Kontribusi Bursa Terhadap PDB

Oleh : Dr. Agus S. Irfani

Lektor Kepala FE Univ. Pancasila

Bursa efek sebagai alternatif sumber pendanaan bagi perusahaan dan sebagai tempat berinvestasi bagi investor memiliki peranan penting dalam pembangunan ekonomi suatu negara, terutama pada pengembangan aspek permodalan yang menopang kinerja sektor riil dalam pembentukan produk domestik bruto (PDB) dan pengembangan aspek investasi di sektor keuangan.

Secara teknikal, Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki pertumbuhan kinerja yang menggembirakan selama lima tahun terakhir. Dari perkembangan indeks harga saham gabungan (IHSG) sebagai indikator utama bursa, BEI mencetak pertumbuhan rata-rata 226% dari 1.162,64 pada akhir 2006 menjadi 3.790,85 pada Nov. 2011. Begitu pula dengan pertumbuhan kapitalisasi pasar BEI yang mencapai rata-rata 350% selama periode yang sama dari Rp801,25 triliun menjadi Rp3.609 triliun. Bank Dunia menyatakan pertumbuhan kinerja BEI pada periode tersebut sebagai yang terbaik di antara bursa kawasan Asia.

Permasalahannya adalah secara fundamental, seberapa besar peranan BEI terhadap perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan rasio kapitalisasi pasar terhadap PDB (RKPP). Data dari Bank Dunia danInternational Monetary Fund(IMF) menunjukkan bahwa RKPP Indonesia selama 2006-2011 cenderung meningkat, yaitu 38,1% (2006), 49.0% (2007), 19.4% (2008), 33.0% (2009), 51.0% (2010), dan 52% (2011). Penurunan RKPP di tahun 2008 terjadi hampir di semua bursa dunia.

Angka RKPP Indonesia tersebut ternyata yang terendah di kawasan Asia, bahkan hanya 28% dari RKPP Malaysia dan hanya 19% dari RKPP Singapura. RKPP Malaysia periode yang sama rata-rata di atas 100%, bahkan pada 2011 mencapai 189% . Hal yang sama juga di bursa Singapura rata-rata di atas 160%, bahkan pada tahun ini mencapai 272,5% .

Realitas ini sungguh mengagetkan, betapa hebatnya pertumbuhan kinerja teknikal BEI yang ternyata secara fundamental masih lemah. Dari fakta ini mungkin terpikir oleh kita jangan-jangan besarnya RKPP kedua negeri jiran itu dikarenakan oleh kecilnya skala PDB di masing-masing negaranya. Namun setelah diteliti lebih lanjut, ternyata besaran nilai absolut kapitalisasi pasar Malaysia dan Singapura memang lebih besar dibanding Indonesia.

Kecilnya nilai kapitalisasi BEI antara lain disumbang oleh kecilnya jumlah emiten yang terdaftar di bursa dan kecilnya jumlah investor yang bertransaksi di bursa. Dari data yang ada, jumlah emiten di 5 bursa Asia meliputi Singapura 782 emiten, Malaysia 954 emiten, India 5.054 emiten, China 1.220 emiten, Jepang 2.289 emiten, dan Filipina 254 emiten. Ditinjau dari sisi jumlah pemodal, BEI memiliki sekitar 600 ribu investor, atau dibawah 1% dari total populasi nasional. Beda jauh dengan bursa Singapura yang total penduduknya jauh di bawah Indonesia, justru memiliki 1,26 juta investor atau 30% dari populasinya.

Menurut Warren Buffet yang berhasil mendepak posisi Bill Gates sebagai orang terkaya di dunia itu, RKPP selain sebagai indikator kontribusi bursa terhadap perekonomian dapat juga dijadikan sebagai indikator valuasi bursa. RKPP di bawah75% mengindikasikan bursa yangundervalued, RKPP 75%-100%fair valued, dan RKPP di atas 100%overvalued. Dengan RKPP 52% untuk BEI 2011 ini mengindikasikan bahwa bursa kita masih jauh dari kondisi bubble.Artinya,nilai kapitalisasi pasar dan harga saham di BEI masih terlalu rendah dari nilai fundamentalnya. Masih ada peluang di tahun depan BEI meningkatkan fair value-nya. Semoga!

BERITA TERKAIT

Penjualan PP Properti Proyeksikan Tumbuh 60% - Hotel dan Residensial Beri Kontribusi

NERACA Jakarta – Jelang tutup tahun yang tinggal dua bulan lagi, PT PP Properti Tbk (PPRO) terus bergerilya untuk memenuhi…

Indonesia Defisit 2.500 Tenaga Pialang - Bursa Berjangka Belum Optimal

NERACA Palembang – Mendorong Indonesia menjadi tuan di rumah sendiri dalam acuan harga komoditas dunia dan mensejahterakan para petani, merupakan…

Donor Darah dan Bursa Uang Kuno di MDS

Donor Darah dan Bursa Uang Kuno di MDS NERACA Jakarta - Pengelola Trade Mall Mangga Dua Square (MDS) kembali  menggelar…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Perlukah Pemerintah Memberi Tunjangan Profesi Wartawan?

Oleh: D.Dj. Kliwantoro Pemerintah telah memberi tunjangan profesi dan tunjangan khusus guru, baik yang berstatus pegawai negeri sipil maupun bukan…

Solusi Alami Kendalikan Pemanasan Global di Indonesia

Oleh: Genta Tenri Mawangi Pemanasan global telah menjadi masalah masyarakat dunia, karena dampaknya dianggap tengah terjadi di banyak negara. Dalam beberapa…

Budaya Kerja Ala Jokowi

  Oleh : Indah Rahmawati Salam, Peneliti di Lembaga Kajian Arus Pembangunan  Presiden RI ke-7 yaitu Ir.H.Joko Widodo atau biasa…