebutkan sampai semester I tahun 2011 Layanan BPRS semakin meluas dengan total 154 unit cabang dan 299 kantor cabang. dengan keberadaan pembiayaan Islami ini benar-benar membantu sektor riil ditunjukan dengan partisipasi aktif bank syariah untuk membiayai UKM. Industri perbankan sendiri telah mengeluarkan dana sebesar 76% dari total pembiayaan untuk sektor UKM. Hingga Juni 2011 Hanya 24% untuk pembiyaan perusahaan besar. ”Karena UKM adalah industri padat karya, maka keputusan pembiayaan oleh industri perbankan syariah tentu membantu ekonomi bangsa untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran,” tegas Halim. *bari/cahyo

BERITA TERKAIT

Polemik Pemilih Tetap, Kemendagri Tidak Bisa Intervensi

  Oleh : Ahmad Bustomi, Pemerhati Sosial Politik dan Ekonomi Dirjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri, Zudan Arif Fakrulloh dikritik oleh…

AMMDes Bisa Diaplikasikan dengan Alat Pembuat Es Serpihan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian secara konsisten dan berkelanjutan terus mendorong pemanfaatan dan pengembangan Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes) untuk…

Selain untuk Pertanian, AMMDes Juga Bisa Jadi ‘Feeder’ Ambulans

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong pengembangan teknologi Alat Mekanik Multifungsi Pedesaan (AMMDes) agar bisa dimanfaatkan di berbagai daerah…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Anehnya Boikot Uni Eropa Terhadap Sawit Indonesia

      NERACA   Jakarta – Industri kelapa sawit Indonesia menjadi penopang terhadap perekonomian. Data dari Direktorat Jenderal Pajak…

Meski Naik, Struktur Utang Indonesia Dinilai Sehat

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai struktur utang luar negeri (ULN) Indonesia yang naik 4,8 miliar…

Pentingnya Inklusivitas Sosial untuk Pertumbuhan Berkualitas

    NERACA   Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan, inklusivitas sosial atau memastikan seluruh warga mendapatkan…