AS Respon Positif Ekonomi Indonesia

NERACA

Honolulu---Sejumlah perusahaan raksasa AS meyakini perkembangan ekonomi Indonesia sangat bagus. Karena itu kepercayaan asing merupakan modal utama guna mendongkrak invetasi. "Kepercayaan itu disampaikan oleh kalangan bisnis terkemuka Amerika Serikat dalam pertemuan APEC CEO Summit 2011, antara lain dari Freeport McMoran, Cargil, Caterpillar, dan Procter & Gamble," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Hawaii,13/11.

Lebih jauh Kepala Negara menambahkan pandangan positif dunia terhadap Indonesia menandakan citra Indonesia di luar negeri sudah berubah membaik. "Melihat `performance` ekonomi Indonesia dan dibicarakan di mana-mana, nampaknya banyak sahabat, partner-partner kerja sama yang sudah berinvestasi di Indonesia ingin meningkatkan dan yang belum ingin investasi bekerja sama," tambahnya

Presiden mengungkapkan hal tersebut harus dipandang sebagai peluang untuk memobilisasi modal yang tidak boleh disia-siakan. " Ini modal karena kalau dunia sudah tidak percaya pada ekonomi suatu negara maka opsinya tentu tidak banyak," terangnya

Meski demikian, Kepala Negara menyatakan, kesempatan pertama untuk memobilisasi modal pembangunan tetap akan diberikan kepada para pemodal dalam negeri, termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Apabila masih terjadi kekurangan modal, kata Presiden, maka kemitraan dengan negara-negara sahabat bisa dijadikan opsi dengan persyaratan mendatangkan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat. Di antara perusahaan terkemuka AS yang sudah menyatakan niat menambah investasi adalah Freeport-McMoran senilai 10 miliar dolar AS, Caterpillar, dan Cargil.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan Indonesia secara tegas menolak kerja sama Transpasifik yang digalang oleh Amerika Serikat. Alasanya pihaknya mempertingkan lebih dahulu. "Kita ditawari, negara-negara `founding`nya (pendirinya,red) termasuk Brunei dan Amerika Serikat. Sudah ada empat negara dari ASEAN yang mengambil sikap untuk masuk, yaitu Brunei, Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Tentunya sikap mereka berbeda dengan sikap kita untuk sementara," paparnya

Menurut Gita, Indonesiaharus memeriksa kesiapan industri dalam negeri dan memastikan bisa mengirim produk serta jasa yang berskala sesuai dengan penurunan tarif yang disetujui dalam setiap kesepakatan perdagangan bebas. "Makanya ke depan kita harus lebih komunikasi dengan kementerian terkait untuk ``make sure`(supaya pasti,red) kita bisa mengukur parameter industri kita sudah terpenuhi atau tidak. Kalau belum, jangan buka-bukaan," tegasnya

Lebih jauh kata mantan Kepala BKPM, APEC harus dikembalikan pada jalurnya sebagai forum komunitas seperti layaknya ASEAN. Karena APECbukan forum untuk berunding dan harus mengedepankan semangat pembangunan kapasitas seperti yang tercantum dalam Bogor Goals yang disepakati pada 1994. "Ini kan sudah mungkin kelihatan dipakai oleh beberapa anggota sebagai forum negosiasi. Saya rasa itu harus dijaga jangan seperti itu ke depan dan juga ada semangat-semangat lainnya seperti `capacity building` yang harus dijunjung tinggi, jangan hanya liberalisasi untuk `trade and investement saja," tutur Gita.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Barack Obama sempat mengungkapkan kerja sama Transpasifik diharapkan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi melalui pengurangan hambatan perdagangan dan investasi, meningkatkan ekspor, dan menciptakan lapangan kerja bagi para pengangguran. "Trans Pacific Partnership akan mengangkat ekonomi an menciptakan lebih banyak pekerjaan kepada masyarakat,” ngkapnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Dekonsolidasi Positif Bagi Meikarta dan LPCK

NERACA Jakarta – Aksi korporasi PT Lippo Cikarang Tbk mendekonsolidasi PT Mahkota Sentosa Utama (MSU), pengembang proyek mega properti Meikarta…

Gejolak Persaingan Ekonomi Global vs Cashflow yang Sehat - Studi Kasus Unrealized loss PLN

  Oleh: Sudimara Pati, Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Swasta Belakangan kita diberitakan bahwa Perusahaan Listrik Negara (PT PLN) milik BUMN…

IKM Jadi Tulang Punggung Ekonomi Nasional

NERACA Jakarta – Industri kecil dan menengah (IKM) berperan menjadi tulang punggung terhadap perekonomian nasional. Sebab, IKM sebagai sektor mayoritas…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Mengganti Terigu Impor dengan Produk Buatan Lokal - Teknologi Pangan

        NERACA   Bogor - Mie memang menjadi santapan favorit masyarakat Indonesia, tanpa pandang usia. Sayangnya mie…

Mewaspadai Inflasi Di Akhir Tahun

      NERACA   Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai ancaman…

LPEI Mendorong BUMN Ekspor ke Pasar Prospektif

    NERACA   Jakarta – Pasar prospektif menjadi salah satu alternatif negara tujuan untuk memperluas ekspor di samping Cina…